Ini Penjelasan Pengelola Soal Status Wyata Guna dari Panti Menjadi Balai

Bandung Raya

Rabu, 15 Januari 2020 | 14:02 WIB

200115140308-ini-p.jpg

Novianti Nurulliah/PR

LAYANAN Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Netra (BRSPDSN) Wyataguna mulai diberlakukan sejak awal tahun 2019 ini. Terdapat pembatasan jumlah penerima manfaat dan juga lamanya masa pembinaan atau rehabilitasi. Sehingga pihak BRSPDSN Wyataguna harus melakukan terminasi (mengakhiri).

Kepala BRSPDSN Wyataguna Sudarsono mengatakan, layanan Balai ini ada penerima manfaat baru, ada proses rehabilitasi sosial dan ada proses terminasi atau pengakhiran masa layanan seperti pemberian makanan dan tempat tinggal.

"Jadi terminasi itu adalah pengakhiran sebuah layanan. Kalau orang kuliah, diwisuda, lulus, graduasi, kalau kami itu terminasi, pengakhiran, " kata dia pada wartawan di Wyataguna usai menerima kunjungan Wakil Gubernur Jabar Uu Ruzhanul Ulum, Rabu (15/1/2020).

Kepada wartawati PR, Novianti Nurulliah, Sudarsono menyebut, awalnya, layanan panti bisa dua-tiga tahun. Tapi kalau kondisi realnya, tupoksi balai adalah kegiatan rehab sosial. Di dalamnya ada pelatihan vokasinya.

Namun karena penerima manfaat panti sebelumnya ada dua jenis, yang pertama anak-anak ikut rehabilitasi dan sosial dasarnya. Yang kedua itu anak-anak yang sekolah dan kuliah.

"Di dalam balai pada tahun 2019, ada sebanyak 175 anak, karena di awal ada 65 anak yang sedang sekolah baik SD, SMP, SMA dan kuliah. Maka target di semester pertama kami gunakan sebanyak 130, karena kami tidak boleh mengorbankan tupoksi dari kami selaku balai rehabilitasi sehingga anak penerima manfaat itu 65 orang yang sedang ikut pendidikan dan 65 orang yang sedang ikut rehab," kata dia.

Ia mengatakan, saat itu harus mengakhiri semua penghuni sebanyak 130 orang. Sebanyak 65 orang di antaranya tidak ada masalah. Mereka pulang kembali ke keluarganya. Sisa tidak mau keluar.

"Sesungguhnya mereka harusnya keluar karena kita harus merekrut yang baru. Kami mencoba menginventarisir. Dari 65 sisanya 45, tetap harus ada yang keluar. Coba anak-anak yang 65 itu dari mana. Salah satunya ada dari kota Bandung. Kota Bandung dekat sini, keluarga seharusnya bisa bertanggung jawab. Maka itu yang kami coba terminasi," tutur dia.

Kedua adalah anak-anak yang sudah lulus sekolah. "Maka kami identifikasi yang lulus itu. Mengapa kami mempertimbangkan untuk masuk terminasi, karena kami fungsi kami rehab sosial. Sementara ini fungsi pendidikan. Kami tidak menghalangi hak mereka atas pendidikan. Kami sangat mendorong hak-hak itu. Kami coba yang kuliah, minta laporan pendidikannya," katanya.

Sudarsono menyebut, para penghuni tidak pernah melaporkan studinya. Karena itu Balai menurunkan tim ke perguruan tinggi untuk memastikan. Hasilnya, ada yang aktif kuliah, ada yang tidak aktif kuliah, bahkan hampir tiga semester.

"Berarti mereka hanya tidur di sini. Padahal ada penyandang disabilitas lain yang juga berhak mendapat layanan di balai. Akhirnya itu yang kami mencoba terminasi," tuturnya.

Karena mendapat resistensi dari terminasi itu, mereka menuntut penerima manfaat yang masih sekolah untuk mendapatkan layanan pendidikan.

"Kami akan dukung untuk mendapat pendidikan dasar 12 tahun. Artinya anak yang lulus SD, SMP, SMA, menjadi bisa tetap di kami. Itu jumlahnya sekitar 20 orang, jadi kami masih punya kesempatan 15 orang tadi yang mau mengikuti latihan pijat. Konsekuensinya ya yang lulus sma, lulus kuliah, diterminasi. Jadi itu yang kami terus sosialisasikan," tuturnya.

Dengan perubahan panti menjadi balai, kata dia, ada konsekuensi perubahan mekanisme layanan dan prosedur yang harus mereka jalankan. Dari konteks layanan pihaknya pun sudah sosialisasikan itu, selama enam bulan. Hal itu sudah sesuai peraturan, sehingga pihaknya menjalankan itu.

"Kami menyadari bahwa perubahan pelayanan menjadi enam bulan ini perlu dipahami oleh semua pihak termasuk keluarganya. Oleh karena itu kami mengundang pihak keluarga pada tahun awal 2019 karena perubahan menjadi balai itu dimulai tahun 2019," kata dia.

Editor: Brilliant Awal

  • BERITA TERKAIT

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR