Temuan Batu Pahat di Kawasan Wisata Batu Mahpar Tasikmalaya Diragukan

Daerah

Selasa, 11 Februari 2020 | 19:40 WIB

200211194412-temua.jpg

Septian Danardi

PULUHAN batu yang ditemukan di kawasan Wisata Batu Mahpar Kecamatan Sariwangi diketahui sudah ada disana sejak tahun 2013. Batu-batu tersebut sempat dikubur hanya sebatas sikut saat itu, lantas digali kembali pada Minggu (9/2/2020).

Penggalian batu pahat yang dikubur itu menyerupai manusia kerdil, monyet, jejak kaki, hingga patung Ganesa (berkepala gajah dan berbadan manusia).

Anggota Unit Inafis Sat Reskrim Polres Tasikmalaya mendatangi lokasi temuan batu. Selain meminta keterangan para saksi, polisi juga mengabadikan patung batu yang sudah terkumpul itu. Total ada 22 patung batu dengan berbagai bentuk dan ukuran.

"Jadi kami mendapat laporan dari masyarakat, bahwa ada penemuan patung batu menyerupai bentuk manusia kerdil, kera dan ganesa. Maka kita turunkan tim. Namun untuk menguji keaslian batu tersebut, tetap itu harus dilakukan oleh ahlinya (arkeologi)," jelas Kasat Reskrim Polres Tasikmalaya, AKP Siswo Tarigan, Selasa (11/2/2020),

Namun pengelola mengklaim, jika patung-patung batu yang ditemukan sebagai artefak ini merupakan peninggalan sejarah.

"Pada hari minggu kemarin ada penggalian batu-batu itu. Awalnya muncul 3 batu dipermukaan, taunya digali terus, masih banyak. Ada 22 buah. Bentuknya menyerupai manusia kerdil, monyet, ada juga ganesa. Dan katanya masih ada patung ganesa yang berukuran lebih besar dibawah patung kujang," ujar karyawan wisata Batu Mahpar, Naisi Nur Aisyah.

Agus Mulyana yang juga sebagai petugas objek wisata itu mengatakan, jika patung-patung batu tersebut ditemukan pada tahun 2013 lalu. Namun atas perintah pemilik kawasan wisata Batu Mahpar, batu-batu itu pun dikubur kembali.

Lokasi kerap dikunjungi oleh banyak orang. Selain aktivitas wisatawan, juga kerap dipakai wisata religi. Meski diklaim sebagai artefak peninggalan kerajaan, namun dibutuhkan penelitian khusus dari para Arkeolog. Pahatan batu juga tidak serapih layaknya karya patung peninggalan sejarah.

Arkeolog dari Balai Arkeologi Jawa Barat, Lutfi Yondri menilai penemuan patung kuno di kawasan wisata Batu Mahpar, itu dianggap janggal. Sebab bukan peninggalan sejarah yang penting. Untuk mengetahui nilai sejarah sebuah benda, kata Lutfi, harus dilihat dari bahan dan bentuk benda tersebut. Secara sepintas terlihat patung itu terbuat dari batu cadas atau batu pasir. Jenis bebatuan itu sangat mudah untuk diubah bentuknya.

"Kalau melihat patung temuan ini dilihat bahannya, itu mudah sekali diubah bentuknya. Patung-patung yang ditemukan dalam satu lokasi itu juga memiliki bentuk manusia dan gajah (ganesha). Namun, dalam ilmu arkeologi, patung berbentuk manusia itu berbeda zaman dengan patung ganesha," katanya, saat dihubungi wartawan, Selasa.

Dalam kepercayaan masa lalu, lanjut Lutfi, patung manusia itu digunakan untuk pemujaan arwah leluhur. Sementara patung ganesha sudah termasuk pemujaan dalam konsep agama Hindu.

"Artinya, jika ditemukan patung-patung itu dalam satu lokasi yang berdekatan, telah terjadi sebuah kesalahan. Tidak sesuai dengan pakem arkeologi, baik dalam waktu maupun masa budaya," katanya.

Dikatakannya, secara arkeologi patung-patung peninggalan masa lalu itu harus jelas kontekstualnya. Konteks itu dapat dikaitkan dengan kebudayaan, sejarah, atau asosiasinya dengan benda-benda lain, di lokasi tersebut.

Tentunya, patung-patung yang ditemukan itu itu tidak akan berada dalam lokasi ketika berbeda zaman. Meski lokasi penemuan patung-patung itu berdekatan dengan peradaban Galunggung, yang masuk dalam sejarah Sunda. Namun bentuk benda-benda peninggalannya tidak seperti itu.

"Ternyata, setelah saya verifikasi, patung temuan itu merupakan pahatan yang belum lama dibuat untuk kepentingan pariwisata," katanya

. Dalam lintas sejarah Tatar Sunda, lanjut Lutfi, memang terdapat benda-benda peninggalan seperti patung-patung. Namun, penempatan dan lokasi penemuannya tidak seperti yang ada di kawasan wisata Batu Mahpar.

"Jika dikaitkan dengan Kerajaan Galuh tidak sama. Kerajaan Sunda dan Galuh itu sudah membuat konsep kepercayaan yang tidak seperti itu lagi," katanya.

Informasi yang sudah beredar akan menjadi dasar untuk tim arkeologi untuk meninjau langsung ke Batu Mahpar. Sebab, pembuktian akan sejarah harus dilakukan dengan nalar. 

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR