Relasi Iran-Eropa dalam Guncangan Perjanjian Nuklir

Citizen Journalism

Rabu, 22 Januari 2020 | 22:30 WIB

200122213858-relas.jpg

KASUS ini bukanlah perseteruan biasa. Jika engkau menganggap perkara ini bisa diselesaikan dengan mudah, faktanya menunjukkan sebaliknya.

Bagaikan emosi yang sedang digonjang-ganjing, begitu pula dengan kasus ini. Ya, dialah konflik AS-Iran yang menjadi kado tahun baru 2020.

Jika mereka kembali ingatan, konflik ini secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga fase. Fase pertama, pembunuhan Qasem Soleimani oleh Amerika Serikat (AS), tokoh tersohor Iran, yang memacu mempertegang tensi diantara AS dan Iran.

Fase kedua, kasus salah tembak Iran terhadap pesawat komersial milik Ukraina. Nahas, perkara ini menyebabkan 176 penumpang tewas, dimana korbannya adalah warga Iran, Kanada, Inggris, Jerman, Afganistan dan Ukraina. Dan fase ketiga adalah ketegangan antara Iran dengan Eropa yang terjadi akhir-akhir ini (CNBC, 2020).

Seperti yang kita ketahui, Iran dan Eropa terikat dalam perjanjian yang tidak biasa. Lebih tepatnya, keduanya sudah mengukir sejarah bersama baik secara simbolik maupun maknawi.

Perjanjian itu bernama Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), sebuah kontrak yang ditandatangani pada tahun 2015, yang mana mencita-citakan perdamaian dunia.

Benar saja, JCPOA mengamanatkan Iran untuk membatasi penelitian uranium nuklir selama delapan tahun. Awalnya, perjanjian ini berjalan begitu mulus tanpa guncangan. Namun semua berubah ketika bangku kekuasaan negeri Paman Sam diduduki oleh Trump.

Lihat saja, pada tahun 2018, Trump menarik AS dari perjanjian. Bukan hanya itu, Trump turut menjatuhkan sanksi ekonomi kepada Iran, sehingga ekonomi negara tersebut makin terpuruk. Kalau kata Trump, keluarnya AS dari perjanjian nuklir adalah sebuah taktik, yang digunakan untuk memaksa Iran agar mau kesepakatan baru.

Akal bulusnya sih ingin mengultimatum program nuklir Iran dan menghentikan pengembangan rudal balistiknya. Sayangnya langkah yang diambil oleh AS malah membuat Iran gusar.

Pasalnya, Iran semakin ingin melanjutkan program nuklirnya. Melihat tensi ini, Eropa sebagai pihak yang terlibat dalam JCPOA tidak tinggal diam. Eropa berupaya untuk menyelamatkan perjanjian tersebut dengan cara membeli minyak iran sebanyak US$ 15 miliar (CNBC, 2020).

Seiring berkembangnya waktu, hubungan antara Iran dengan Eropa terlihat “cukup tenang”. Kalau menurut Alcaro (2015), Uni Eropa memiliki sumber daya politik dan ekonomi yang cukup sehingga dapat melibatkan AS dalam manajemen konflik dengan Iran.

Sungguh, prestasi yang luar biasa, mengingat pemerintahan AS pada era George W. Bush agak enggan dengan masalah ini (Alcaro, 2015). Sehingga darinya dapat kita lihat bahwa Eropa cenderung kooperatif dengan negara Iran bila dibandingkan dengan AS.

Hal tersebut juga dapat dilihat dari kesediaan Iran untuk meminta tolong kepada Eropa agar dapat keluar dari sanksi AS. Sedihnya, sekarang hubungan Iran-Eropa sedang diuji. Pasalnya, Jerman dan Prancis kini membawa masalah nuklir Iran ke Dewan Keamanan (DK) PBB.

Tentunya, hal ini membuat Iran geram terhadap Eropa. Bagaimana tidak? Ketakutan akan sanksi baru yang sangat merugikan, merundungi tubuh Iran. Iran pun merespon bahwa dirinya mundur dari NPT, yakni perjanjian internasional untuk mencegah penyebaran senjata nuklir dan teknologi senjata, jika Eropa masih bersikukuh membawa masalah nuklir Iran ke DK PBB. 

"Jika orang Eropa melanjutkan perilaku yang tidak pantas atau mengirim file Iran ke Dewan Keamanan, kami akan menarik diri dari NPT," tandas pihak Iran.

Bahkan Iran mengancam akan kembali bekerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional. Sungguh, ini menjadi teror bagi internasional. Sebelum terjerumus ke lubang luka yang lebih dalam, ada baiknya Iran-Eropa membina kembali tali persaudaraan yang akan putus.

Caranya adalah dengan berdiplomasi dalam sektor ekonomi. Hal ini mampu menguntungkan kedua belah pihak, mengingat Eropa yang kaya dengan sumber daya ekonomi dan Iran yang ingin meningkatkan pendapatan ekonominya.

Bagi Iran, membaiknya pertemanan dirinya dengan Eropa akan memajukan ekonomi Iran dan kepercayaan diplomatik yang bagus dengan Eropa. Selain itu, Iran juga bisa memperoleh privilese berupa akses pasar global sehingga menjadikan dirinya salah satu negara yang dapat mempengaruhi kepentingan dunia di masa depan (Geranmayeh, 2015).

Sedangkan untuk Eropa, ia akan mendapatkan keuntungan yang besar dalam sektor energi, yakni migas. Terlebih lagi, Iran dan Eropa, keduanya pernah berbincang terkait isu energi.

Tercatat pada bulan September 2014, Iran-Eropa membahas tentang perdagangan minyak dan gas internasional. Keduanya membenarkan bahwa, Eropa dan Iran telah mendiskusikan berbagai jalan keluar pengiriman gas Iran ke UE seandainya sanksi ekonomi terhadap Iran telah diangkat. Dengan demikian, tercapainya hubungan diplomasi Iran-Eropa yang baik sangat menguntungkan keduanya. Irang akan diuntungkan dengan ekonominya yang terpulihkan, di sisi lain perusahaan Eropa bisa mengekspor produk mereka ke target pasar yang memuat 80 juta orang.

Dalam ranah relasi internasional, Iran dapat “melunakkan” dirinya di hadapan AS, sembari Eropa yang memiliki posisi lebih netral, mendesak rekan-rekan mereka untuk kooperatif dalam kesepakatan Iran.

Penulis : Habibah Auni

Pekerjaan: Mahasiswa S1 Teknik Fisika UGM 2016

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR