Gerhana dalam Naskah Kuno Melayu, Beragam Makna

Pariwisata

Sabtu, 11 Januari 2020 | 06:50 WIB

200111065839-gerha.jpg

SETIDAKNYA kata ‘gerhana’ dalam naskah-naskah kuno Melayu disebutkan sebanyak 115 kali sebagaimana didapatkan melalui situsweb Malay Corcondance Project (MCP) yang disusun oleh Ian Proudfoot, seorang akademisi dari Universitas Nasional Australia (ANU).
Dari jumlah total 115 tersebut, 98 di antaranya terdapat pada Kitab Takbir (Tkbr), tujuh pada Hikayat Abdullah bin Abdul Kadir (Abd.H), tiga pada Bustan al-Salatin (BS), dan masing-masing satu kata pada Hikayat Hasanuddin (Hsn), Hikayat Inderaputera (Ind), Muhimmat al-Nafais (MN), Hikayat Pahang (Pah), Sejarah Melayu (SM), Surat kepada Von de Wall (VdW), dan Syair Siti Zubaidah Perang Cina (Zub).

Menurut Syakir NF yang dikutif nu online, Jumat (10/1/2020), kata gerhana dalam naskah-naskah Melayu tersebut memiliki beragam konteks atau motif, meminjam istilah Guru Besar Filologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Oman Fathurahman.

"Pertama, gerhana sebagai sebuah peristiwa alam. Hal ini dijelaskan dalam naskah Abd.H, bahwa gerhana merupakan proses alam yang terjadi saat matahari, bulan, dan bumi sejajar sehingga cahayanya tidak sampai ke bumi. Bahkan, dalam naskah tersebut juga dijelaskan ada gerhana separuh dan penuh," kata mahasiswa Unusia Jakarta dan pengurus PP IPNU ini.

Menurut Jamal Muhammad bin Nur Muhammad Surati yang disebut sebagai seorang yang ahli ilmu falak, ilmu perbintangan atau astronomi. Berikut penjelasannya.
"... maka terlindunglah cahaya matahari itu kepada bumi, maka gelaplah bulan itu barangkali sedikit, barangkali separuh, barangkali semuanya sekali; demikian lagi gerhana matahari itu pun apabila bulan itu bertentangan di antara bumi dengan matahari, maka yaitu melindungkan daripada penglihatan kita separuh matahari itu atau sedikit".

Dalam naskah yang sama juga dijelaskan ada yang menyebut gerhana bukan sebagai peristiwa alam biasa, tetapi terpengaruh dengan mitos-mitos aneh. Disebutkan dalam naskah tersebut, bahwa ada orang yang mengartikan gerhana matahari dan bulan karena bulan sakit, jatuh ke dalam laut lumpur, hingga bulan dimakan ular.

Hal terakhir itu membuat masyarakat melakukan hal-hal yang sekiranya ular itu dapat mengembalikan bulan yang tengah dimakannya, entah dengan memukul lesung atau menembak. Ada pula lelaki dan perempuan yang berteriak, “Uraroh! Lepaskan bulan kami!”.

Melihat peristiwa tersebut, tokoh yang mengerti ilmu falak tersebut tak mampu menahan tawanya sehingga ia pun menjelaskan proses alam sebagaimana disebutkan di atas.

Senada dengan Abd.H, lanjut Syakir, dua kata ‘gerhana’ dalam naskah BS juga menjelaskan gerhana sebagai suatu peristiwa alam. Bedanya, BS mendasarkan penjelasannya dengan ayat-ayat Al-Qur’an. Dalam BS, juga ada satu motif lain, yakni gerhana sebagai suatu konteks peristiwa, bukan sebagai peristiwa itu sendiri.
Di samping itu, motif lain yang ada dalam naskah-naskah Melayu kala menyebutkan kata gerhana adalah memori kolektif, meminjam istilah Prof Oman. Memori kolektif ini, kata Kang Oman dalam Ngariksa Kesembilan Jumat (3/1/2020), bukanlah sebuah ramalan, melainkan hanyalah cerita peristiwa yang pernah terjadi di masa lalu. Lagi pula, sejarah, sebagaimana disebutkan banyak orang, itu berulang. Motif ini dijelaskan sangat rinci dalam naskah Tkbr, terbagi menjadi 28 fasal, dan disebutkan 98 kali.

Editor: Rosyad Abdullah

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR