Seniman Budayawan Pertanyakan Diamputasinya Kesenian di Dirjen Kebudayaan

Seni & Budaya

Rabu, 15 Januari 2020 | 20:21 WIB

200115202110-senim.jpg

Kiki Kurnia

HILANGNYA Direktorat Kesenian (diamputasinya kesenian) di Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menimbulkan kegelisahan dikalangan seniman dan budayawan di Tanah Air, termasuk di Jawa Barat.

Mereka pun menyuarakan kekecewaan diamputasinya kesenian di Direktur Jenderal Kebudayaan melalui diskusi yang digelar di Gedung YPK, Jln. Naripan Bandung, Rabu (15/1/2020). Diskusi tersebut digelar Masyarakat Seni Rakyat Indonesia (Masri) Bandung.

Salah seorang seniman, Hermana dari Bandung Mooi menyebutkan, dihilangkannya kesenian ini ada indikasi pemerintah memprioritaskan film, musik dan media baru karena mengejar industri. Sementara kesenian sebagai induk dari cabang-cabang kesenian diabaikan, bahkan dihilangkan.

"Perlu diketahui nama kesenian (direktorat kesenian) sudah ada sejak tahun 1969 di Kementerian yang membawahi kebudayaan. Baru tahun ini nama kesenian dihilangkan," katanya.

Sementara itu, Rudy Hartono dari Jaringan Kesenian Indonesia (JKI) menyebutkan, sebaiknya perubahan organisasi di Dirjen Kebudayaan atau nomenklatur ditinjau ulang. Rudy pun meminta agar direktorat kesenian dipertahankan atau dimunculkan lagi apabila telah diamputasi.

"Kalau tidak bisa, sebaiknya ada menteri kesenian seperti jaman Presiden Gus Dur. Bahkan sebelum tahun 1998 ada menteri seni budaya dan telekomujikasi," tambahnya.

Rudy pun menilai, perubahan nomenklatur Dirjen Kebudayaan tersebut melanggar Undang-Undang No 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam UU tersebut tidak disebutkan film, musik dan media baru, yang ada hanya kesenian.

"Kalau mau, masukkan 10 unsur dalam kebudayaan salah satunya kesenian, walaupun masyarakat dan seniman belum merasakan atau disentuh oleh kesenian (pemerintah) saat direktorat kesenian masih ada. Apalagi sekarang direktorat kesenian dihilangkan," paparnya.

Sementara perwakilan Masri, Mas Nanu Muda menyesalkan kesenian akan disisipkan ke direktorat yang ada. Ia menilai hal itu sama artinya dengan mengkerdilkan kesenian.

"Kalau disisipkan ke direktorat lain, kesenian sama artinya tidak mandiri dan menjadi pengemis. Yang namanya disisipkan pasti tidak mendapat perhatian secara penuh," tambahnya.

Sebelumnya, Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Een Herdiani mensosialisasikan organisasi baru Dirjen Kebudayaan pada kalangan seniman budayawan yang hadir dalam diakusi tersebut.

Een meminta kalangan seniman budayawan menyampaikan rasa kekecewaan dihilangkannya direktorat tersebut secara elegan melalui tulisan atau sebagainya kepada pemerintah. Een pun berharap pemerintah mendengar dan menerima kegelisahan dan kekecewaan kalangan seniman dan budayawan tersebut.

"Saya sih berharap kesenian tetap ada, namun hal itu kan (nomenklatur) sudah ditetapkan. Ya coba beri masukan melalui tulisan saja," katanya.

Selain diskusi di Kota Bandung, kegiatan tersebut akan terus digelar di sejumlah daerah di Jabar seperti Tasikmalaya, Ciamis, Bekasi dan Cimahi. Bukan hanya diskusi, akan digelar pula ruwatan dan demo kesenian yang akan digelar di ISBI Bandung.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR