Warga yang Bertahan di Rumah, Kebutuhan Sanitasi Menjadi Kendala

Bandung Raya

Kamis, 6 Februari 2020 | 18:15 WIB

200206174209-warga.jpg

WARGA Warga terdampak banjir rutin yang tetap berusaha bertahan di lantai dua rumahnya di lokasi banjir di Kelurahan Andir, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, kebutuhan sanitasi akan menjadi kendala. Misalnya, untuk kebutuhan mandi, cuci dan kakus, selain kebutuhan air bersih.

"Warga korban banjir yang bertahan di rumahnya, kebutuhan sanitasi akan menjadi kendala. Soalnya, tempat sanitasi mereka terendam banjir," kata Camat Baleendah Drs. H. Meman Nurjaman kepada galamedianews.com di Baleendah, Kamis (6/2/2020).

Menurutnya, para korban terdampak banjir itu berusaha bertahan di rumahnya, karena memiliki rumah hunian berlantai dua. Sehingga mereka tetap bertahan di rumahnya, meski mulai Rabu (5/2/2020) malam, rumah mereka kembali terendam banjir.

"Tadi siang ketinggian genangan air luapan Sungai Citarum di permukiman Kelurahan Andir, mulai di Kampung Cigosol, Kampung Muara, Kampung Jembatan rata-rata mencapai 60 cm. Bahkan siang tadi sempat surut perlahan. Tapi saat ini di beberapa wilayah kembali turun hujan deras, kemungkinan ketinggian air akan bertambah," tutur Meman.

Ia mengatakan, untuk para pengungsi korban banjir, Pemkab Bandung sudah memfasilitasi kebutuhan makan dan minum, selain tempat pengungsian yang sudah disiapkan jauh-jauh hari.

"Bantuan untuk korban banjir, sebelumnya sudah ada dari Polresta Bandung, Polda Jabar, Gubernur Jabar dan pihak lainnya yang turut membantu. Insya Allah kebutuhan pangan untuk korban banjir yang bertahan di pengungsian aman," kata Meman.

Seperti biasa, katanya, Puskesmas Baleendah memberikan pelayanan rutin kepada warga korban banjir. Terutama bagi mereka yang membutuhkan pelayanan kesehatan sebagai dampak banjir.

Dikatakannya, sebelumnya dalam beberapa hari lalu, para pengungsi korban banjir sudah kembali ke rumahnya masing-masing setelah genangan banjir surut. Namun sejak Rabu malam, rumah mereka kembali diterjang banjir, sehingga para korban terdampak banjir dimungkinkan kembali ke pengungsian.

"Saat ini sampai malam nanti kita akan terus memonitor untuk mengetahui perkembangan banjir. Selain itu memonitor warga terdampak banjir selama 24 jam," ungkapnya.

Meman mengatakan, bencana banjir rutin yang terjadi di Kelurahan Andir sudah mulai bisa diminimalisir. Yaitu dengan adanya pembangunan Terowongan Nanjung Sungai Citarum Curug Jompong Margaasih.

"Kami berharap dengan bencana banjir yang terus berulang di Kelurahan Andir, pemerintah terkait untuk segera merealisasikan pembangunan kolam retensi Andir. Kabarnya akan direalisasikan 2020 ini, namun bulannya kapan kami belum tahu. Tapi lahannya sebagian besar sudah dibebaskan, dan sedikit lagi masih dalam proses pembebasan," paparnya.

Selain pembangunan kolam retensi, Meman juga berharap kepada Balai Besar Wilayah Sungai Citarum untuk segera merealisasikan pembangunan tanggul di kawasan Kelurahan Andir, yang berada di aliran Sungai Cisangkuy dan Sungai Citarum.

"Tanggul itu untuk menahan luapan air sungai. Selain itu dalam pembangunannya disinergikan dengan pembuatan imstalasi pengolahan air limbah (IPAL) komunal yang berasal dari permukiman warga. IPAL komunaknya merupakan bagian dari kewenangan Disperkintan Kabupaten Bandung. Supaya limbah domestik yang berasal dari rumah warga disalurkan ke IPAL komunal, dan saluran ke sungai ditutup untuk mencegah luapan air sungai," jelasnya.

Camat mengatakan, rencana pembangunan tanggul dan IPAL komunal itu sudah disosialisasikan kepada warga terdampak banjir. "Jadi banyak warga korban banjir yang menanti pembangunan tanggul. Jangan sampai mereka setiap tahun menjadi korban banjir disaat memasuki musim hujan," pungkasnya.

Editor: Kiki Kurnia

  • BERITA TERKAIT

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR