Kawanan Monyet dan Bagong Merusak Tanam Palawija Warga

Daerah

Selasa, 11 Februari 2020 | 19:58 WIB

200211193527-kawan.jpg

Ade Hadeli

Camat Ganeas Iman Kardiman

WARGA yang ada di Desa Cikondang, Sukaluyu, Sukawening, Tanjunghurip dan Dayeuhluhur, Kec. Ganeas, Kab. Sumedang, yang memiliki kebun berbatasan hutan, enggan dan kapok untuk menanam palawija.

Pasalnya, tanaman palawija, seperti jagung, singkong, padi huma dan talas yang mereka tanam, selalu dirusak kawanan monyet dan bagong (babi hutan) yang jumlahnya mencapai puluhan ekor.

Padahal hasil palawija, khususnya talas yang dipanen dari kebun mereka berkualitas bagus dan disukai banyak orang.

"Kawanan monyet dan bagong itu turun ke kebun palawija pada sore menjelang malam hari. Kemudian mereka merusak setiap tanaman palawija yang ditemuinya. Setelah itu mereka masuk lagi ke hutan," ungkap Camat Ganeas, Iman Kardiman, diruang kerjanya, Selasa (11/2/2020).

Berbagai cara pun sudah dilakukan warga untuk menghalau kawanan hama tersebut. Usaha yang mereka lakukan di antaranya dengan memasang alat bunyi-bunyian dibeberapa lokasi yang sering dijadikan jalan keluar masuk. Disamping itu, warga juga ada yang membuat saung dan menempatkan anjing penjaga diperbatasan hutan. Namun berbagai usaha yang sudah dilakukan itu belum membuahkan hasil. Apalagi insting hewan-hewan itu sangat peka.

"Karena ketika setiap ada rencana warga untuk melakukan perburuan, kawanan hewan tersebut sama sekali tidak menampakan diri atau tidak masuk ke kebun," tambah Iman.

Akibat kejadian itu, warga pun akhirnya terpaksa menanami kebunnya dengan pohon keras atau jenis kayu-kayuan. Itu dilakukan karena mereka sudah kewalahan terus diganggu hewan pengganggu.

"Sekarang, seiring dengan adanya program peningkatan ketahanan, yang berorientasi untuk penanganan masalah kemiskinan dan stunting, kami tengah melakukan pembahasan dengan sejumlah instansi terkait agar memanfaatkan kebun warga maupun lahan kas desa agar bisa produktif. Dan salah satu pembasannya adalah soal gangguan kawanan monyet dan bagong," ujarnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR