P2M UNS Dampingi Warga Desa dalam "Akselerasi Kampung Selo Beraksi"

Nasional

Kamis, 28 November 2019 | 16:18 WIB

191128161922-p2m-u.jpg

Tok Suwarto

Desa Pojok, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo, yang dikembangkan sebagai desa wisata edukasi dengan pendampingan Tim P2M UNS dalam program "Akselerasi Kampung Selo Beraksi"

POTENSI masyarakat pedesaan dalam memanfaatkan sumber daya lokal untuk pengembangan ekonomi, akhir-akhir ini sudah bermunculan. Namun masyarakat desa belum mampu mengakselerasi pertumbuhan potensi tersebut, akibat kendala berbagai keterbatasan.

Di antara masyarakat yang telah merintis pemanfaatan potensi sumbet daya lokal itu, adalah warga Desa Pojok, Kecamatan Tawangsari, Kabupaten Sukoharjo. dalam rangka mengembangkan desa wisata edukasi. Di desa yang terletak di arah selatan Kota Solo tersebut, warga desa di antaranya membuat rintisan tanaman sayur-mayur secara hidroponik, mengembangkan kerajinan, pemanfaatan limbah plastik untuk cinderamata, memanfaatkan lbah untuk pupuk dan lain-lain sebagai daya tarik wisata.

"Kami mengidentifikasi, di desa seperti Desa Pojok ada tiga permasalahan dalam pengembangan desa wisata. Warga desa masih lemah dalam memahami pentingnya tata kelola ruang dan lingkungan, unit-unit kegiatan yang dilakukan warga desa kurang optimal, promosi dan pemasaran desa wisata maupun produk kreatif, serta unit usaha sayur organik masih kurang memadai,” ujar Ari Pitoyo, Ketua Tim Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P2M) Universitas Sebelas (UNS) Solo, kepada wartawan, Kamis (28/11/2019).

Dia bersama tim yang terdiri dari tiga orang, sejak Maret 2019 melakukan program pendampingan kepada warga Desa Pojok, untuk mengembangkan desa wisata bertema "Akselerasi Kampung Selo Beraksi".

Dalam mendampingi warga desa dalam program "Akselerasi Kampung Selo Beraksi" yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian Lingkungan Hidup (PPLH) UNS tersebut, tim P2M yang terdiri dari Ari Pitoyo (FMIPA), UNS, A. Eko Setyanto (FISIP) dan R. Kunto Adi (FP), memberikan edukasi berupa penerapan teknologi hidroponik, dekomposing dan digitalisasi penasaran produk kreatif unggulan daerah, seperti kerajinan tenun, sovenir dari limbah kain dan plastik. Menurut Ari, beberapa kendala di antaranya yang terkait dengan tata ruang, seperti kebutuhan dan kemudahan informasi menuju lokasi kawasan diajarkan kepada warga desa.

"Kita menunjukkan kepada warga desa tentang perlunya peremajaan dan pengecatan ulang spot-spot di area wisata, penanganan problem lingkungan berupa limbah sampah dan masalah ternak dan sebagainya perlu diperhatikan. Masalah limbah dan sampah membutuhkan teknologi tepat guna, sehingga dapat memberikan nilai tambah secara estetika, sekaligus berdampak ekonomi dengan cara dikonversi menjadi pupuk atau produk turunannya," jelasnya.

Menyinggung belum optimalnya unit-unit kegiatan, Ketua Tim P2M UNS itu mencontohkan antara lain dalam penanaman sayur mayur pada unit hidroponik. Dalam mengurangi suhu di rumah kaca ruang hidroponik yang berlebih, para petani terpaksa memasang paranet untuk peneduh.

"Upaya ini kurang efektif dalam mengurangi suhu di dalam rumah kaca, karena berakibat intensitas dan kualitas cahaya yang dibutuhkan tanaman tidak sesuai," sambungnya.

Sebagai solusi untuk menurunkan suhu di ruang hidroponik, tim menyarankan agar petani menggunakan aerasi, sehingh suhu rumah kaca turun tanpa harus mengorbankan kualitas cahaya. Ari menegaskan, unit-unit hidroponik juga membutuhkan beberapa instalasi baru untuk mengejar kapasitas produksi.
Ari berharap potensi Desa Pojok sebagai tujuan wisata edukasi lebih digencarkan promosi dan pemasarannya. Tim menyebut terobosan-terobosan kreatif untuk promosi dan pemasaran destinasi wisata dapat memanfaatkan teknologi informasi yang terus berkembang.

“Kami juga mencoba menyodorkan solusi pembuatan alat decomposer limbah organik, hidroponik dengan ruang berpengatur suhu berteknologi sel surya dan sistem otomatis thermostat untuk mengatur suhu rumah kaca hidroponik. Disamping itu, tim membuat digitalisasi produk-produk unggulan daerah dalam bentuk aplikasi dan katalog daring,” tutur Ari lagi.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR