Aktivis Buruh Ini Nekat Ikut Bursa Balon Bupati Bandung

Bandung Raya

Sabtu, 30 November 2019 | 22:28 WIB

191130213316-aktiv.jpg

SOSOK Uben Yunara, khususnya di kalangan para buruh di Kabupaten Bandung sudah tidak asing lagi. Ia merupakan salah satu aktivis pejuang buruh yang tergabung dalam Pimpinan Cabang Serikat Pekerja Tekstil Sandang dan Kulit Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Kabupaten Bandung. 

Di tengah kesibukannya sebagai pengelola organisasi buruh dengan anggota puluhan ribu orang, Uben Yunara mencoba keberuntungan menjadi bakal calon (balon) bupati Bandung melalui Partai Golkar Kabupaten Bandung.

Bahkan, ia sudah melalui proses tahapan penjaringan bursa kandidat bakal calon tersebut. 

Ini sebuah langkah nekat yang dilakukan Uben Yunara, meski yang bersangkutan memiliki modal pas-pasan. Ia pun mengaku tanpa bantuan pihak lain, khususnya dalam permodalan. 

"Ya, uang sendiri. Tanpa bantuan orang lain," ucap Uben Yunara kepada  galamedianews.com di Dayeuhkolot, Sabtu (30/11/2019). 

Sebagai bentuk keseriusannya mengikuti bursa calon bupati Bandung pada Pilkada Bandung 2020, Uben Yunara sudah mengembalikan formulir bakal calon bupati Bandung ke DPD Partai Golkar Kabupaten Bandung pada Kamis (28/11/2019) malam. 

"Mengembalikan formulirnya pun rereunceupan, tidak diketahui banyak orang. Termasuk oleh media," ucapnya. Apa yang mendorong Uben Yunara nekat mencalonkan diri menjadi Bandung satu? Banyak keinginan yang ingin dibuktikan dalam bentuk karya nyata di kalangan masyarakat. 

"Karena saya sudah lama menjadi pengurus buruh dan hidup bersama buruh, saya merasakan betul apa yang menjadi harapan ribuan buruh di Kabupaten Bandung," ujar Uben dengan nada optimis.

 Salah satu harapannya yang ingin direalisasikan melalui programnya itu, imbuh Uben, ketika dirinya diusung menjadi Bupati Bandung ingin memberikan kesempatan kepada masyarakat umum, khususnya layanan transfortasi gratis. 

"Masyarakat tak lagi harus mengeluarkan uang untuk biaya transfortasi ketika akan pergi kerja atau sekolah. Angkutan gratis itu bisa dimanfaatkan kalangan para buruh saat pergi dan pulang kerja," katanya. 

Menurutnya, angkutan gratis itu, anggaranya ditanggung pemerintah. Misalnya, pemerintah bekerjasama dengan pengusaha angkutan umum. 

"Dengan cara itu, saya yakin disambut baik oleh masyarakat umum. Terutama bagi warga pencari kerja, tidak harus mengeluarkan biaya transfortasi," katanya. 

Ia juga ingin menjalin kerjasama dengan para pengusaha industri untuk mengutamakan para pekerja warga sekitar. Artinya, warga yang berdekatan dengan perusahaan tidak harus menenteng map lamaran untuk mencari pekerjaan. 

"Pemerintah diharapkan nantinya bisa mendorong pengusaha untuk mengutamakan tenaga kerja warga lokal. Tidak harus menerima pekerja jauh dari kawasan pabrik. Tapi bukan artinya kita menolak eksodus warga luar daerah. Tetapi warga lokal harus lebih diutamakan," katanya.

Menurutnya, untuk mempersiapkan tenaga kerja lokal siap bekerja dan bersaing, negara harus hadir di tengah-tengah masyarakat. Yaitu menyediakan fasilitas pelatihan tenaga kerja yang siap kerja, baik dalam bidang perindustrian maupun keahlian lainnya. 

"Dengan cara seperti ini ada sinergitas antara pemerintah dengan para pengusaha untuk membantu masyarakat yang membutuhkan pekerjaan," katanya.

Ia juga ingin mendorong para investor masuk ke Kabupaten Bandung untuk menciptakan lapangan kerja baru. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, lapangan kerja baru harus menjadi perhatian pemerintah. 

"Makanya harus ada kemudahan masuknya investor ke Kabupaten Bandung dalam upaya mengurangi angka penangguran bagi warga usia kerja," ucapnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR