Ini Peran Waras Wasisto dalam Kasus Meikarta yang Menyeret Iwa Karniwa

Meja Hijau

Senin, 13 Januari 2020 | 15:50 WIB

200113155141-ini-p.jpg

NAMA anggota DPRD Jabar, Waras Wasisto disebut-sebut dalam persidangan kasus suap perizinan proyek Meikarta dengan terdakwa eks Sekda Jabar, Iwa Karniwa. Bahkan Waras disebut berperan aktif sebagai 
perantara suap.
Hal itu terungkap dalam sidang dakwaan terhadap eks Sekda Jabar, Iwa Karniwa, di Pengadilan Tipikor Bandung, Jln. L.L.R.E Martadinata, Senin (13/1/2020). Bahkan setelah persidangan, Penuntut Umum KPK, Yadyn menyebut nama Waras dan Soleman (anggota DPRD Kab. Bekasi) tidak hanya disebutkan kali ini, tapi juga dalam persidangan sebelumnya (Neneng Hasanah Yasin cs).
"Dalam peristiwa yang kami sampaikan, didalam dakwaan kami masukan nama beliau (Waras), mulai dari Soleman," ujar Yadyn.
Dijelaskan Yadyn, mereka yang disebutkan dalam dakwaan kategorinya sebagai perantara, baik perantara pemberi suap (Satriadi, Henry Lincoln) maupun klasifikasinya sebagai perantara penerima suap (Soleman, Waras). 
"Tinggal kita lihat nantu fakta persidangan terkait keterlibatan yang bersangkutan. semua orang yang disebutkan dalam dakwaan akan dihadirkan ke persidangan," tambah Yadyn.
Mengenai uang suap yang diterima terdakwa Iwa Karniwa, tambah Yadyn, diberikan dalam tiga tahap. Tahap pertama Rp 100 juta, dan kedua Rp 300 juta. Semua dipakai untuk membuat banner Iwa di lima daerah lewat Waras lantaran kepentingan terdakwa yang akan ikut mencalonkan dalam Pilgub 2018. 
"Sementara yang Rp 500 juta itu tunai langsung diberikan oleh Waras kepada terdakwa," ujarnya.
Dalam dakwaan disebutkan, untuk mempercepat proses dikeluarkannya persetujuan substansi dari Gubernur Jawa Barat atas Raperda RDTR Kabupaten Bekasi WP I dan WP IV serta WP II dan WP III, Henri Lincoln selaku Sekretaris Dinas PUPR mengajak Neneng Rahmi Nurlaili Kabid Penataan Ruang pada Dinas PUPR Bekasi (terpidana)  untuk menemui Soleman, anggota DPRD Kabupaten Bekasi. 
Tujuannya agar dapat difasilitasi bertemu dengan Waras Wasisto, anggota DPRD Provinsi Jabar sekaligus Ketua Fraksi PDIP di DPRD Provinsi Jabar untuk dapat dihubungkan dengan terdakwa Iwa. 
Kemudian sekitar  Juli 2017, Henri Lincoln bersama Neneng Rahmi Nurlaili menemui Soleman dan Waras Wasisto di JCO rest area KM 38 arah Cikampek. Pada pertemuan tersebut, mereka membicarakan terkait penyelesaian Raperda RDTR yang sedang berproses di Provinsi Jawa Barat. Pada saat itu, Waras menghubungi Iwa dan menyampaikan pemintaan bantuan untuk menyelesaikan RDTR. serta waktu untuk bertemu dengan terdakwa," kata PU KPK.
Setelah pertemuan di rest area KM 38, Henri Lincoln, Neneng Rahmi Nurlaili dan Soleman bertemu di RM Ciganea rest area KM 72 Tol Cipularang. Setelah makan di tempat tersebut, Waras yang pada saat itu berada dl Starbuck rest area KM 72 kemudian datang ke RM Ciganea menemui Neneng Rahmi dan Henri Lincoln.
Waras menyampaikan kepada mereka untuk menemui terdakwa di Starbuck. Mereka kemudian menemui terdakwa dl Starbuck. Pada pertemuan tersebut, Henri Lincoln menyampaikan kepada terdakwa terkait Perda RDTR telah disetujuu oleh DPRD Kabupaten Bekasi dan saat ini dalam proses pengajuan ke Gubernur Jawa Barat.
Untuk mendapatkan persetujuan substansi, Henri dan Neneng menyampaikan kepada terdakwa untuk membantu proses penyelesaiannya. Mendengar penyampaian itu, terdakwa kemudian menyampaikan agar awalnya diteruskan kepada Sekretaris pribadi (sekpri) Gubernur Jabar sekaligus kepada Guntoro selaku sekretaris BKPRD/Kepala Dinas Bina Marga Penataan Ruang Pemprov Jabar.
"Kemudian terdakwa meminta kepada Waras menyampaikan kepada Henri Lincoln dan Neneng Rahmi agar menyediakan uang sejumlah Rp 1 miliar guna persiapan terdakwa maju sebagai bakal calon Gubenur Jawa Barat, yang akan dugunakan oleh terdakwa untuk operasional seperti pembelian banner atau spanduk," ujarnya.
Mendengar penyampaian dari terdakwa terkait uang sejumlah Rp 1 miliar, Soleman dan Waras kemudian menyampaikan kepada Henri Lincoln dan Neneng Rahmi di rest area KM 72 Tol Cipularang sembari menyampalkan bahwa permintaan terdakwa terkait uang sejumlah Rp 1 miliar adalah murah karena biasanya sejumlah Rp 3 miliar.
Singkatnya, pemberian uang dengan total Rp 900 juta berlangsung sebanyak tiga kali. Dua kali diterima Waras dan Iwa memerintahkan untuk dibuatkan banner. Sementara yang twrakhir Rp 500 juta diserahkan Waras melaui stafnya Eva diserahkan ke Iwa melalui stafnya yang bernama Deni. 
Beberapa hari kemudian setelah Eva menyerahkan uang sejumlah Rp 500 juta kepada Deni, Waras bertemu dengan terdakwa di kantor DPRD Provinsi Jabar. Pada saat itu Waras menanyakan kepada terdakwa terkait titipan uang melalui Eva dan terdakwa menjawab 'sudah mas, nuhun".
Setelah pemberian uang tersebut, pada Januari 2018, Neneng Rahmi, Henri, Soleman menemui terdakwa di kantornya. Pada pertemuan tersebut, Henri menanyakan tentang RDTR yang belum selesai. Terdakwa kemudian menanyakan "itunya" (uangnya) sudah diserahkan sebagaimana yang disampalkan oleh Terdakwa di rest area KM 72, Henri kemudian menjawab sudah beres.
Mendengar penyampaian Henri tersebut, terdakwa menghubungi Kepala Dinas PUPR Jabar, Guntoro dan meminta agar RDTR Kabupaten Bekasi segera diselesaikan.
Dalam perkara ini, pernbuatan Iwa dianggap bertentangan dengan kewajibannya sebagai penyelenggara negara, yakni selaku Sekda Jabar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 angka 4 dan 6 UU RI Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
Perbuatan Terdakwa Iwa, sebagaimana diatur dan diancam pidana menurut Pasal 12 huruf a sebagaimana dakwaan kesatu, dan pasal 11 sebagaimana dakwaan kedua UU RI No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI No 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UU RI No 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Juncto Pasal 64 ayat (1) KUHPidana. Kedua pasal ini ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara.
Persidangan perkara ini akan kembali dilanjutkan Senin (20/1/2020) karena Iwa tidak mengajukan eksepsi.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR