Legislator Dukung Rekonsiliasi Pemilik Lahan dengan Warga Soal Gang Apandi

Bandung Raya

Jumat, 24 Januari 2020 | 13:29 WIB

200124133104-legis.jpg

Armin Abdul Jabbar/PR

Jalan Braga

ANGGOTA Komisi A DPRD Kota Bandung, Aan Andi Purnama mendukung rekonsiliasi yang tengah dijajaki pemilik lahan Gang Apandi dengan warga sekitar berjalan dengan baik. Ia menilai, inisiasi perdamaian dan komunikasi ini harus dengan menjaga Kota Bandung kondusif.

"Saya harap tidak ada yang merasa dirugikan, pemilik lahan bisa mencapai kesepahaman dengan warga," ungkap Aan, Jumat (25/1/2020).

Ia mengakui, beberapa waktu lalu Komisi A DPRD Kota Bandung kedatangan 7 orang perwakilan RW 8 Kelurahan Braga, Kecamatan Sumur Bandung. Mereka menyampaikan keluhan salah satunya terkait rencana penutupan Gang Apandi.

"Kami sangat memahami kekhawatiran warga, kami berupaya cari solusi dalam persoalan ini. Kami kumpulkan dan kaji dokumen legal yang ada di lahan itu," katanya.

Tetapi setelah mengkaji dokumen legal terkait, Aan baru mengetahui jika kepemilikan hak lahan berdasarkan sertifikat atas nama Josafat itu telah diperpanjang beberapa kali sejak 1961. Meski begitu, Aan memahami kekhawatiran warga terkait rencana penutupan Gang Affandi oleh pemilik lahan. Selain dianggap menutup jalur lalu lintas penghuni sekitar lahan itu, warga juga takut bangunan cagar budaya yang berada di dalam lahan yang sama ikut beralihfungsi.

Untuk isu heritage, menurutnya, tidak lagi relevan karena yang ditutup adalah bagian belakang lahan yang berjarak 70 meter dari bangunan cagar budaya milik Josafat yang berada tepat di sisi Jalan Braga.

"Terkait kekhawatiran warga atas penutupan Gang Apandi, sebetulnya saya sudah mengecek ke lapangan. Di gang tersebut memang banyak alternatif-alternatif lain karena Cikapundung ini punya konektivitas terbuka yang terhubung ke Banceuy dan juga Suniaraha, artinya ada alternatif lain," terangnya.

Aan mengimbau, warga untuk tenang. Terlebih dengan adanya peran Pemkot Bandung dan DPRD Kota Bandung dalam setiap gerak perkembangan di area Gang Affandi Braga. Perhatian utama saat ini bisa diarahkan pada tercapainya kesepakatan damai menuju terciptanya lingkungan sosial yang guyub.

Sementara itu,  juru bicara pemilik lahan Gang Affandi, Irvan Ansori Mutaqin menilai, pernyataan anggota komisi A tersebut betul-betul netral dan mampu mendudukkan solusi di atas fakta hukum yang ada.

Menurutnya, gang yang disinggung berada di atas lahan milik Josafat Winata. Gang itu berada di dalam data fisik dan yuridis dari Sertifikat HGB No. 747, No. 781, dan No. 782 Kelurahan Braga milik Josafat Winata.

Berdasarkan data Bagian Aset Pemkot Bandung, kata Irvan, gang yang ditunjukkan itu bukan merupakan aset milik Pemkot Bandung. Sertifikat hak milik itu juga serangkaian dengan bangunan cagar budaya yang menjadi pertokoan di Jalan Braga dengan panjang sekitar 30 meter. Mulut gang dari Jalan Braga itu merupakan akses ke lahan bagian belakang dengan total luas lahan dalam HGB mencapai 3 ribu meter persegi.

Mengenai kekhawatiran warga terkait rencana penutupan Gang Affandi, kata Irvan, sebetulnya ada gang lain, yakni Gang Cikapundung. Rutenya memanjang di sisi lahan milik Josafat. Gang Cikapundung ini memiliki konektifitas terbuka yang terhubung hingga ke Jalan Banceuy dan Jalan Suniaraja.

Beberapa bulan terakhir ini pihaknya telah menginisiasi pemberian dana kompensasi bagi warga sekitar. Saat ini mereka masih menunggu adanya sambutan baik dari sekelompok warga, mengikuti niat baik sejumlah warga yang sempat menyambut baik upaya rekonsiliasi ini.

“Meskipun kami telah mengantongi sejumlah bukti sertifikat, tetapi niat kami hadir di Braga hanya untuk memperkuat tali silaturahmi bersama warga sekitar. Maka jika ada hambatan seperti saat ini, kami tetap menempuhnya perlahan, karena kami tidak ingin berkonflik dengan siapapun, apalagi dengan tetangga sendiri,” kata Irvan.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR