Ribuan Siswa di Jawa Barat Deklarasikan Anti Hoax

Dinas Pendidikan Jabar

Jumat, 29 November 2019 | 20:54 WIB

191129205520-ribua.jpg

SEBANYAK 1.150 siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pekerjaan Umum (PU) Negeri Bandung, mengikuti Deklarasi Anti-Hoax dan Menolak Ajakan Anarkis yang berlangsung di SMK PU Negeri Bandung, Jln. Garut No.10, Kota Bandung, Jumat (29/11/2019). Deklarasi ini bertujuan mencegah terjadinya penyebaran hoax dan radikalisme di kalangan pelajar yang dapat merusak pola pikir siswa.

Kasat Binmas Polrestabes Bandung, AKBP Sukana Hermansyah mengatakan, fenomena yang terjadi sekarang ini, internet menjadi kebutuhan karena memberikan kemudahan. Dengan internet, belajar menjadi lebih mudah, perjalanan menjadi cepat dan lancar, serta komunikasi jarak jauh menjadi terasa sangat dekat.

“Namun sayang, manfaat teknologi internet tidak selalu menguntungkan. Ada juga dampak buruknya, seperti penyebaran hoax di media sosial yang semakin tidak terhindar,” ujarnya.

Menurut Hermansyah, pelajar menjadi salah satu pengguna internet terbesar. Mengingat, mereka hampir tidak bisa lepas dari gawai. Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi langkah guna mencegah terjadinya penyebaran hoax pada siswa. Generasi penerus harus bisa menjadi garda terdepan dalam mencegah penyebaran berita bohong.

“Hoax sangat berbahaya bagi kehidupan kita. Hoax harus dicegah dan dihantam. Cara mencegahnya melalui 4 C, yaitu cermati, cek sumber berita, cari perbandingan berita, dan cepat cari klarifikasi," tegasnya seperti dikutip laman disdik.jabrlarprov.go.id.

Tidak hanya itu, Hermansyah juga mengajak milenial agar bijak menggunakan media sosial. Media sosial bukan ruang privat, melainkan ruang publik. "Berarti, apa pun yang kita tulis, dapat dibaca oleh orang lain. Bahkan, rekam jejak digital tidak dapat dihapus. Maka dari itu, diperlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam berucap serta membuat atau menyebarkan berita bohong di internet. Jika tidak, berbagai ancaman dan hukuman dapat diberikan kepada pelaku penyebaran hoax, hate speech, dan pembuat onar mengenai berita bohong di masyarakat," paparnya.

Senada dengan Hermansayah, Kepala Cabang Dinas Wilayah VII, Endang Suliastuti menyatakan, deklarasi hoax ini sangat penting. Terlebih, anak-anak milenial tidak bisa lepas dari internet. “Dengan adanya internet ini, pengaruh media sosial besar sekali. Sehingga, diharapkan anak-anak milenial bisa memanfaatkan jari-jarinya dengan baik dan benar. Karena, kalau jari-jarinya salah menyebarkan pesan dan tidak menyaring informasi maka apa yang di-share itu akan menjadi masalah,” tutur Endang.

Endang berharap, anak-anak milenial bijak dalam memanfaatkan jarinya. Melalui jari, siswa bisa menentukan masa depannya sendiri. Apalagi, jejak internet tidak bisa dihapus. “Diharapkan, siswa mengerti dalam menyikapi suatu berita. Jadi, sebelum menyebarkan harus cek dan ricek terlebih dahulu,” imbaunya.

Editor: Efrie Christianto

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR