Rezim Assad Sasar Benteng Terakhir Pemberontak, Anak-anak Suriah Jadi Korban Serangan Udara Idlib

Dunia

Kamis, 13 Februari 2020 | 13:58 WIB

200213135702-seran.jpg

dailymail

Ketakutan membias di antara air yang menggenangi mata-mata mungil anak-anak Suriah  yang selamat dalam serangan udara di Idlib beberapa hari lalu. Foto-foto korban paling tak berdaya dari perang sipil Suriah itu menjadi ilustrasi harga pertempuran yang pecah lebih dari sembilan tahun lalu dan belum ada tanda-tanda akan berakhir.

Dikutip dari DailyMail, Kamis (13/2/2020) footage dari White Helmets menunjukkan kondisi tiga korban balita yang diselamatkan dari reruntuhan rumah dalam serangan udara terakhir. Bangunaan yang menaungi keluarga mereka hancur berkeping akibat hantaman bom dan nyaris mengakhiri hidup semuanya.

Anak-anak kecil di Suriah turut menghadapi risiko perang saudara.

Sukarelawan White Helmets ikut menyelamatkan korban balita dari  reruntuhan.

Serangan di Idlib menandai eskalasi kelompok yang berperang di Suriah.

Serangan di Idlib menandai eskalasi  permusuhan di Suriah yang  memicu eksodus terbesar  sejak perang saudara dimulai sembilan tahun lalu. Tak kurang dari 700 ribu warga terpaksa mencari perlindungan.

Di bawah komando Presiden Bashar al-Assad dengan dukungan pesawat-pesawat tempur Rusia, rezim berkuasa terus berupaya “membersihkan” Idlib dari  pemberontak sebelum mendeklarasikan kemenangan.

Harrowing.

Bashar al-Assad berkepentingan merebut Idlib.

Nowhere to hide.

Idlib menjadi benteng terakhir yang dikuasai rezim pemberontak anti-Assad. Namun di yang sama upaya ini membuat hampir 700.000 warga sipil  yang kebanyakan wanita dan anak-anak menyelamatkan diri ke perbatasan Turki yang  dalam sepuluh minggu terakhir ini ditutup. Ada sekitar 3,6 juta warga yang berlindung di perbatasan.

Namun dengan serangan udara yang tetap  meningkat dan jalanan di semakin padat oleh pengungsi, kelompok-kelompok kemanusiaan memperingatkan korban sipil yang kini “tidak punya tempat yang dituju sebagai perlindungan.

“Analisis awal kami, ini jumlah terbesar dalam satu periode sejak krisis Suriah dimulai," kata Jens Laerke, juru bicara badan kemanusiaan PBB. Seorang diplomat Inggris mengatakan Suriah merupakan salah satu kesalahan kebijakan luar negeri Inggris yang paling berbahaya dalam beberapa dasawarsa

Inggris menyebut keterlibatan dalam perang Suriah merupakan blunder.

Inggris sebelumnya mendukung pemberontak yang berjuang untuk menggulingkan Assad. Tapi pada  2017  atau dua tahun setelah Rusia bergabung dalam konflik, Assad diakui takkan mundur. Sementara itu, semalam  anggota oposisi Suriah yang juga pekerja kemanusiaan bernama Ismail mengatakan, warga sipil Suriah saat ini menghadapi tragedi berupa kehancuran dan pembunuhan massal.

Kepada Daily Mail ia mengatakan, “Kami hidup dalam teror dan mana masa depan tak leb ih dari dua pilihan, kematian atau mengungsi. Banyak yang telah meninggal, banyak yang terluka, telantar dan dipenjara. Semua ini, hanya untuk kelangsungan kekuasaan Assad.”

SNP menyebut anak-anak kedinginan hingga level yang sangat berisiko.

Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi menyebut musim dingin semakin membuat warga menderita.

Ismail melanjutkan, “Aku ekerja dengan organisasi kemanusiaan dan melihat dengan mata kepala sendiri semua pembantaian. Sekarang, saat kita berbincang di sini, udara pun seakan berdetak sangat keras. Assad ingin membunuh semua lawannya."

Ayah tiga anak itu menambahkan, sementara mereka yang berperang memiliki senjata lengkap, tidak demikian dengan warga sipil. Tak itu saja, menurutnya infrastruktur pun menjadi sasaran. “Saat ini  kejahatan mengerikan berlangsung setiap hari dengan korban anak-anak, wanita dan warga sipil."

Berjejalan di pengungsian.

Juru bicara Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi Andrej Mahecic mengatakan cuaca di musim dingin membuat penderitaan warga semakin tak tertahankan  dan tempat berlindung pun sulit ditemukan. "Bahkan sekadar menemukan tempat berlindung di reruntuhan bangunan saja rasanya mustahil," katanya. Masjid pun penuh oleh warga.

Ian Blackford dari SNP mengatakan perempuan dan anak-anak benar-benar menggigil kedinginan. Dia mengatakan laporan menyebut seorang bayi meninggal karena kedinginan dan 45.000 lainnya telantar tanpa tujuan.

Fast forward 9 years.

Pertempuran Idlib sendiri menjadi tahap penting dari perang yang telah menewaskan ratusan ribu pejuang dan warga sipil Suriah. Sebanyak 3,6 juta warga kini berdesakan di perbatasan Turki yang tertutup. Sampai kapan, entah siapa yang bisa memastikan.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR