Beban Biaya Kesehatan Masyarakat Terbesar untuk Penyakit Tidak Menular

Nasional

Jumat, 29 November 2019 | 12:28 WIB

191129122906-beban.jpg

Tok Suwarto

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr. Anung Sugihantono, bersama Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, meluncurkan Kampus Sehat di kampus UNS Kentingan Solo

BEBAN biaya kesehatan terbesar yang ditanggung masyarakat Indonesia saat ini, adalah untuk pengobatan yang disebabkan oleh penyakit tidak menular (PTM). Jumlah kerugian ekonomi akibat kematian dini dan sakit, diperkirakan mencapai sepertiga dari gross domestic product (GDP)  nasional dan 70 persen di antaranya disebabkan PTM.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Anung Sugihantono, M.Kes, mengungkapkan masalah itu dalam pencanangan Kampus Sehat di Universitas Sebelas Maret (UNS), Jumat (29/11/2019).

UNS menjadi Kampus Sehat ke-4 yang ditetapkan Kemenkes dan peluncurannya dilakukan Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, dr Anung Sugihantono M.Kes bersama Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, di halaman Rektorat Kantor Pusat dr.  Prakosa, kampus Kentingan.

"Indonesia saat ini menghadapi transisi epidemiologi yang mengakibatkan Indonesia mengalami beban ganda penyakit, yaitu terjadinya pergeseran pola penyakit di mana penyakit tidak menular meningkat secara signifikan dan menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. Sedangkan penyakit menular belum sepenuhnya teratasi dan masih menjadi momok yang menakutkan, seperti HIV/AIDS, Tuberkulosis, Malaria dan DBD," katanya.

Keadaan itulah, yang menurut dr. Anung, mengakibatkan beban biaya kesehatan terbesar di Indonesia dengan jumlah kerugian ekonomi akibat kematian dini dan sakit mencapai sepertiga GDP nasional dan 70 persennya disebabkan oleh PTM.

Sebagian besar PTM tersebut dapat dicegah dengan mengendalikan faktor risiko utama PTM, yakni berupa kebiasaan  merokok, kurang aktivitas fisik dan pola makan tidak sehat.

Menyinggung peluncuran Kampus Sehat, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes menyatakan, perguruan tinggi merupakan wadah pendidikan generasi muda dan tempat berkumpulnya kelompok usia produktif yang potensial membentuk agent of change bagi sektor kesehatan.

Ia memandang, kampus memiliki potensi dan nilai tambah untuk berkontribusi dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.

"Berdasarkan pertimbangan itu, WHO pada 1998 memperkenalkan konsep Health Promoting University yang merupakan salah satu upaya promosi kesehatan berbasis lingkungan melalui pendekatan sosio-ekologis. Melihat manfaat dari dikembangkan konsep Healthy University, Kemenkes membuat terobosan untuk optimalisasi pencegahan dan pengendalian penyakit pada kelompok usia produktif di lingkungan perguruan tinggi yang disebut dengan Program Kampus Sehat," jelasnya.

Dalam kaitan itu, dr. Anung berharap perguruan tinggi memiliki kebijakan yang mendukung terbentuknya lingkungan bersih, sehat dan aman, dengan sistem pengelolaan sampah dan limbah yang baik, sarana dan prasarana yang memenuhi standar keamanan, kesehatan dan ramah disabiltas, serta terdapat kantin sehat.

Rektor diminta menerbitkan peraturan tentang kawasan tanpa rokok, alkohol, dan napza, serta kawasan bebas kekerasan, upaya deteksi dini PTM dan kesehatan jiwa yang dilaksanakan secara rutin dan berkala.

Rektor UNS, Prof. Dr. Jamal Wiwoho, seusai peluncuran menyatakan, pencanangan UNS sebagai Kampus Sehat karena pertimbangan banyak kegiatan yang dilakukan UNS, seperti kegiatan CERDIK berupa cek kesehatan secara rutin, Enyahkan Asap Rokok, Rajin Aktifitas Fisik, Diet Seimbang, Istirahat Cukup dan Kelola Sehat.

“Di UNS cek kesehatan akan dilakukan secara rutin untuk pimpinan dan calon pimpinan UNS. Kemudian tidak ada lagi asap rokok di UNS, apalagi di dalam kantor. Kegiatan lainnya, rajin aktifitas fisik yang sudah kita lakukan tiap hari Jumat dengan senam bersama, diet seimbang berupa snack yang diperbanyak buah dan sayur, serta istirahat cukup dan kelola stres,” tutur Prof. Jamal.

Saat ini Kampus Sehat baru diujicoba di empat perguruan tinggi, yaitu Universitas Indonesia, Universitas Andalas, UNS dan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pada 2020 mendatang, program Kampus Sehat akan diperluas ke lima kampus lain di Indonesia.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR