Bibit Intoleransi Sudah Ditanamkan Sejak Dini di Sekolah

Bandung Raya

Selasa, 3 Desember 2019 | 16:51 WIB

191203165257-bibit.JPG

Hj. Eli Siti Wasliah

BERDASARKAN survei Wahid Institute tahun 2016, sekitar 60 persen aktivis agama di sekolah yang tergabung dalam rohani Islam bersedia melakukan jihad ke Suriah.

Di samping itu, hasil survei UIN Syarif Hidayatullah pada tahun 2017, dari 1.522 siswa, 337 mahasiswa, dan 264 guru di 34 provinsi, sekitar 58,5 persen responden memiliki pandangan keagamaan yang radikal.

Fakta empirik tersebut menunjukkan bibit intoleransi sudah ditanamkan sejak usia dini di sekolah-sekolah, dalam intensitas yang cukup mengkhawatirkan. Dan itu dimulai oleh mindset dan sikap bahkan siap untuk melakukan tindakan intoleran.

Hal tersebut diungkapkan Prof. Dr. Atie Rachmiatie, M.Si. dalam Annual Conference of Communication, Media and Culture (ACCOMAC) II 2019 yang dilaksanakan Unisba di Aula Unisba, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Selasa (3/12/2019).

"Walaupun data ini tidak mewakili kuantitas penduduk Indonesia sebanyak 260 juta jiwa, harus menjadi pertimbangan semua pihak untuk membangun Indonesia dalam suasana damai, nyaman dan tidak ada kekerasan serta kepedihan hidup," kata Atie.

Menurutnya, tantangan zaman di era disrupsi atau era industri 4.0 cukup banyak, di antaranya intoleransi, potensi konflik, kekerasan, moral decadence, dll.

Atie menyebutkan, di antara faktor penyebab terjadi intoleransi dan konflik adalah penguatan nilai dan ideologi eksklusivisme agama. Ini disebabkan, bahwa nilai merupakan manifestasi dari peningkatan spiritualitas.

"Ada tiga jenis ancaman yang terkait dengan praktik keagamaan, ekstremisme dengan kekerasan (seperti gerakan ISIS), ekstremisme tanpa kekerasan (seperti HTI dengan Khilafah), dan eksklusivisme religius," katanya.

Dalam bidang politik, lanjutnya, sistem yang bertujuan untuk menetapkan hak yang setara bagi warga negara atau pelaksanaan demokratisasi politik, ternyata mengarah pada ekses negatif. Kondisi ini dieksploitasi oleh sekelompok politisi yang berhasrat memiliki kekuatan politik untuk mengumpulkan suara dengan cara keluar dari norma dan peraturan, seperti kampanye hitam, pembunuhan karakter, menyebarkan berita palsu, dll.

"Di sektor ekonomi atau bisnis. Ini disebabkan karena tingginya ketimpangan orang miskin dan orang kaya. Serta peraturan yang belum ditegakkan secara optimal, timbulnya konflik yang disebabkan oleh unsur ekonomi," jelasnya.

Dalam bidang sosial-budaya, lanjutnya, perbedaan dalam tradisi kelompok agama, etnis, ras termanifestasi dalam pola pikir, sikap, pola tindakan adalah penyebab konflik jika tidak dikelola dengan baik.

Di bidang hukum dan regulasi, faktanya masih banyak aturan yang bertentangan secara vertikal dan horizontal. Demikian juga dalam kebijakan dan implementasi, ada interpretasi yang berbeda satu sama lain, menyebabkan konflik seperti, UU KPK, UU Kekerasan.

"Untuk mengantisipasi hal tersebut di antaranya dengan adanya liternasi agama, dialog antar agama," kata Atie.

Ia menambahkan, peran komunikasi dalam pendidikan publik, baik media arus utama maupun media sosial memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap masyarakat saat ini. oleh sebab itu komunikator harus bertindak sebagai dirigen, pemersatu, pendidik, motivator, jadi jalan tengah, teladan, dan inklusif.

Sementara itu, Direktur Kerja Sama Sosial & Budaya Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Riaz Januar Putra Saehu menyambut baik digelarnya ACCOMAC II 2019 ini.

Diharapkan dengan adanya seminar dan diskusi ini, nilai-nilai tentang toleransi dan modernisasi di antara negara ASEAN bisa seragam.

"Masyarakat negara ASEAN sekitar 620 juta orang, sekitar 30 persen generasi muda. Tentunya ini tantangan kita, bagaimana menjaga disinformasi dan hoaks di antara generasi muda di ASEAN," katanya

Rektor Unisba, Prof. Edi Setiadi, mengatakan, tujuan dari konferensi ini untuk memahami fenomena dan dampak Revolusi Industri 4.0 dalam konteks antaragama komunikasi dan mempersiapkan langkah-langkah untuk meningkatkan kompetensi dan kualifikasi dosen, peneliti dan praktisi.

"Konferensi ini diharapkan akan memberikan banyak manfaat dan hasilnya dapat diimplementasikan untuk meningkatkan pengembangan komunitas ASEAN dan juga untuk meningkatkan kerja sama antara universitas dan industri di Asia," ujar Edi.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR