Ekskusif, Raja Kandang Wesi: Saya Tak Pernah Dirikan Kerajaan

Daerah

Jumat, 24 Januari 2020 | 13:15 WIB

200124131810-eksku.jpg

Agus Somantri

Nurseno SP Utomo

DALAM beberapa hari terakhir ini masyarakat Indonesia digegerkan dengan munculnya sejumlah kerajaan di berbagai daerah. Tak terkecuali di Kabupaten Garut.

Viral di media sosial, terdapat Kerajaan Kandang Wesi yang berlokasi di Desa Tegalgede, Kecamatan Pakenjeng, Kabupaten Garut.  

Adalah Nurseno SP Utomo yang disebut-sebut sebagai raja Kandangwesi. Galamedianews, berkesempatan berbincang-bincang sambil bertanya mengenai rumor yang saat ini beredar di masyarakat yang menyebut dirinya sebagai seorang raja.

Nurseno menegaskan, tak pernah mendirikan sebuah kerajaan. Ia juga mengaku tak pernah mendeklarasikan diri sebagai seorang raja. Gelar raja yang disandangnya merupakan penghargaan atas jasanya mendirikan Padepokan Syahbandar Kari Madi (SKM).

"Padepokan bela diri itu saya dirikan sejak tahun 1998. Nah pada tahun 2014, saya mendapat pengakuan sebagai Raja Kandang Wesi dari forum komunikasi raja-raja dan sultan nusantara yang diketuai Maskut Toyib," ujarnya, Jumat (25/1/2020).

Menurut Nurseno, Maskut Toyib merupakan kepala budaya Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Jadi raja yang diembannya itu hanya sebagai gelar.

"Jadi sejarahnya, dulunya Kandang Wesi itu memang ada kerajaan. Itu sudah ada penelitiannya. Saya hanya sebagai pemangku adat untuk menjaga budaya di sana," ucapnya.

Nurseno menyebutkan, meskipun menjadi seorang raja, dirinya tak punya anggota kerajaan. Para murid di padepokan bela dirinya juga tak disebut sebagai pengikut kerajaan. Apalagi sampai memakai kostum khusus seperti Sunda Empire atau Keraton Agung Sejagat.

"Saya ada kostum tapi hanya untuk saya. Murid saya yang lain tidak ada yang pakai kostum. Tidak ada pangkat-pangkat. Semua itu hanya untuk menjaga budaya saja," katanya.

Nurseno juga membantah kalau dirinya dikatakan mengajarkan aliran sesat. Menurutnya, ia  tak pernah melarang orang untuk solat, apalagi sampai mengajak orang menyimpang dari ajaran agama. Ia menyebut, kerajaan ini juga tidak ada urusan dengan agama, walau dirinya juga orang beragama.

"Kalau saya ajak orang tidak salat atau salat ke arah timur itu baru sesat. Silakan saja tanya ke warga di Tegalgede (Pakenjeng). Saya malah sering membantu pembangunan masjid," ucapnya.

Kendati begitu diakui Nurseno, dirinya menanggapi santai terkait adanya isu aliran sesat tersebut. Menurutnya, pemerintah dan aparat setempat juga sudah mengetahui aktivitas di kerajaannya. Terlebih sejak lahir dirinya merupakan warga Tegalgede.

"Saya malah sering menyebut tempat ini padepokan. Soalnya lebih banyak yang belajar bela diri (pencak silat). Orang Koramil juga sudah menghubungi saya kok," ujarnya.

Nurseno juga menandaskan, selama Kerajaan Kandang Wesi berdiri, dirinya tak pernah  meminta para muridnya untuk menolak Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bahkan sebaliknya, ia mengajak untuk menjaga adat budaya bangsa demi keutuhan NKRI.

"Saya juga tak pernah memungut iuran. Apalagi sampai ditentukan jumlahnya, silahkan saja di cek. Jadi sudah jelas, bahwa kerajaan saya berbeda dengan kerajaan-kerajaan abal-abal seperti Keraton Agung Sejagat yang memang menipu," katanya.  

Nurseno juga menyesalkan adanya isu yang berkembang jika dirinya pernah bekerja di perusahaan Geotermal di Kamojang. Padahal ia mengaku sama sekali tak pernah bekerja di perusahaan tersebut.

"Informasi itu salah. Saya juga aneh dengan adanya laporan yang beredar tersebut bahwa saya pernah bekerja di Geotermal, padahal tidak pernah. Terus nama saya juga salah jadi Suseno. Bagaimana urusannya," ucapnya.

Terakhir Nurseno mengaku santai saja dan tak ambil pusing dengan apa yang saat ini berkembang. Pihaknya pun menilai jika semua ini hanya isu biasa saja.

"Ini euforia dari apa yang terjadi saat ini tentang banyaknya orang yang mengklaim kerajaan-kerajaan," katanya.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR