IFS: Bali Fashion Trend Ajang Pertemuan Desainer dan Buyer

Nasional

Jumat, 29 November 2019 | 11:43 WIB

191129115205-ifs-b.jpg

ist

Ajang Fashion Show Bali Fashion Trend tahun ini dinilai punya nilai tambah dan kesan yang berbeda bagi industri fashion di Indonesia. Setidaknya demikian pengalaman yang dirasakan Italian Fashion School (IFS).

Direktur IFS, Diora Agnes mengatakan, selain para desainer dari berbagai sekolah fashion, ajang fashion show itu juga mendatangkan para pembeli (buyer). Dengan demikian, ajang ini sekaligus menjadi tempat pertemuan antara desainer dengan pembeli.

“Ajang Bali Fashion Trend ini mendatangkan pecinta industri fashion baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Ini sungguh menarik dan kesempatan bagus untuk para desainer muda yang ingin menunjukkan karyanya,” kata Diora Agnes, dalam keterangan tertulis yang dikirim ke redaksi galamedianews.com, di Jakarta, Jum’at (29/11/2019).

Diora bercerita, IFS kali ini mengikut sertakan dua desainer berbakat dalam ajang Bali Fashion Tren yang bertemakan “Spring Summer 2020”. Kedua orang itu adalah Amelia Nurma Sungkawa dan Gerry. Amelia yang punya brand Lyah itu menonjolkan karyanya yang ingin membuat kaum hawa tampak seksi, elegan classy sekaligus modern.

Amelia, kata Diora, lantas menamai koleksinya sebagai “Rose Petal Magnetic” yang terinspirasi dari kelopak bunga mawar yang memancarkan keindahan dan menarik perhatian. Lalu, bagaimana dengan Gerry?

Gerry yang membawa brand “FORESTER” ingin menunjukkan karyanya secara eksklusif. Lewat koleksi bertajuk “Public Domain”, Gerry memadukan dunia seni dan fashion. Seni, kata Gerry, sering dikenal sebagai bentuk ekspresi diri yang istimewa yang dipamerkan kepada khalayak.

“Penampilan kedua desainer ini mendapat sambutan postif dari para pengunjung Bali Fashion Trend. Bahkan ketika karya Gerry dimunculkan, para pengunjung memberi applause yang meriah,” kata Diora.

Lalu apa yang bisa dipetik dari ajang kali ini? Menurut Diora, setiap desainer terutama murid-murid yang belajar di IFS bisa mendapat kesempatan yang sama seperti Amelia dan Gerry itu. Terlebih metode belajar di IFS sifatnya semi-privat dangan kurikulum berstandar Italia.

IFS menggunakan beberapa buku sebagai referensi di antaranya buku Il Modelismo dan Il Figurino yang bisa didapatkan secara mudah lewat online. Jadi, murid-murid benar-benar bisa mempelajari fashion design dan pattern making secara mendetail dan hanya hitungan bulan mereka sudah punya skill mumpuni.

“Kami memang berkomitmen untuk itu. Sejak IFS didirikan, kami ingin mencetak desainer-desainer berbakat yang bisa unjuk karya dan prestasi baik di dalam maupun di luar negeri. Dan kami juga ingin menegaskan Italian Fashion School satu-satunya merek yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM dan berlokasi di Jalan Kramat Pela ini. Jika ada yang memakai merek ini di luar dari lokasi ini maka itu bukan kami. Juga kami menjalin kerja sama dengan sekolah fashion dari Italia yakni MKS Milano Fashion School,” papar Diora menutup

Editor: boedi azwar

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR