MUI Larang Remaja Rayakan Valentine

Nasional

Kamis, 13 Februari 2020 | 17:41 WIB

200213174127-mui-l.jpg

rdotani.blogspot.com

ilustrasi

MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pandeglang melarang para remaja merayakan hari valentine. Pasalnya, perayaan itu merupakan budaya barat yang bertentangan dengan syariat Islam.

"Saya selaku ketua MUI mengimbau kepada generasi muda atau pelajar agar tidak melaksanakan valentine, karena itu bukan budaya Islam," kata Ketua MUI Pandeglang, Tubagus Hamdi Masni, saat ditemui usai menghadiri rapat koordinasi dengan Forkopimda di Mapolres Pandeglang, Kamis (13/2/2020).

Pihaknya akan mengimbau kepada MUI Kecamatan untuk menyampaikan larangan itu. Nantinya, pihak MUI Kecamatan yang akan menyampaikan langsung kepada masyarakat agar tidak melaksanakan hari valentine bagi remaja.

"Paling kita mengimbau kepada masyarakat lewat MUI kecamatan agar memberikan arahan kepada masyarakat supaya masyarakat nanti menyampaikan kepada putra- putrinya," ujarnya seperti ditulis wartawan Kabar Banten, Ade Taufik.

Menurutnya, apabila orang dewasa yang sudah memiliki hubungan halal, dirinya membolehkan. Namun dirinya tidak memiliki kewenangan untuk melakukan sweeping ke daerah tempat hiburan pada hari valentine.

"Kalau suami istri boleh hari kasih sayang, tapi kalau di luar itu tidak boleh. Kalau untuk sweeping bukan hak kami, kalau begitu nanti kita kerjasama dengan Satpol PP dan Kepolisian," ucapnya.

Dirinya mengaku tidak bisa mengeluarkan fatwa terkait larangan merayakan hari valentine. Pasalnya, yang berwenang adalah komisi fatwa.

"Kalau fatwa saya tidak mengeluarkan, karena itu kewenangannya komisi fatwa, intinya kalau itu digunakan sebagai munkarat saya nyatakan haram," katanya.

Sementara itu, hal hampir senada disampaikan Bupati Pandeglang, Irna Narulita. Ia mengatakan, budaya merayakan hari valentine tersebut merupakan budaya yang bertentangan dengan budaya Islami di Pandeglang.

Namun dirinya tidak bisa melarang itu, sebab hari kasih sayang seharusnya dilakukan setiap hari kepada sanak keluarga dan orang tua.

"Itu kan budaya barat, kalau untuk imbauan ya tidak diimbau, karena hari kasih sayang itu bukan hanya hari itu saja. Kalau dia mau merayakan di rumah mau ngucapin ke kakaknya, orang tuanya, ya tidak apa-apa," katanya.

Irna menilai, dengan mensyukuri kasih sayang orang tua yang telah diberikan kepada anak, tidak harus dirayakan dalam bentuk hari valentine. Adapun untuk pemberian sesuatu yang manis pada hari valentine kepada orang tua bukan hanya dilakukan hari valentine saja.

"Harusnya rasa kasih sayang kita kepada orang tua setiap hari. Kita mensyukuri kasih sayang itu harusnya setiap hari. Apabila keras terhadap mereka juga tidak, tapi kalau berlebihan kita himbau," ucapnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR