Tren Penyakit Menular

Citizen Journalism

Rabu, 4 Desember 2019 | 09:38 WIB

191204093900-tren-.jpg

TIDAK ada kebaikan bagi suatu negeri ketika memiliki tren baru hasil dari sebuah kerusakan. Sebagaimana yang terjadi pada anak-anak bangsa saat ini, menjadikan penyakit menular seksual sebagai gaya hidup kekinian. Model baru yang terus diikuti, karena tidak ingin ketinggalan zaman.

Sebagaimana dilansir dari Republika, Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia (KSMSI) mencatat penderita infeksi menular seksual (IMS) menunjukkan tren meningkat sejak 2016 lalu. Kemudian ada pergeseran bahwa waria bukan lagi faktor utama, melainkan kontak seksual lelaki suka lelaki (LSL) atau gay. Populasinya meningkat drastis, bahkan lebih banyak dari ibu rumah tangga.

"Padahal IMS sangat erat hubungannya dengan Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS). Satu kali terkena IMS juga berisiko terkena HIV/AIDS," ujar Ketua Kelompok Studi Infeksi Menular Seksual Indonesia (KSIMSI) Hanny Nilasari saat temu media di Kementerian Kesehatan Jakarta, Rabu (26/11)

Masih dalam rangka peringatan Hari AIDS Sedunia, Hanny menjelaskan bahwa IMS seperti sifilis yang disebabkan bakteri yang sangat kronis kalau belum sampai menjalar ke otak maka tidak akan bermanifestasi klinis. Kalaupun menampakkan gejala, hanya di kelamin pasien yang menjadi tempat kontaknya melakukan kontak seksual.

Kemudian masuk dalam aliran darah dan muncul manifestasi di kulit, itupun bisa sembuh sendiri dan kadang-kadang bisa tidak terdeteksi karena pasien melihat kulitnya hanya merah biasa, bisa hilang sendiri dan dia berusaha mengobatinya sendiri. "Pada saat itu infeksi makin masuk dalam darah dan semakin berat, kemudian baru terdeteksi," ujarnya.

Ia menambahkan sama halnya pada perempuan yang terinfeksi menderita penyakit gonorhoe tidak menunjukkan gejala khas. Penderita hanya mengeluh berupa keputihan biasa seperti perempuan normal.  "Jadi sangat sumir kalau dilihat gejala klinisnya. Karena itu ia harus disetop dan dicegah melalui preventif dengan cara menurunkan angka kejadian kesakitan IMS dan HIV," kata Hanny.

Berdasarkan data terakhir yang dihimpun oleh Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Cirebon, hingga Oktober 2019, terdapat 1.192 penderita HIV/AIDS di Kota Cirebon. Dari jumlah itu, 70 kasus diantaranya merupakan temuan kasus baru yang dicatat oleh KPA Cirebon. Penyebaran HIV bukan saja dari Wanita Tuna Susila (WTS) dan transgender, namun juga pelaku seks sejenis.

Hal yang sama terjadi, bahwa Dinas Kesehatan Kabupaten Bekasi mencatat sepanjang 2019, jumlah penderita HIV/AIDS bertambah 105 pasien, di mana perilaku hubungan pria sesama jenis atau gay menjadi penyebab tertingginya. Pemerintah Kabupaten pun mengingatkan para istri untuk aware terhadap suami. (Detiknews.com, 3/12/2019).

Sayangnya pemerintah masih berkutat pada pencegahan yang sifatnya pragmatis, yaitu dengan edukasi agar tidak gonta-ganti pasangan, penjelasan tentang penyebaran HIV/AIDS, atau larangan melakukan seks bebas. Sementara persoalan yang dihadapi masyarakat, jauh lebih kompleks dari itu.

Masyarakat memerlukan solusi yang mengakar agar penyakit ini musnah dan pelakunya berhenti sebab mati gaya, hingga akhirnya tidak perlu lagi menjadi tren. Solusi sahih yang utama adalah mengganti sekularisme dengan Islam. Konsep pengurusan umat yang berlandaskan takwa, akan menutup seluruh paham kebebasan yang menyerbu suatu negeri.

Karenanya pemerintah berwenang menutup seluruh konten porno. Tidak ada kebaikan yang datang dari pornografi atau pornoaksi. Kemudahan masyarakat mengaksesnya, hanya akan menggiring mereka pada kesesatan. Sebab Islam telah memberi rambu yang tepat untuk menjaga pemikiran agar tetap bersih dalam menegakkan yang haq.

Begitu pula halnya untuk menutup perzinahan dengan pergaulan terpisah antara laki-laki dan perempuan. Tidak khalwat (berdua-duaan), tidak ikhtilat (bercampur), menutup aurat, dan berbagai aturan lainnya dalam sebuah sistem pergaulan Islam. Jika ini dipatuhi, maka pintu kemaksiatan tidak lagi terbuka. Tertutup pula penyebaran penyakit seksual yang menular.

Serta yang tidak kalah pentingnya adalah sistem persanksian. Hukum yang tegas bagi pelaku zina atau suka sesama jenis akan membuat jera, hingga merekapun enggan coba-coba. Hukum rajam bagi pezina, dan hukuman mati dijatuhkan dari ketinggian bagi pelaku seks sesama jenis. Ketakwaan masyarakat dijaga melalui penerapan aturan dan persanksian sesuai aturan Allah.

Inilah bentuk penjagaan paripurna pada seluruh urusan umat. Tidak hanya mendesain pendidikan berkualitas tinggi, menanamkan nilai moral, akhlak dan adab. Akan tetapi membumikan 'budaya malu', agar pelaku kemaksiatan tidak eksis di dunia nyata maupun maya.

Dengan melalui upaya sistemik yang luar biasa ini, akan memberi arah pandang yang jelas kepada masyarakat, bahwasanya tren terbaik adalah seluruh aktivitas yang menjadikan manusia bangkit mengisi peradaban dunia dengan keimanan kepada Allah ta'ala, bukan tren abal-abal membuat bangsa lemah dan sakit hingga tidak mampu membangun negeri.

Penulis Lulu Nugroho

Muslimah Revowriter & WCWH Cirebon.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR