Suami-Istri asal Australia Bantu Anak Terlantar di Maluku

Nasional

Jumat, 14 Februari 2020 | 07:51 WIB

200214075132-suami.jpg

ANAK-ANAK terlantar dan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Maluku Utara mendapatkan secercah harapan untuk masa depan melalui uluran tangan pasangan dari Australia, Peter dan Esther Scarborough.

Sering interaksi dengan sukarelawan, anak-anak mahir Bahasa Inggris
Dalam organisasi bernama Hohidiai, kata dalam bahasa Maluku yang berarti "tempat pemulihan", masyarakat di Halmahera bisa berobat dan sekolah gratis meski masih ada kekurangan listrik maupun internet.

"Orang-orang di sana yang memilih namanya," kata Esther yang mendirikan lembaga swadaya masyarakat tersebut bersama suaminya, Peter.

Esther yang pernah bekerja sebagai perawat di Australia pindah ke Malang di tahun 1994 untuk menemani suaminya yang bekerja di sebuah sekolah internasional.

Ia pernah menjadi sukarelawan di Aceh pasca tsunami tahun 2004 dan di Yogyakarta pasca gempa bumi di tahun 2006.

Ketika tinggal di Malang, Esther sebagai ibu rumah tangga sering bergaul dengan orang-orang Indonesia dan kelamaan jatuh cinta pada keramahan mereka.

"Saya suka sekali orang Indonesia," kata Esther kutiv vivanews.

"Jadi melihat ada orang miskin yang menderita di negara mereka memunculkan keinginan dalam diri saya untuk menolong orang-orang di kelas sosial seperti mereka."

Berbekal keinginan kuat untuk menolong orang-orang yang kurang mampu dan miskin, Esther akhirnya mendirikan Yayasan Hohidiai di tahun 2001.

Memang kesempatan untuk menolong warga Indonesia tersebut dilihatnya di Maluku Utara saat itu.

Saat ini, Hohidiai sudah memiliki fasilitas kesehatan, rumah keluarga yang dapat menampung empat sampai delapan anak, dan sekolah hingga tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Jumlah anak-anak yang menerima pertolongan dari Hohidiai meningkat dari tahun ke tahun sejak 19 tahun yang lalu hingga melebihi 20 orang terhitung tahun ini.

Dalam membantu anak-anak di Maluku Utara ini, Esther dan Peter mendahulukan mereka yang membutuhkan pertolongan segera.

"Kami ingin agar anak-anak bisa tinggal di dalam keluarga bila memungkinkan. Kami tidak asal menerima anak-anak tanpa pertimbangan yang mendalam. Perkara dari anak tersebut harus serius," kata dia.

"Contohnya anak-anak dari latarbelakang kekerasan atau penelantaran, ini akan kami bantu."

Di sisi lain, klinik di Hohidiai menerima pasien-pasien yang tidak diterima di rumah sakit di sana.

"Kami menerima pasien yang tidak diinginkan (rumah sakit), seperti penderita tuberkulosis akut, pengidap HIV dan kusta. Kami mau menolong mereka semua," kata Esther.

Anak-anak mahir Bahasa Inggris Esther dan Peter Scarborough Peter dan Esther Scarborough memiliki rasa simpati besar bagi orang-orang yang kurang mampu dan kekurangan.

Demi akses meluas ke ilmu pengetahuan dari segala penjuru dunia, Esther mewajibkan para siswa di Hohidiai untuk berbicara dalam Bahasa Inggris.

"(Sejak awal) kami memang ingin anak-anak bisa berbahasa Inggris supaya bisa membaca dan mengerti ilmu pengetahuan di dunia secara keseluruhan."

Kini, anak-anak di Hohidiai sudah menggunakan Bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari. Salah satunya bahkan sudah ditawarkan pekerjaan karena mahir dalam bahasa tersebut.

Kunjungan sukarelawan dari luar negeri seperti Australia, Amerika Serikat, Inggris dan Singapura menurut Esther juga mendorong anak-anak untuk berbicara dalam bahasa tersebut.

"Pengunjung dari luar Indonesia yang datang sering berbicara dengan mereka, dan menurut saya ini membantu."

Editor: Rosyad Abdullah

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR