Trend Bunuh Diri di Kalangan Remaja: Jangan Desepelekan!

Ragam

Kamis, 13 Februari 2020 | 09:17 WIB

200213091751-trend.jpg

TINDAKAN seorang pelajar SMP di Jakarta yang meninggal dunia setelah melompat dari lantai empat gedung sekolahnya pada pertengahan Januari lalu, memunculkan kekhawatiran mengenai aksi percobaan bunuh diri di antara kalangan remaja dan dewasa muda.

Retno Listyarti, selaku Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, mengutip data Global School-Based Student Health Survey (2015) di Indonesia, bahwa remaja perempuan yang memiliki ide bunuh diri mencapai 5,9%, sedangkan remaja pria 4,3%.

Adapun percobaan bunuh diri yang dilakukan remaja pria mencapai 4,4%, sedangkan remaja perempuan 3,4%.

Menurut Retno, kasus percobaan bunuh diri pelajar SMP pada Januari lalu, bukan kasus pertama di DKI Jakarta. Tercatat pada November 2019 juga terjadi kasus serupa di salah satu SMP di Jakarta Utara.

Retno lantas mengutip hasil penelitian Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa DKI Jakarta, Nova Riyanti Yusuf, terhadap kesehatan jiwa 910 siswa SMAN dan SMKN berakreditasi A di Provinsi DKI Jakarta. Dalam penelitian itu terungkap bahwa 5% pelajar SMAN/SMKN di DKI Jakarta sudah memiliki ide bunuh diri dan 3% di antara mereka sudah melakukan percobaan bunuh diri.

Untuk mengetahui penyebab seorang remaja memutuskan bunuh diri dan motifnya, wartawan BBC News Indonesia, Jerome Wirawan, menjumpai seorang penyintas bunuh diri. Sebut saja Dina, 20 tahun.
Pemikiran pertama bunuh diri pertama kali tercetus waktu aku SMP. Saat itu kondisi keluargaku sedang tidak baik. Mamaku meninggal dunia, kemudian papaku menikah lagi. Aku juga tidak dekat dengan kakakku. Aku benar-benar merasa sendiri, tidak punya siapa-siapa. Aku terpikir, `apa aku menyusul mama saja ya?`

Namun, saat itu aku mengurungkan niat melalukan bunuh diri karena merasa masih punya masa depan. Aku belum mencicipi masa depan. Lagipula, saat itu belum ada trigger yang benar-benar kencang.

Pemikiran bunuh diri muncul lagi setelah SMA. Saat itu aku gagal kuliah ke Jepang. Terus aku mendaftar ke kampus yang aku inginkan, tapi ditolak. Akhirnya aku masuk ke kampus yang sekarang sedang kujalani. Nggak s esuai dengan rencana di pikiranku. Dan di situ pecahlah segalanya.

Lingkungan kampus jauh berbeda ketimbang waktu aku SMP dan SMA. Aku nggak punya teman sama sekali, nggak punya support system , stres banget . Aku m

Saat itu aku merasa ada stigma negatif dari keluarga dan dari masyarakat bahwa mencari bantuan [kesehatan jiwa] itu gila, mencari bantuan itu kurang iman. Aku malas mendengar perkataan itu, jadi aku memilih diam.

Stigma `kurang iman` yang dikatakan kepada orang yang sedang berpikir untuk bunuh diri itu salah besar. Mereka tidak tahu betapa orang itu sudah berjuang. Jangan anggap orang depresi itu kurang iman atau lemah.

Percobaan bunuh diri yang aku lakukan ternyata nggak mematikan. Aku mencoba bangkit dan mencoba mencari pertolongan.

Setelah percobaan itu gagal, aku merasa ada secercah harapan hidup. Aku tidak terpikir untuk melanjutkan percobaan karena ada temanku yang mencoba menghalangi. Di situ hatiku mungkin tergerak.

Bunuh diri memang tidak dibenarkan, tapi ada hikmah dari percobaan bunuh diriku. Sekarang aku bersyukur. Aku jadi disayang banget , benar-benar dipedulikan kesehatan mentalnya.

Butuh support

Benny Prawira, psikolog dan pendiri komunitas pencegahan bunuh diri Into The Light mengatakan, orang-orang yang punya pemikiran bunuh diri tidak harus punya depresi, tidak harus didahului dengan gangguan jiwa. Tapi gangguan jiwa akan meningkatkan pemikiran untuk bunuh diri berkali-kali lipat.

Pemikiran bunuh diri itu sendiri tidak serta-merta akan menjadi percobaan bunuh diri.

Pun terhubung tidak harus dengan orang-orang di sekitarnya. Terhubung juga bisa berarti terkoneksi dengan hal-hal yang menurut dia berharga, misalnya cita-cita yang masih ingin dia kejar.

Jika social support-nya ada, tentu itu akan sangat membantu secara signifikan. Karena itu akan mencegah dia sampai ke titik perencanaan bunuh diri yang lebih detil, yang lebih parah.

Karena itu, penting bagi pihak sekolah mencari tahu kondisi siswanya seperti apa. Itu bisa dilakukan melalui skrining bulanan dengan guru Bimbingan Pribadi.

Editor: Rosyad Abdullah

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR