Ridwan Kamil: Waspadai Penyebaran Virus Corona, Hindari Hal yang Bersifat SARA

Bandung Raya

Rabu, 12 Februari 2020 | 16:54 WIB

200212164644-ridwa.jpg

Humas Pemprov Jabar

GUBERNUR Jawa Barat, Ridwan Kamil mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terkait penyebaran COVID-19. Ia juga mewanti-wanti agar masyarakat tidak membuat kegaduhan yang bersifat SARA.

"Jadi hari ini secara resmi virus Corona itu disebutnya COVID-19. Maka kita tetap waspada dan jaga kondusivitas. Hindari hal-hal yang sifatnya SARA, harus dengan cara yang baik dan sopan," tuturnya usai Rapat Koordinasi Kewaspadaan Virus Corona Provinsi Jabar di Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin, Jln. Pasteur, Kota Bandung, Rabu (12/2/2020).

Seperti diketahui, World Health Organization (WHO) secara resmi mengumumkan nama COVID-19 (Corona Virus Disease) untuk penyakit 2019nCov yang disebarkan oleh novel coronavirus alias virus corona yang berasal dari Wuhan, Cina. Pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) terus mengantisipasi kasus COVID-19 di Tanah Air.

Menurut pria yang akrab disapa Emil, sampai saat ini tidak ada masyarakat Jawa Barat yang terpapar virus corona. Termasuk terkait empat pasien suspect COVID-19 yang diisolasi di Rumah Sakit Hasan Sadikin dan Rumah Sakit Paru Dr. H. A. Rotinsulu Bandung, yang telah dipastikan negatif virus corona.

"Perhari ini ini tidak ada kasus COVID-19 di Jawa Barat, karena dua pasien yang diawasi di Rumah Sakit Hasan Sadikin dan dua lagi yang di Rumah Sakit Paru Rotinsulu, semuanya setelah dicek oleh Litbangkes yang punya alat canggih, memastikan negatif," tuturnya.

Selain itu, pihaknya terus berkoordinasi dengan berbagai pihak untuk memastikan data akurat terkait virus yang telah merenggut lebih dari seribu nyawa di Cina ini.

Emil juga memastikan bahwa RSHS telah memiliki sisrute atau sistem informasi rujukan terintegrasi dan prosedur yang siap untuk menangani berbagai potensi COVID-19.

"Urutannya dimulai dari diobservasi di IGD, dari IGD ada unit isolasi yang akan menangani jika itu (COVID-19) terjadi," ujarnya.

Disinggung terkait keberadaan warga atau Tenaga Kerja Asing (TKA) dari Cina di Jabar, lanjutnya, pihaknya terus memantau keberadaan mereka melalui pihak imigrasi maupun Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi di 27 kabupaten/kota se-Jabar.

"Untuk data perhari ini ada 3.000-an dan semua sudah termonitor keberadaannya. Ada yang TKA, pebisnis, wisatawan, dan lain-lain," terangnya.

Sementara sembilan warga Jawa Barat yang menjalani masa karantina atau observasi di natuna, berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI untuk sejumlah warga tersebut bebas dari virus Corona.

"Setelah lewat 14 hari (karantina) mereka bisa kembali ke keluarga masing-masing di Jawa Barat," katanya.

Ia meminta dinas terkait untuk terus melakukan pemantauan dengan melihat gejala-gejala yang mirip dengan gejala COVID-19 seperti batuk, pilek, dan demam dengan suhu badan di atas 38 derajat Celcius.

"Kalau terlihat ada batuk, pilek, demam, dan lain-lain yang menjadi gejala, walaupun belum tentu (positif COVID-19), harus segera diantisipasi untuk melaporkan, sehingga prosedur pertama bisa kita lakukan. Karena gejala COVID-19 ini mirip-mirip flu dan ketahuannya setelah 14 hari," jelasnya.

Pihaknya mengajak masyarakat untuk melawan hoaks terkait COVID-19, serta meminta untuk aktif melaporkan atau mencari informasi terkait COVID-19 dan menjaga pola hidup sehat.

"Kita sosialisasikan juga pola hidup sehat. Kalau batuk pakai masker, itu etikanya harus dilakukan, kalau punya atau terlihat riwayat bepergian ke luar negeri dan punya gejala yang sama, segera melaporkan ke (Call Center) 119 itu. Itu Siaga Satu-nya Jawa Barat," tambahnya.

Selain RSHS dan Rumah Sakit Paru Dr. H. A. Rotinsulu Bandung, terdapat lima rumah sakit lain di Jabar yang sudah siaga dan menjadi rujukan penanggulangan infeksi darurat, termasuk COVID-19, yaitu RSUD Gunung Jati Cirebon, RSUD Subang, RSUD R. Syamsudin SH Sukabumi, RSUD Indramayu, dan RSUD Dr. Slamet Garut.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR