Heboh Penemuan Arca Ganesha dan Polynesia di Tasikmalaya Mulai Terkuak

Seni & Budaya

Kamis, 13 Februari 2020 | 17:57 WIB

200213175824-heboh.jpg

Kiki Kurnia

HEBOH penemuan arca Ganesha dan polynesia di kawasan Objek Wisata Batu Mahpar, Kampung Tegalmunding, Desa Linggawangi, Kecamatan Leuwisari, Kabupaten Tasikmalaya, mulai terkuak. Bahwa penemuan arca, terutama arca Ganesha masih diragukan keasliannya, arca tersebut mirip patung gajah.


"Kalau melihat sebuah komponen yang dimiliki seorang tokoh (Ganesha) yang ada dalam agama tertentu, salah satunya adalah gading. Dalam tokoh Ganesha, salah satu gadingnya patah. Kalau yang di Tasik, kedua gadingnya utuh," ungkap Kepala UPTD Pengelolaan Kebudayaan Jawa Barat, Erick Henriana melalui Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman di UPTD Pengelolaan Kebudayaan Jawa Barat Eddy Sunarto, kepada wartawan di Museum Sri Baduga, Jabar, Kamis (13/2/2020).

Selain itu lanjut Eddy, arca tersebut (gajah) dalam komposisinya bukan penggambaran Ganesha yang sedang duduk. Kalau dilihat kata dia, arca tersebut adalah patung gajah.

"Namun untuk mengetahui lebih lanjut, kami akan melakukan penelitian langsun ke lapangan pada Selasa (18/2/2020) depan yang melibatkan arkeolog Unpad Eti sarengendiati dan Miftah, serta Lutfi Yondri dari Balar Bandung dan dari museum Sri Baduga," ujarnya,

Pada kesempatan itu, Eddy pun menjelaskan kriteria penggambaran tokoh Ganesha yakni memiliki empat tangan. Dimana tangan kiri depan memegang cawan dan tangan kiri belakang memegang senjata. Selain itu, tangan kanan depan memegang sesuatu seperti tongkat dan tangan kanan belakang memegang tasbih. Selain itu belalai mengarah ke kiri menuju cawan yang digambarkan haus akan ilmu.

"Yang paling utama gading sebelah kiri patah dan posisi arca Ganesha bisa duduk di atas bunga padma atau berdiri di atas tengkorak, serta pada umumnya memiliki perut buncit dan di bagian kepala terdapat mahkota," terangnya seraya menyebutkan, bahwa tokoh Ganesha dalam agama Hindu merupakan Dewa Pengetahuan, kebijakan dan kecerdasan.

Sedangkan untuk arca polynesia menurut Eddy, arca yang ditemukan guratannya sangat halus dan sempurna sekali. Arca ini kata Eddy merupakan arca jaman pra sejarah, sehingga sangat diragukan jika memiliki guratan yang halus dan sempurna.

"Peta pesebaran transformasi budaya prasejarah dengan tinggalan arca Polynesia sangat diragukan di daerah tersebut (Tasikmalaya). Di Jawa Barat, peta pesebaran arca Polynesia mengarah ke Kuningan dan ciamis, bahkan ke Sukabumi," tambahnya.

Eddy pun menambahkan, sangat jarang dan bahkan tidak mungkin persebaran arca Polynesia dengan arca Ganesha dalam satu tempat. "Kalaupun ada sangat jarang sekali, dan tidak mungkin sama sekali. Namun hal ini tetap harus ada penelitian lebih konfrehensi lagi, bukan hanya objeknya tapi soal persebarannya" tandasnya.

Eddy pun menilai, di kawasan tersebut belum ditemukan ada tempat atau bekas ritus budaya oleh masyarakat jaman dulu. Walaupun demikian, Eddy mengapresiasi kepada pihak yang telah membuat dan menemukan arca yang menghebohkan tersebut. Menurutnya, hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan daya tarik destinasi wisata Batu Mahpar.

"Namun dalam pembuatan arca tersebut jangan membuat berbagai penafsiran dan ada pembiaran penyelewengan sejarah sehingga menimbulkan persepsi di masyarakat," tandasnya.


Eddy menyebutkan, pengelola destinasi wisata boleh saja menambahkan ornamen atau faslitas seperti arca maupun apapun, asalkan ada keterangan yang mebinformasikan ke pengunjung bahwa hal itu sebagai tambahan. Seperti yang dilakukan oleh Pengelola Geopark Gunungsewu, Karangsembung Jawa Tengah.

"Mereka membuat lukisan dinding dalam goa (lukisan goa) yang mirip dengan luklian goa di Maros Sulawesi Selatan. Selain itu ada pula dua bangunan menhir. Namun pengelola dan guidenya mengakui bahwa lukisan goa dan menhir itu hanya untuk menarik wisatawan," tandasnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR