Belasan SMK di KBB Terancam Tak Bisa Cairkan Dana BOS, Pemerintah Dinilai Gegabah

Bandung Raya

Rabu, 12 Februari 2020 | 20:06 WIB

200212200624-belas.jpg

dok

SEBANYAK 15 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Bandung Barat terancam tidak bisa mencairkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Sekolah-sekolah itu terbentur aturan yang mensyaratkan batas minimal siswa di sekolah penerima BOS tidak boleh kurang dari 60 orang.

"Kami menilai bahwa pemerintah terlalu gegabah mengambil keputusan tersebut, karena yayasan tidak sedikit mengeluarkan biaya untuk operasional sekolah. Meski pada akhirnya jumlah siswa tidak sesuai dengan aturan yang ada," kata Kepala SMK Al-Hikmah Cipatat, Moch.Noor Daswan Muda kepada galamedianews.com, di Cipatat, Rabu (12/2/2020).

Oleh karena itu, Daswan meminta kepada pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) untuk memberikan kesempatan kepada sekolah yang siswanya kurang dari 60 orang agar memenuhi jumlah siswa sesuai aturan. Apabila tenggat waktu yang diberikan masih belum tercapai, dipersilahkan untuk melebur dengan sekolah lainnya.

"Kami akan mencoba menemui pejabat di Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. Mudah-mudahan bisa membantu mencari solusi terbaik buat semua. Kalau masih belum ada solusi, maka kami akan menuju Kemendikbud," ujarnya.

Ia berharap, pihak Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat lebih bijak dalam menyikapi masalah ini. Bahkan dipersilahkan pejabat berwenang melakukan kunjungan ke sekolah-sekolah tersebut, melihat proses kegiatan belajar mengajar yang masih berlangsung.

"Padahal kondisi keuangan sekolah dan yayasan sangatlah seadanya. Tapi semangat untuk mencerdaskan generasi bangsa sangatlah besar. Kami mencoba untuk terus survive dengan harapan pemerintah tetap membantu," harapnya.

Ia mencontohkan, jumlah siswa di SMK Al-Hikmah Cipatat yang ikut pembelajaran sebanyak 50 orang. Namun yang masuk cut off di Data Pokok Pendidikan (Dapodik) 43 orang.

"Kami juga tidak tinggal diam, terus berupaya menjaring siswa baru. Dengan jumlah siswa yang ada, para pengajar tetap bersemangat untuk mentransformasikan ilmunya. Jangan sampai semangat ini mengendur karena terganjal aturan," ujarnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR