Bejat, Pemilik Warkop Ini Tega Sodomi 6 Anak

TKP

Jumat, 29 November 2019 | 11:12 WIB

191129111104-bejat.jpg

dok

ilustrasi

APA yang dilakukan MNM (50) benar-benar bejat. Ia diduga telah melakukan pencabulan terhadap enam orang anak di bawah umur.

Akibat perbuatannya, pemilik warung kopi di Desa/Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur itu terpaksa harus menghabiskan masa tuanya di dalam penjara. Ia ditangkap aparat Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur, baru-baru ini.

Direktur Reskrimum Polda Jatim, Kombes Pol. R Pitra Andrias Ratulangie menjelaskan, tersangka sudah menjalani aksi cabulnya sejak tahun 2008. Polisi menduga korban lebih dari enam.

Ulah bejat tersangka baru terbongkar setelah keenam korban melapor ke polisi tahun ini. Keenam korban rata-rata usia 15-17 tahun dan dicabuli pada tahun 2018 lalu. "Korban semuanya laki-laki," kata Pitra di Markas Polda Jatim di Surabaya, Jumat (29/11/2019).

Tersangka mudah menjaring para korbannya karena memiliki usaha warung kopi di sebelah rumah tinggalnya. Rata-rata korban adalah pelanggan warkop. Setelah diakrabi, tersangka kemudian merayu korban untuk berasyik-masyuk sejenis dengan iming-iming uang. "Tersangka ini, maaf-maaf, dalam bahasa kasarnya melakukan sodomi," ujar Pitra dilansir dari vivanews.

Seperti umumnya laki-laki, tersangka sebetulnya juga berkeluarga dan bahkan memiliki anak. Dia tidak enggan menceritakan apa musabab suka kepada laki-laki di bawah umur.

Tersangka mengamini bahwa dirinya berbuat cabul kepada korban-korbannya dengan iming-iming uang, biasanya Rp 200 ribu. Tapi dia membantah menyodomi korban. "Hanya menggesek-gesekkan saja," ujarnya.

Kabis Humas Polda Jatim, Kombes Pol. Frans Barung Mangera mengatakan, kasus tersebut adalah satu di antara ratusan kasus kekerasan seksual terhadap anak yang terjadi di seluruh daerah di Jatim sepanjang tahun 2019, yakni 589 kasus se-Jatim. "Meski menurun (dari tahun sebelumnya), angkanya masih cenderung tinggi," katanya.

Tokoh Lembaga Perlindungan Anak, Seto Mulyadi alias Kak Seto, yang hadir di lokasi mengamini bahwa angka kekerasan seksual masih cenderung tinggi. Dia sepakat ancaman hukuman berat harus diterapkan sebagai penjera, termasuk hukuman kebiri kimia dengan catatan sebagai terapi.

"Di samping itu langkah preventif perlu dilakukan dengan melibatkan masyarakat, karena tidak mungkin hanya dengan mengandalkan polisi," tandasnya.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR