Pembinaan Terhadap Rekanan Penyedia Barang dan Jasa di Sumedang Masih Minim

Daerah

Rabu, 12 Februari 2020 | 16:29 WIB

200212162901-pembi.jpg

ist

Ketua Gapensi Kab. Sumedang Rully Krisna Prayoga,

PEMBINAAN terhadap ratusan rekanan penyedia barang dan jasa di Kabupaten Sumedang dinilai masih sangat minim. Padahal sejatinya, untuk mendapatkan output dan nilai manfaat yang besar dari suatu hasil pekerjaan, erat kaitannya dengan skill rekanan.

"Hal itu bisa dicapai jika proses pembinaan terhadap rekanan, baik itu yang dilakukan oleh masing-masing asosiasi penyedia barang dan jasa, maupun pihak terkait lainya dilaksanakan berkesinambungan," ujar Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kab. Sumedang, Rully Krisna Prayoga, Rabu (12/2/2020).

Fakta yang terjadi, kata Rully, pembinaan sangat minim sehingga berdampak terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM) rekanan yang ada. Saat ini, jumlah rekanan yang menjalankan kegiatan usahanya di Sumedang ada 489 perusahaan aktif dan tergabung pada 18 asosiasi penyedia barang dan jasa. Dari rekanan sebanyak itu, 122 perusahaannya bergabung atau tercatat sebagai anggota Gapensi.

"Kami akui pembinaan rekanan, khususnya yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah masih minim," ungkapnya.

Sehubungan dengan itu, Rully mengatakan, lembaga yang dipimpinnya terus berusaha untuk memberi pembinaan terhadap anggotanya. Yakni meliputi manajerial proyek dan tenaga ahli. Pembinaan semacam itu sangat dibutuhkan untuk mencetak rekanan yang handal dan berkinerja bagus.

Terlebih sekarang ini, persaingan usaha dibidang penyedia barang dan jasa sangat terbuka. Apalagi proses lelang suatu proyek diumumkan secara elektronik. "Oleh sebab itu, jika kita tidak mempesiapkan diri, maka akan tersisih oleh rekanan lain," katanya.

Disamping itu, Rully berharap dilakukannya pemberian reward and punishment terhadap rekanan. Kebijakan itu, tentunya akan berdampak terhadap output hasil pekerjaan ke depannya.

"Nantinya diharapkan tida ada lagi direktur perusahaan yang cuma ongkang-ongkang kaki atau tidak tahu lapangan atas proyek yang dikerjakannya. Sehingga sebagaimana harapan, output dari hasil pekerjaan itu memiliki nilai manfaat besar buat masyarakat. Dan disinilah pentingnya ada reward and punishment dari pengguna penyedia barang dan jasa," pungkasnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR