Dari Maldini Hingga Laudrup, Siapa Klan Tiga Generasi Lapangan Hijau Paling Mentereng Saat Ini?

Soccer

Kamis, 13 Februari 2020 | 15:23 WIB

200213152320-dari-.jpg

dailymail

Daniel Maldini belum lama ini melakukan debut Serie A untuk AC Milan, mengikuti jejak ayahnya Paolo dan sang kakek Cesare sebagai pemain Il Rossoneri.

Gelandang berusia 18 tahun itu tampil saat Milan bermain imbang 1-1 melawan  Hellas Verona awal bulan lalu sebagai pemain pengganti. Untuk menyamai Paolo, Daniel harus tampil di 645 laga lagi. Tak hanya itu saja, Daniel juga wajib mengantar Milan mengangkat trofi Liga Champions.

Sementara kakeknya, Cesare mencatatkan 347 kali penampilan sejak sejak bergabung pada 1954 hingga 1966. Dan ternyata Maldini bukan satu-satunya klan yang berhasil mencatatkan penampilan tiga generasi di lapangan hijau.

Cesare, kapten pertama Milan yang mengangkat trofi Liga Champions.

Legendary dad, Paolo kini duduk di dewan direktur klub.

Daniele, generasi ketiga Maldini di AC Milan.

Ada berapa dan siapa saja pesepak bola yang masuk klub elite tiga generasi ini? Berikut kompilasinya dari Sportsmail:

ALONSO

Marcos Alonso mungkin berhasil memenangi sejumlah trofi terbaik bersama Chelsea, tapi pencapaiannya tidak seberapa dibandingkan dengan ayah dan kakeknya. Marcos Alonso Imaz yang dua generasi lebih senior dari bek kiri Chelsea merupakan salah satu bek yang sangat sukses bersama Real Madrid.

Ia mencicipi lima gelar La Liga dan lima Piala Eropa selama 1950-an dan 1960-an. Selain mencatatkan  158 penampilan di Los Blancos, ia juga bermain untuk klub Spanyol lainnya seperti Racing Santander, Hercules dan Murcia. Ia juga memperkuat timnas Spanyol.

Marcos Alonso Imaz, defender yang sukses berkarier bersama Real Madrid di tahun 1950-an hingga 60-an.

Marcos Alonso Pena menghadapi Inggris bersama timnas Spanyol di Stadion Wembley tahun 1981.

Putra kebanggaannya, Marcos Alonso Pena juga memiliki karier sepakbola yang tak kalah bersinar di Spanyol. Pemain sayap itu bergabung dengan Atletico Madrid dari Santander pada 1979, sebelum berjersey Barcelona tiga tahun kemudian.

Setelah 128 penampilan untuk klub Catalan dengan memenangi La Liga, Copa del Rey, Piala Super Spanyol dan Piala Liga, ia kembali ke Atletico pada tahun 1987 selama dua musim. Pena mengakhiri karier dengan melatih Rojiblancos di musim 2000/01 dan mengantar Atletico ke posisi empat divisi dua Spanyol.

Marcos menjadi generasi ketiga Alonso yang berkiprah di dunia profesional.

Berikutnya Marcos Alonso menjadi generasi ketiga keluarga Alonso yang bermain sepak bola profesional. Bek kiri yang juga bermain untuk tim Inggris Bolton Wanderers dan Sunderland itu mengoleksi Liga Premier, Piala FA dan Liga Eropa sejak bergabung di Stamford Bridge musim 2016.

FORLAN

Perjalanan Diego Forlan menjadi bintang di lapangan hijau dimulai dari dua generasi sebelumnya. Kakeknya, Juan Carlos Corazzo memperkuat  Independiente pada 1930-an dan dikenal sebagai manajer tim nasional Uruguay pada 1950-an dan 60-an.

Bersama Corazzo pula Uruguay mencatatkan  14 laga tak terkalahkan antara 1967 dan 1968. Rekor ini bertahan sampai musim 2012 ketika Oscar Tabarez berhasil membawa timnas menjalani 18 pertandingan tanpa kekalahan.

Karier Diego Forlan diawali kiprah sang kakek Juan Carlo Carazzo di tahun 1930-an.

Sang menantu, Pablo Forlan, juga pemain yang sukses di Amerika Selatan. Forlan Snr memenangi lima kali liga utama Uruguay bersama Penarol dan gelar Copa Libertadores musim 1966.

Bek yang satu ini kemudian bergabung dengan Sao Paulo pada 1970 dan menghabiskan enam tahun di sana sebelum kembali ke Penarol. Diego Forlan menjadi anggota klan Forlan yang paling akrab bagi pencinta Liga Inggris  setelah menghabiskan dua musim di Manchester United pada 2002 - 2004.
Di Old Trafford, Forlan memenangi Liga Premier pada 2003 dan Piala FA 2004 sebelum pindah ke Spanyol bersama Villareal pada 2005.

Ayah Diego Forlan, Pablo (kanan) kala membela Uruguay di Piala Dunia 1974 melawan Bulgaria.

Diego Forlan menjadi kapten timnas di semifinal Piala Dunia 2010.

Selain gelar domestik bersama United, Forlan juga memenangi Liga Eropa bersama Atletico Madrid pada 2010 dan mencetak gol kemenangan di final melawan Fulham. Tahun 2016, ia mengikuti jejak ayahnya  memenangi liga Uruguay.

GUDJOHNSEN

Ada sejumlah pesepak bola luar biasa yang datang dari keluarga Gudjohnsen. Dimulai dengan Arnor Gudjohnsen, striker yang bermain untuk SK Lokeren di Belgia, Bordeaux di Prancis dan Orebro di Swedia. Namun namanya melesat di Anderlecht  di mana ia menghabiskan enam musim dan menjadi top scorer liga  Belgia pada 1986-87.

Arnor Gudjohnsen (kanan) memeluk Eidur kala sama-sama tampil bersama timnas Islandia.

Eidur Gudjohnsen berkiprah di Premier League bersama Chelsea, Tottenham Hotspur dan Stoke City.

Striker dengan koleksi 14 gol dalam 73 pertandingan untuk Islandia ini pun sempat tampil di laga  internasional bermain bersama putranya, Eidur. Hasilnya kemenangan 3-0 atas Estonia pada tahun 1996. Eidur Gudjohnsen memiliki karier yang bagus sebagai striker, khususnya di Inggris dan Spanyol.

Pemain berposisi penyerang itu memenangi gelar Liga Premier berturut-turut bersama  Chelsea di bawah Jose Mourinho pada 2005 dan 2006, sebelum bergabung dengan Barcelona dan mencicipi treble musim 2009. Lalu ada Arnor Gudjohnsen Junior, saudara tiri Eidur yang juga striker profesional dan  saat ini bermain untuk tim U-23 Swansea City.

Andri generasi keempat Gudjohnsen (kiri) kini menempa diri di the Real Madrid Academy.

Dan yang lebih spektakuler, ketiga anak Eidur saat ini juga  menjadi pemain bola. Svenin Gudjohnsen bermain untuk Spezia, sementara Andri dan Daniel Gudjohnsen keduanya di akademi Real Madrid. Fourth generation is coming!

HERNANDEZ

Tomas Balcazar menjadi pionir klan Hernandez dengan 346 kali tampil untuk Chivas de Guadlajara pada 1948 – 1958. Chivas merupakan bagian dari tim campeonismo yang memenangi delapan gelar liga Meksiko dalam sepuluh tahun. Balcazar juga memperkuat timnas Meksiko dan mencetak dua gol saat The Sombrero kalah 2-3 dari Prancis di  penyisihan grup Piala Dunia 1954 di Swiss.

Javier Hernandez Snr alias Chicharo mengikuti jejak ayah.

Menantunya Javier Hernandez Gutierrez yang dijuluki Chicharo (kacang dalam bahasa Spanyol) bermain sebagai gelandang di tim Meksiko Tecos, Puebla dan Monarcas Morelia. Belum termasuk 28 caps bersama timnas.

Dan putranya, yang juga bernama Javier Hernandez (karena itu dijuluki Chicarito alias kacang kecil) menjelma menjadi srtiker yang cukup mentereng. Empat musim memperkuat Guadalajara, Chicharito bergabung dengan Manchester United musim 2010 dan memenangi dua gelar Liga Premier di bawah Sir Alex Feerguson pada 2011 dan 2013. Dan setelah memperkuat Real Madrid, West Ham United, Sevilla dan Bayer Leverkusen, Chicharito bergabung dengan LA Galaxy untuk musim 2020 ini.

Javier 'Chicharito' Hernandez kini bergabung di LA Galaxy.

 

KLUIVERT

Di antara klan sepak bola tiga generasi yang terdokumentasi, tidak ada yang mencetak gol lebih banyak daripada keluarga Kluivert. Pencetak gol paling produktif Kenneth Kluivert dengan koleksi 366 gol hanya dalam 345 pertandingan untuk S.V Robinhood di liga papan atas Suriname.

Putranya, Patrick Kluivert tak lain striker yang bermain du sejumlah klub paling mapan di Eropa, termasuk Ajax, AC Milan dan Barcelona di mana ia memenangi gelar La Liga 1999.

Oldest to youngest: Kenneth, Patrick dan Justin.

Patrick Kluivert pemain kunci klub dan timnas.

Patrick juga memperkuat Newcastle United, Valencia, PSV dan Lille sebelum pensiun pada 2008. Di panggung internasional, ia mencetak 40 gol dalam 79 pertandingan selama sepuluh tahun berkarier bersama Holland antara 1994 -  2004.

Putra Patrick, Justin saat ini adalah salah satu talenta muda Eropa yang paling menarik minat  klub besar. Hengkang dari Ajax di Eredevisie, Justin  beralih ke Roma di Liga Serie A Italia. Pemain berusia 20 tahun itu sudah 50 kali memperluat Il Giallorossi.

Patrick Kluivert berlabuh di AS Roma.

 

KOEMAN

Martin menjadi pemain bertahan pertahanan Belanda pertama dari klan Koeman. Ia tampil 400 kali bersama Groningen antara 1963 – 1971 dan masuk timnas  Belanda pada 1964. Dua putra Martin, Erwin dan Ronald Koeman melanjutkan kiprahnya di dunia sepak bola.

Martin Koeman, legenda Groningen dengan lebih dari 400 laga.

Setelah memperkuat Groningen, Ajax dan PSV, Ronald bergabung dengan Barcelona pada 1989 dan tampil 200 kali untuk raksasa La Liga ini. Ronald memenangi empat gelar papan atas Spanyol dan treble pada musim 1992. Dia juga mencatatkan pencapaian sebagai manajer bersama Ajax, Valencia, Southampton, Everton dan kini  tim nasional Belanda.

Jika Ronald menikmati banyak keberhasilan di Eropa, Erwin tetap di Belanda.  Ia juga bagian dari staf pelatih Ronald di tim Liga Premier Southampton dan Everton. Masih ada lagi, Ronald Koeman Jnr yang kini menjadi  pemain sepak bola profesional dengan posisi kiper di klub divisi dua Belanda TOP Oss.

Ronald Koeman defender Barcelona yang ikut mencicipi gelar treble 1992.

Ronald Koeman Jnr. memilih menjadi kiper.

 

LAUDRUP

Sebelum Michael dan Brian Laudrup, ada Finn Laudrup yang bermain untuk   klub Denmark Brondby pada 1970-an dan 80-an. Finn yang kemudian melatih eks timnya ini juga masuk timnas tim Dinamit. Ia mencetak enam gol dalam 19 penampilan bersama Denmark antara 1967 - 1979. Michael, putra tertua Finn dianggap  sebagai salah satu gelandang terhebat.

Finn Laudrup (kanan) bersama calon gelandang hebat kecilnya Michael.

Seperti sang ayah Michael  mulai karier di Brondby sebelum bermain untuk Lazio, Juventus dan Ajax. Berikutnya ia bergabung dengan Real Madrid dan Barcelona di La Liga. Seperti Koeman, Michael bagian dari tim treble Barcelona musim 1992. Total ia memenangi lima gelar La Liga. Michael juga  sukses sebagai manajer dan memenangi Piala Liga bersama Swansea City pada 2014.

Michael Laudrup (kanan) bersama Andreas.

Generasi terakhir Laudrup, Brian memiliki karier yang sukses sebagai pemain bersama Bayern Munich, Fiorentina dan AC Milan. Ia memulai karier di Inggris bersama Rangers dan Chelsea. Putra Michael lainnya, Andreas juga berkiprah di sepak bola profesional. Berposisi gelandang ia  memperkuat  FC Nordsjaelland dan Saint-Etienne musim 2013. Sayang musim 2015, Andreas  terpaksa mundur di usia 29 karena artritis.

That's all folks.. you’re welcome!

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR