Pengemudi Ojek Online Keluhkan Pemotongan Pajak Tanpa Disertai Bukti

Nasional

Jumat, 24 Januari 2020 | 16:40 WIB

200124163321-penge.jpg

ANTARA

PENGEMUDI ojek daring (online) menggeruduk kantor Kementerian Perhubungan di Jakarta, Jumat (24/1/2020). Mereka mengeluhkan soal pemotongan pajak yang dilakukan operator tanpa melampirkan bukti dan meminta Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).

Ketua Umum Gaspool Lampung, Miftahul Huda ditemui di sela pertemuan mengatakan, pihaknya memaklumi soal adanya pemotongan pajak sesuai aturan. Yaitu untuk pengemudi dengan penghasilan di atas Rp 4,5 juta per bulan.

"Tapi yang kita pertanyakan itu tidak ada bukti setorannya dan kami tidak dimintai NPWP," katanya.

Dengan kondisi itu, Miftah mengkhawatirkan jika potongan pajak justru disetor atas nama perusahaan, bukan atas nama pengemudi.

Miftah juga mempertanyakan potongan pajak yang dilakukan hanya oleh operator Grab, sementara Gojek belum melakukan hal serupa. "Ya, ini baru untuk Grab, untuk Gojek belum," tambahnya.

Direktur Angkutan Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Ahmad Yani menuturkan, pembahasan bersama pengemudi ojek online itu memang membahas soal setoran pajak.

"Soal pajak sudah clear bahwa setiap pengemudi yang punya penghasilan dengan batas tertentu, ada tiga kriteria itu akan kena pajak. Kalau penghasilannya dalam sebulan lebih dari Rp 4,5 juta maka dia jadi wajib pajak," terangnya.

Soal masalah bukti setoran hingga kartu NPWP, Yani mengatakan potongan pajak tetap dikenakan jika melewati batas penghasilan itu.

"Setelah driver kena pajak nanti akan ada tanda bukti dari aplikator, sekian persen dari pendapatan yang didapat dari (aplikator) Grab. Jadi sudah jelas apa yang ditarik, siapa yang narik dan besarannya berapa, tadi sudah disampaikan," ujar dia.

Ada pun terkait implementasi penarikan pajak yang baru dilakukan Grab, Yani mengatakan nantinya pihak Ditjen Pajak akan melihat apakah penghasilan dari Gojek sudah bisa dikenakan pajak atau belum.

"Jadi yang (ditarik pajaknya) itu yang dibayar Gojek (aplikator) seperti bonus-bonus kalau melebihi Rp 4,5 juta. Jadi bukan penghasilan dari dia (driver) mengantar sekian kilometer," jelasnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR