"Tuhan Tidak Adil" Karya Eksesif Dari Seorang Connie Constantia

Ragam

Selasa, 4 Februari 2020 | 12:31 WIB

200204124232--tuha.jpg

Eddie Karsito

Terbitnya buku berjudul ‘Tuhan Tidak Adil’ menarik perhatian. Judul yang eksesif, namun menabur renungan. Lebih menarik lagi buku ini ditulis oleh sosok bukan dari kalangan santri; kaum agamawan, teolog, atau cendekiawan. Melainkan dari seorang seniman, penyanyi legendaris, Connie Constantia.

Karya bernada biografis ini merupakan sebuah catatan refleksi dan pencarian jatidiri, yang berusaha serius menghayati iman dalam konteks kemanusiaan.

“Buku ini bukan kajian kitab suci atau doktrin teologi. Hanya sebuah pengungkapan keyakinan berdasarkan pengalaman nyata di dunia rohani,” ujar Connie Constantia kepada galamedianews.com, sebelum peluncuran buku karyanya, di kediamannya, di kawasan Ragunan Jakarta Selatan, Minggu (02/02/2020).

Buku ‘Tuhan Tidak Adil,’ ungkap Connie, adalah kesaksian seorang anak manusia yang terbentuk, tumbuh berkembang, dan menjadi matang, dalam tempaan realitas kehidupan yang keras. “Buku ini merupakan pencerahan dari pengalaman spiritual saya. Bahwa sangatlah indah hidup berdampingan tanpa mengotak-ngotakan agama. Satu cinta dalam kebenaran dan satu iman dalam perbedaan,” ungkapnya.

Untuk menjelaskan korelasi antara judul buku yang eksesif dengan konten buku ini, memang sebaiknya segera membacanya. Cara pandang Connie (satu cinta dalam kebenaran dan satu iman dalam perbedaan), menawarkan perspektif berbeda dan menyejukkan -- di tengah arus besar konservatisme keberagamaan yang melanda Indonesia belakangan ini.

Terlebih menurut Connie, bangsa ini secara kultural kerap dibenturkan, dengan alasan pemurnian ajaran (agama) yang diusung golongan tertentu. Hal itu bereskalasi ke arah perilaku intoleran, otoritarian, bahkan fasistik. “Relasi antara agama dan budaya agaknya menjadi persoalan,” ungkapnya.

Buku ‘Tuhan Tidak Adil,’ menyelidik Tuhan dari sudut berlainan, yakni dari sudut hidup manusia. Berhubungan dengan inner disposisi dari seorang Connie Constantia, meliputi kesadaran, ganjaran, ketidak-berdayaan dan ketidak-sempurnaannya sebagai manusia.

Buku ini mengisahkan tentang sebagian pengalaman hidup Connie dari masa kecil yang sangat memprihatinkan hingga menjadi seorang artis legendaris, di mana dirinya kemudian mengalami pengalaman spiritual, mati suri sampai empat kali. Pengalaman tersebut juga menyangkut jatuh bangunnya seorang Connie selama lebih dari 20 tahun dalam upayanya memberitakan kabar baik mengenai Ke-Esaan Allah.

“Dengan membaca buku ini, semoga khalayak budiman dapat tersentuh sisi ruhaninya. Terbuka hatinya untuk memahami lebih dalam dan memperbarui keimanannya, demi kembali kepada fitrah kemanusiaannya. Menyembah Tuhan Allah Yang Maha Esa dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi, serta mengasihi sesama manusia sebagaimana mengasihi diri sendiri,” harap artis kelahiran Manado, 23 Januari 1963 ini.

Proses penulisan buku ini membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun. Merupakan buku kedua karya Connie Constantia setelah “Satu Cinta” yang ditulis 2010 lalu. Didorong rasa tanggung jawab ketika Connie melihat realitas anak bangsa yang dihantam berbagai persoalan dan krisis kemanusiaan, baik dalam tatanan moral, maupun tatanan sosial. Bahkan agama-agama seperti terdegradasi dan terfragmentasi sedemikian rupa, sehingga kehilangan kekuatan rahmatnya untuk manusia.

Peluncuran buku berbobot serius ini juga terbilang unik. Hadirin tak perlu berkernyit dahi untuk memahami isi buku. Acara justru dibalut entertainer penuh dengan nyanyian memuji kebesaran Tuhan dan kemanusiaan. Menghadirkan rekan-rekan Connie yang notabenenya artis-artis senior, antara lain Titik Puspa, Ia Antono, Ermi Kulit, Yuni Shara, Vonnie Sumlang, Taraz Bistara, Doddy Katamsi, serta penyanyi dan musisi lainnya.

Hadir juga pengacara senior, Henry Yosodiningrat, serta komedian Indonesia, yang juga anggota DPR periode 2009-2014, Tubagus Dedi Suwendi Gumelar.

Editor: boedi azwar

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR