Ketakutan Menghadapi Masa Depan, Begini Langkah yang Harus Dilakukan Seorang Muslim

Ragam

Sabtu, 30 November 2019 | 01:59 WIB

191130005950-ketak.jpg

ESB Professional/Shutterstock

Ilustrasi.

SEBAGIAN manusia kerap merasa khawatir terkait masa depannya. Seakan-akan masa mendatang tidak bakal memberikan keberuntungan kepadanya.

Pikiran semacam itu sepintas memang bisa dimaklumi, terutama jika melihat kondisi faktual yang terus berkembang. Namun secara prinsip, cara berpikir demikian harus dibuang jauh-jauh.

Hal penting untuk selalu diingat sesungguhnya kehidupan dunia ini bukanlah tempat yang aman, indah, dan nyaman secara hakikat. Akan selalu ada yang membuat kehidupan ini berguncang dan penuh kesulitan-kesulitan.

Allah SWT berfirman, "Wahai manusia, Kami akan menguji kalian dengan kesempitan dan kenikmatan, untuk menguji iman kalian. Dan hanya kepada Kamilah kalian akan kembali” (QS. Al-Anbiya : 35).

Lantas apa yang harus dan idealnya dilakukan oleh seorang muslim dalam situasi sulit?

Pertama, tetap pada apa yang Allah perintahkan. Salat, zakat, puasa, dan menjalankan ibadah-ibadah sunnah lainnya.

Dengan demikian, lakukanlah apa yang Allah perintahkan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Kala manusia berada dalam selimut (kecemasan, kengerian, kekhawatiran, dan ketakutan) Allah perintahkan kita untuk bangun dan membuang selimut itu.

“Pergilah berwudhu dan salat! Kamu akan mendapakan kekuatan-kekuatan hingga kamu bebas dari ketakutan yang menyelimutimu.” (Buku Sistematika Wahyu Metode Alternatif Kebangkitan Islam Kedua, halaman: 150).

Jika kita mengingat kembali pada sejarah Nabi Muhammad Shallallahu "alaihi Wasallam, maka setiap malam beliau tidak pernah meninggalkan salat tahajud (qiyamul lail).

Kedua, lakukanlah apa yang Allah perintahkan seperti sabar, dzikir, tilawah, tawakkal, hijrah, dan lain sebagainya. Semua itu adalah amalan kunci agar kita mendapatkan kekuatan menghadapi buruknya situasi dan kondisi.

Prinsipnya, bagaimanapun keadaan bumi dan langit, iman adalah kuncinya. Oleh karena itu, Allah tegaskan agar kita benar-benar memperhatikan keimanan ini.

Allah SWT berfirman, "Janganlah kamu lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, karena kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman” (QS. Ali Imran : 139).

Ketiga, bersatu dan budayakan musyawarah di kalangan umat. Kita tidak mungkin maju sendiri memperbaiki keadaan. Kita juga mustahil menjadi yang terkuat di dalam memperjuangkan kebenaran, musyawarah atau kolaborasi menjadi syarat penting umat Islam dapat hidup lebih baik.

Dalam situasi sulit, umat harus saling memperkuat persatuan berpegang pada tali (ajaran) Allah dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak bercerai berai. Pada saat yang sama membudayakan musyawarah, komitmen, dan bertawakkal atas itu semua.

Langkah-langkah di atas tentu hal yang begitu umum di kalangan umat. Akan tetapi, itu pula dasar yang harus kita tanam agar umat Islam bisa tampil sebagai umat terbaik, umat yang mampu melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar dan meneguhkan keimanan kepada Allah.

Karena itu, janganlah takut dan jangan pula bersedih hati wahai kaum muslimin.

Editor: H. D. Aditya

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR