Tak Laku, Harga Garam Kembali Anjlok

Citizen Journalism

Minggu, 8 Desember 2019 | 15:31 WIB

191208152910-tak-l.JPG

ist

Foto penulis

ISMAIL (30), petambak garam asal Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Jabar hanya bisa mengelus dada. Ismail hanya bisa menimbun hasil produksi garamnya di gudang.

Sebab, pembeli atau tengkulak garam produksi para petambak tak kunjung mampir. Garam hasil panen sebelumnya, dan panen saat ini ditumpuk di gudang yang sama.

Hal yang sama dirasakan Tohari (45), petambak garam yang sekampung dengan Ismail. Tohari menyebutkan sekitar Juli-Agustus lalu harga garam masih di angka Rp 700 per kilogramnya. Saat ini, harga garam yang diproduksi Tohari hanya dihargai Rp 100 per kilogramnya.

"Rp 100 per kilogram itu masih kotor. Belum menghitung upah untuk kuli panggul," kata Tohari.

Salah seorang tengkulak garam di Desa Rawaurip, Dul Goni (40) menyebutkan faktor yang membuat garam hasil produksi petambak tak laku adalah adanya kebijakan impor garam.
(Detikfinance, 7/12/2019)

Garam merupakan salah satu komoditi strategis karena selain merupakan kebutuhan manusia, garam juga digunakan sebagai bahan baku industri.

Indonesia merupakan Negara yang kekayaan alamnya sangat melimpah ruah sehingga dijuluki sebagai Negara maritim dan agraris. Dengan luas laut mencapai 70 persen dari total luas wilayah, Indonesia seharusnya memiliki potensi dan peluang menjadi salah satu Negara pengekspor garam terbesar di dunia mengalahkan Negara-negara pengekspor garam lainnya seperti Belanda, Jerman, Chili, Kanada, India, dan lain-lain.

Alih-alih melakukan optimalisasi produksi dalam negeri dengan memberikan support pada petani lokal, pemerintah justru mengambil langkah pendek dengan melakukan aktivitas impor.

Sungguh naif, Negara dengan kekayaan lautan yang begitu melimpah masih mengandalkan impor garam dari Negara lain yang notabene kekayaan lautannya lebih rendah dari Indonesia.

Karena itu, pasti ada yang tidak beres ihwal kebijakan pengelolaan komoditas yang proses produksinya sungguh sederhana ini, yaitu dengan cara menguapkan air laut.

Sebanyak-banyaknya sumber daya yang dimiliki oleh suatu Negara apabila tidak dikelola dengan baik dan profesional maka sumber daya tersebut tidak akan bernilai apa-apa bahkan Negara tersebut sedikit demi sedikit akan mengalami kehancuran dari segala bidang.

Semua ini butuh peran negara yang memiliki semangat meriayah (mengatur urusan) masyarakat. Itulah negara yang memiliki visi besar untuk meraih kemerdekaan hakiki dengan mewujudkan kesejahteraan masyarakat tanpa bergantung pada pihak lain.

Itulah negara yang penguasanya memahami bahwa ia mengemban tanggung jawab besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Karena itu, ia akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan amanahnya serta tidak menyelisihi perintah Allah dan RasulNya. Wallahu a’lam.

Pengirim
Tawati
Penulis Muslimah Majalengka
[email protected]

Seluruh materi dalam naskah ini merupakan tanggung jawab pengirim. Gugatan, somasi, atau keberatan ditujukan kepada pengirim.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR