Mahasiswa Peserta KKN Ibarat Personel Militer di Medan Perang

Nasional

Selasa, 14 Januari 2020 | 11:27 WIB

200114112504-mahas.jpg

Tok Suwarto

Rektor UNS Prof. Dr. Jamal Wiwoho, didampingi Komandan Korem 074/Warastratama Surakarta, Brigadir Jenderal TNI Rafael Granada Baay, melepas sebanyak 1739 mahasiswa peserta KKN periode Januari-Februari 2020

REKTOR Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, mengibaratkan para mahasiswa peserta program KKN tematik integratif beserta para dosen pembimbing lapangan (DPL) sebagai kesatuan militer. Pasukan militer yang berjumlah 1800 personel adalah setara di atas batalyon di bawah brigade.

"Saya menggarisbawahi, bahwa KKN adalah kegiatan pengerahan kemampuan UNS yang luar biasa, baik berdasarkan jumlah personel maupun dari sisi anggaran di 33 lokasi kabupaten dan kota. Di dalam batalyon kita, ada para akademisi sebagai pemimpin yang kalau didunia militer adalah para perwira, yaitu ilmuwan yang akan menyelesaikan masalah di lokasi KKN, dengan cara-cara saintis tapi tidak sebatas teoritis," ujar Prof. Jamal Wiwoho, ketika melepas 1.739 mahasiswa peserta KKN dan 77 DPL, di pelataran Kantor Pusat UNS kampus Kentingan, Selasa (14/1/2020).

Dalam pelepasan mahasiswa peserta KKN periode Januari-Februari 2020 tersebut, secara khusus dihadiri Komandan Korem 074/Warastratama Surakarta, Brigadir Jenderal TNI Rafael Granada Baay.

Batalyon mahasiswa KKN, menurut Rektor UNS, berangkat ke medan perang angkat senjata bersama-sama, berperang melawan kebodohan dan bertempur melawan kemiskinan. Dalam menghadapi lawan tersebut, diingatkannya, agar seluruh sivitas akademika khususnya Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), tidak boleh berperang tanpa strategi dan tidak boleh asal berangkat ke medan perang.

"Kita semua pulang harus membawa kemenangan. Kemenangan itu adalah kesadaran kita bersama untuk membawa bangsa Indonesia, UNS dan diri kita ini semua agar menjadi lebih baik di masa depan," jelasnya.

Pada bagian lain sambutannya, Rektor UNS mengutip kisah Butet Manurung yang membuat Sekolah Rimba bagi anak-anak suku pedalaman. Butet Manurung membuat Sekolah Rimba, karena di sekolah pada umumnya guru-gurunya berasal dari luar dan tidak tahu tentang kearifan lokal yang dimiliki masyarakat desa tersebut. Para guru itu mengajarkan sesuatu yang akhirnya tidak dipakai dan tidak dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Saya berpesan, para peserta KKN dan khususnya para DPL, kegiatan KKN merupakan saat yang tepat untuk belajar dengan melihat langsung kearifan lokal di setiap daerah. Dan dari situ, kita melanjutkan memberi bimbingan dan inovasi berbasis pada kearifan daerah," tandasnya.

Ketua LPPM UNS, Prof. Dr. Okid Parama Astirin, menjelaskan, KKN periode Januari-Februari 2020 ini mengangkat 18 tema, di antaranya optimalisasi potensi desa dan pengembangan Bumdes, lemanfaatan dan pengelolaan hasil hutan, pemberdayaan ekonomi kreatif dan UMKM, pengembangan sistem informasi desa (SID), peningkatan kapasitas pemerintahan desa dan lain-lain.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR