Tentara AS Gegar Otak Akibat Serangan Iran Menjadi 109 Orang

Dunia

Selasa, 11 Februari 2020 | 09:19 WIB

200211092002-tenta.jpg

JUMLAH tentara Amerika Serikat yang mengalami gegar otak akibat serangan rudal Iran di Irak pada awal Januari lalu meningkat menjadi 109 orang dari sebelumnya dilaporkan mencapai 64 orang. Menurut Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) para prajurit itu mengalami trauma ringan usai serangan tersebut.

Seperti dilansir Associated Press, Selasa (11/2/2020), Pentagon menyatakan 76 serdadu yang sempat mengalami gegar otak sudah kembali bertugas. Sedangkan 26 orang sedang berada di Jerman dan AS untuk menjalani pemulihan.

Tujuh serdadu lainnya dalam perjalanan menuju Jerman untuk pengobatan dan pemeriksaan.

"Setelah dirawat, sekitar 70 persen tentara yang didiagnosa (gegar otak) sudah kembali bertugas. Kami akan terus melanjutkan evaluasi kondisi fisik dan mental para prajurit," kata Sekretaris Pers Pentagon, Alyssa Farah, dalam jumpa pers kemarin.

Kepala Staf Gabungan Angkatan Bersenjata AS, Jenderal Mark Milley, dalam beberapa kasus gejala gegar otak akibat terkadang belum bisa terdeteksi dalam jangka satu atau dua tahun. Dia menyatakan Angkatan Darat saat ini tengah mempersiapkan langkah-langkah untuk diagnosa dan menyiapkan terapi bagi para prajurit.

Menurut Menteri Pertahanan AS, Mark Esper, mereka saat ini tengah mempelajari cara untuk mencegah gegar otak yang dialami tentara saat bertempur.

Pada saat serangan rudal Iran pada 8 Januari lalu terdapat sebanyak 1.500 tentara di pangkalan militer Ain al-Asad. Iran menembaki pangkalan militer AS di Irak sebagai pembalasan karena serangan pesawat tanpa awak AS yang menewaskan perwira tinggi militer Iran, Jenderal Qasem Soleimani.

Saat ini ada 5.200 tentara AS yang bertugas di Irak. AS menjadi bagian dari koalisi internasional yang diminta Irak pada 2014 silam untuk melawan ISIS. Koalisi pimpinan AS itu beranggotakan 76 negara.

Editor: Rosyad Abdullah

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR