Sungai Citarum Dinormalisasi, Warga Majalaya Tetap Dihantui Banjir

Bandung Raya

Rabu, 12 Februari 2020 | 17:27 WIB

200212172659-sunga.png

ist

MESKI aliran Sungai Citarum yang masuk wilayah Kecamatan Majalaya, Solokanjeruk dan Ciparay sudah dinormalisasi sepanjang 5,5 km, warga yang bermukim di dekat aliran sungai masih tetap dihantui banjir. Warga tetap waspada dan meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi bencana banjir datang secara tiba-tiba.

Kekhawatiran terutama dirasakan oleh warga yang tinggal di Desa Majalaya, Majasetra, Majakerta, dan Desa Sukamaju Kecamatan Majalaya, selain Desa Tanggulun Kecamatan Ibun. Sedangkan di Kecamatan Sokanjeruk, Desa Rancakasumba dan Desa Mekarsari Kecamatan Ciparay.

Bahkan ada cara unik yang diperhatikan oleh warga di lingkungan Kampung Saparako RW 01, 03 dan RW 17 Desa Majalaya.

"Untuk mengamati peringatan dini ancaman banjir, warga lebih mengamati aliran air di selokan yang ada di lingkungan rumahnya," kata Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Majalaya, Iwan Bace didampingi Sekretaris Rony Ramli Aji kepada galamedianews.com di Majalaya, Rabu (12/2/2020).

Iwan mengatakan, pemantauan ancaman banjir itu, ketika aliran air selokan sudah keruh, warga pun langsung siap siaga dalam menghadapi ancaman banjir. Yaitu dengan memasang papan pengaman di masing-masing rumahnya. Namun ketika air selokan masih bening, warga pun masih tenang dan belum ada kehawatiran adanya ancaman banjir.

"Disaat aliran air di selokan keruh, menjadi peringatan dini ancaman banjir di Kampung Saparako Desa Majalaya tersebut," kata Iwan.

Ia mengatakan, selokan yang mengalir di tiga RW itu berasal dari aliran air Sungai Cikaro sebagai anak Sungai Citarum. Sehingga adanya potensi ancaman banjir bisa langsung terpantau oleh masyarakat.

"Jadi warga tidak lagi memggunakan kentongan untuk peringatan dini. Pantauan air keruh di selokan sudah sangat efektif memantau ancaman banjir. Selain warga juga memantau tinggi muka air di aliran Sungai Citarum melalui pantauan siaga warga," katanya.

Sementara itu, menurut Rony Ramli Aji, kesiapsiagaan warga terus ditingkatkan dalam menghadapi ancaman dan potensi banjir di Majalaya dan sekitarnya. "Meski Sungai Citarum sudah dinormalisasi, warga tetap siaga menghadapi potensi banjir," katanya.

Menurutnya, setelah Sungai Citarum dinormalisasi, genangan air disaat sungai meluap hanya menggenangi kawasan Jalan Raya Laswi Majalaya dan sebagian kecil di perkampungan Kondang. Sedangkan di daerah lainnya sudah tidak ada genangan.

"Dengan adanya normalisasi Sungai Citarum, aliran air lebih cepat dan deras disaat memasuki musim hujan. Bahkan disaat meluap pun lebih cepat, kemudian turunnya pun lebih cepat. Dengan perbandingan, ketinggian air naik 1 cm dalam 1 menit, turunnya pun dengan waktu yang sama," paparnya.

Ia mengatakan kesiapsiagaan warga terancam banjir di Majalaya itu, ketika tinggi muka air 420-435 cm. Namun saat ini, katanya, genangan air di wilayah Majalaya mengalami pengurangan luas genangan karena ada normalisasi Sungai Citarum.

"Meski demikian, warga tetap mewaspadai ancaman banjir bandang karena kondisi hulu Sungai Citarum masih kritis. Apalagi sebelumnya sempat terjadi banjir bandang di hulu Sungai Citarum kawasan Kertasari," katanya.

Pantauan galamedianews.com di lapangan, dengan adanya normalisasi Sungai Citarum di Majalaya, genangan air terkonsentrasi di kawasan Rancaekek dan Tegalluar Bojongsoang. Bahkan genangan air sempat terjadi selama 4-5 hari di Desa Tegalluar Bojongsoang.

"Dengan adanya normalisasi sungai itu, selain mengurangi genangan air di daerah rawan banjir, namun menambah parah kondisi banjir di wilayah terendah," katanya.

Lebih lanjut Rony mengatakan, mengingat potensi ancaman cuaca ekstrim masih berlangsung, pihak Desa Majalaya telah membentuk Forum Majalaya Peduli. Forum ini berasal dari berbagai komunitas dan pegiat lingkungan.

"Disaat menghadapi bencana banjir, mereka sama-sama turun ke lapangan untuk membantu warga korban banjir," pungkasnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR