Tingkat SO2 Terpantau Tinggi, Satelit Ungkap Masifnya Kremasi Korban Tewas di Pusat Wabah Corona

Dunia

Selasa, 11 Februari 2020 | 09:52 WIB

200211095136-tingk.jpg

dailymail

Tingkat sulfur dioksida yang tinggi di pusat wabah virus corona bisa menjadi tanda kremasi massal. Demikian klaim menyusul peta satelit dalam beberapa hari terakhir. Imej satelit menunjukkan tingkat SO2 yang mengkhawatirkan di sekitar Wuhan, kota di mana wabah corona bermula. Klaim ikut mengungkap tingkat perkiraan kematian infeksi virus mematikan tersebut.

Selain itu tingkat sulfur dioksida yang tinggi  terpantau di kota Chongqing yang juga berada di bawah karantina. Sejumlah ilmuwan mengatakan sulfur dioksida diproduksi ketika tubuh dikremasi selain efek pembakaran limbah medis. Tetapi pengguna media sosial meyakini di tengah wabah corona saat ini kremasi  mungkin dilakukan di pinggiran kota.

Imej satellit menunjukkan tingkat SO2 yang mengkhawatirkan.

Dikutip dari DailyMail kemarin, Cina mewajibkan kremasi bagi mayat korban corona dengan prosesi pemakaman sederhana untuk mencegah titik kumpul warga. Komisi Kesehatan Nasional awal bulan ini menyatakan jasad harus dikremasi dengan segera di tempat terdekat.

Di luar itu, klaim lain yang hingga kini belum terverifikasi menyebut  pejabat Negeri Tirai Bambu menyembunyikan jumlah kematian wabah corona yang sesungguhnya melalui kremasi massal. Tingkat sulfur dioksida yang tinggi di Wuhan juga konsisten dengan fakta tingginya jumlah kremasi.

Warga terinfeksi corona meninggal di jalanan Wuhan.

Sebuah peta satelit dari Windy.com yang berbasis di Rep. Ceska  menunjukkan tingkat sulfur dioksida di Wuhan mencapai 1.350 mikrogram per meter kubik (μg / m3) pada akhir pekan. Sebagai perbandingan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan untuk dosis 500 μg / m3 tidak boleh lebih dari 10 menit. Sementara pemerintah Inggris menyatakan konsentrasi 15 menit dari 533 μg / m3 masuk kategori “tinggi”.

Badan Perlindungan Lingkungan AS mengatakan membakar limbah medis juga dapat menyebabkan emisi sulfur dioksida. Namun belum pasti jika tingkat SO2 yang tinggi terkait dengan krisis virus corona. Gas tidak berwarna juga diproduksi pembakaran bahan bakar fosil dan proses kimia lainnya.

Tingkat tingkat SO2 yang juga tinggi di sekitar Wuhan.

Kawasan di sekitar Beijing dan Shanghai yang tidak dikarantina juga menunjukkan tingkat SO2 yang tinggi hari Senin kemarin  meskipun  tidak setinggi akhir pekan. Wuhan sendiri masih dikarantina  dengan 11 juta warga tak bisa keluar. Ini artinya laporan dari Wuhan sulit diverifikasi.

Organisasi Kesehatan Dunia menyebut paparan sulfur dioksida yang tinggi atau berkepanjangan dapat memicu risiko kesehatan serius. Gas berperan dalam isu kesehatan seperti asma, radang paru-paru dan penurunan fungsi paru-paru.

Dua warga Shanghai menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah.

SO2 dapat mempengaruhi fungsi sistem pernapasan dan paru-paru hingga  iritasi mata. Peradangan saluran pernapasan menyebabkan batuk, sekresi lendir, memperburuk asma dan bronkitis kronis serta membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi saluran pernapasan.

Paparan menunjukkan kedatangan pasien rumah sakit untuk penyakit jantung dan kematian juga meningkat saat tingkat SO2 terpantau tinggi. SO2 yang “bergabung” dengan air dan membentuk asam sulfat juga menjadi komponen utama hujan asam yang merupakan penyebab deforestasi.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR