Selama Sebulan, Bromo Harus Steril dari Kendaraan Bermotor

Pariwisata

Jumat, 10 Januari 2020 | 20:37 WIB

200110202824-selam.jpg

YouTube

BALAI Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) selaku otoritas pariwisata di kawasan ini, menerapkan aturan pada bulan ketujuh kalender Masyarakat Tengger. Biasa disebut juga dengan wulan kepitu, kawasan wisata Bromo Tengger harus bebas dari kendaraan bermotor.

Bulan bebas kendaraan bermotor atau Car Free Month diberlakukan sejak 24 Januari mulai pukul 00.00 WIB sampai dengan 24 Februari 2020 pukul 00.00 WIB. Keputusan ini merupakan kesepakatan bersama antara Balai Besar TNBTS dengan sesepuh masyarakat Tengger.

"Ini merupakan kesepakatan bersama antara berbagai pihak mulai dari TNBTS, sesepuh warga Tengger dan penyedia jasa pariwisata di kawasan ini," kata Kepala Balai Besar TNBTS, John Kenedie, dilansir dari viva.co.id, Jumat(10/1/2020).

Wulan Kepitu adalah bulan ketujuh dalam kalender Masyarakat Tengger dan merupakan bulan yang oleh sesepuh atau tokoh masyarakat Tengger dianggap sebagai bulan yang disucikan. Dalam adat mereka, warga Tengger melakukan ibadah megengan wulan kepitu.

"Pada bulan ini, selama satu bulan, para sesepuh Tengger melakukan laku puasa mutih. Yang bertujuan untuk menahan perilaku atau sifat keduniawian dan lebih mendekatkan diri dengan Tuhan sang Maha Pencipta," papar John.

John mengatakan, sebagai rasa hormat atas megengan wulan kepitu, maka aktivitas di kawasan Kaldera Tengger mulai dari Laut Pasir, Bromo, Savana dan sekitarnya tidak diperkenankan menggunakan kendaraan bermotor.

"Ini merupakan salah satu implementasi 10 cara baru pengelolaan kawasan konservasi yaitu penghormatan terhadap adat atau budaya (kearifan lokal) masyarakat Tengger. Sekaligus merupakan momentum untuk memulihkan ekosistem kawasan Bromo dan sekitarnya," jelasnya.

Lebih lanjut John mengatakan, meski bebas dari asap dan bunyi bising kendaraan bermotor, wisata Bromo tetap dibuka seperti biasa. Hanya saja, aktivitas wisata harus menggunakan kuda dengan catatan wajib menggunakan kantong kotoran kuda. Selain kuda wisatawan boleh bersepeda, memakai tandu atau berjalan kaki.

Namun untuk, kepentingan Dinas Pemerintahan yang bersifat kegawatdaruratan dan patroli pemantauan kawasan dapat menggunakan kendaraan bermotor. Selama kebijakan diterapkan akan dilakukan pengamanan bersama di pintu-pintu masuk.

"Dengan dukungan personel dari Balai Besar TNBTS, Perwakilan adat Masyarakat Tengger, TNI, Polri dan Mitra Balai Besar TNBTS," tandasnya.

Adapun, batas kendaraan tidak diperkenankan masuk ke Kaldera Tengger atau Bromo dan sekitarnya diberlakukan sejak pintu masuk Coban Trisula, Kabupaten Malang, pintu masuk Jemplang, Senduro, Kabupaten Lumajang. Pintu masuk Tengger Lautan Pasir, di Cemorolawang Kabupaten Probolinggo dan Pintu masuk Resort Gunung Penanjakan Wonokitri, di Pakis Bincil, Kabupaten Pasuruan.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR