Dua Pasien RSHS Bandung Belum Dipastikan Terjangkit Virus Corona

Bandung Raya

Senin, 27 Januari 2020 | 12:06 WIB

200127120705-dua-p.jpg

Rio Ryzki Batee

DIREKTUR Utama Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Nina Susana Dewi menuturkan berdasarkan hasil pemeriksaan dua orang pasien yang tengah dirawat tidak terjangkit virus corona.

Sebelumnya RSHS Bandung merawat dua orang pasien yang baru tiba dari negara China atau yang menjadi asal dari virus novel coronavirus (nCov) atau virus corona.

Kedua pasien tersebut, salah satunya yakni seorang pria dewasa yang merupakan warga negara Cina, yang datang ke RSHS Bandung, Minggu (26/1/2020). Pasien datang dengan membawa surat rujukan dari Rumah Sakit Cahya Kawaluyan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat.

Menurutnya, pasien WNA Cina tersebut, didiagnosa terjangkit infeksi saluran pernafasan atas. Kemudian dokter yang memeriksa di Instalasi Gawat Darurat (IGD) langsung memindahkan ke ruang isolasi yang ada di tempat tersebut.

"Dari pemeriksaan, diketahui bahwa pasien tersebut keadaan umumnya baik, lalu kesadarannya baik dan tanda vitalnya baik. Serta panas badan di dalam rujukan itu 37,7 derajat, tapi saat diperiksa itu 36 derajat. Jadi tidak ada panas badan dan dokter menyatakan observasi flu atau infeksi saluran pernafasan atas," ungkapnya kepada wartawan di RSHS Bandung, Jalan Pasteur, Kota Bandung, Senin (27/1/2020).

Ia mengatakan, pasien tersebut pada 12 Januari silam berada di Sichuan, sebuah kota di Cina, yang jaraknya sekitar 1.300 kilometer dari Wuhan. Dikhawatirkan yang bersangkutan terpapar virus corona, karena Wuhan merupakan daerah yang diduga menjadi tempat awal penyebaran virus tersebut.

"Hari ini sampel dikirim ke Litbangkes (Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) untuk melihat apakah pasien tersebut positif atau tidak. Jadi sampai sekarang pasien tersebut baru observasi infeksi saluran pernafasan atas yang akut," terangnya.

Nina menjelaskan,  untuk pasien kedua merupakan warga negara Indonesia yang dirujuk dari RS Borromeus Bandung pada hari yang sama, dengan keluhan kejang-kejang dan tak sadarkan diri. Dimana pasien tersebut diketahui sempat mengunjungi Singapura pada 19 - 22 Januari.

"Pada saat pulang dengan keluhan tersebut akhirnya datang ke Borromeus, sehingga dipindahkan ke RSHS. Karena ada riwayat pernah ke Singapura, kami tim memasukkan ke ruang isolasi khusus juga," katanya.

Walau demikian, berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan oleh pihaknya, pasien tersebut juga mengalami gangguan pernafasan.

"Jadi pasien tersebut memang ada perburukan pernafasan, sehingga observasinya infeksi saluran pernafasan bawah," ujarnya.

Ia menjelaskan sama dengan pasien sebelumnya, sampel miliknya dikirim ke Litbangkes, untuk mengetahui secara detail dirinya terjangkit penyakit apa. Namun, pihaknya menegaskan bahwa keduanya belum bisa dipastikan terkena virus corona.

"Kalau corona itu diagnosanya terkonfirmasi setelah hasil dari litbangkes keluar," ucapnya.

Wakil Ketua Tim Infeksi Khusus, Anggraeni Alam menjelaskan bahwa suspect menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) adalah adanya suatu tanda gejala seperti influenza, demam lebih dari 38 derajat celcius, serta batuk dan sesak nafas.

Sehingga jika ada gejala demikian, ditambah ada riwayat berpergian ke China, terutama Wuhan dan sekitarnya. Maka dikatakan itu adalah suspect nCov.

"Lalu kita sudah mencari penyebab lain tidak ketemu, maka kita harus juga menduga bahwa harus diperiksakan novel corona virus. Serta kita harus observasi juga apabila tidak ditemukan penyebab lain, harus periksakan juga," tambahnya.

Editor: Brilliant Awal

  • BERITA TERKAIT

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR