Tahun 2019, Kekerasan Terhadap Anak di Kota Bandung Naik Dua Kali Lipat

Bandung Raya

Selasa, 26 November 2019 | 18:34 WIB

191126183704-tahun.jpg

humas kota bandung

TERCATAT ada 204 kasus kekerasan terhadap anak terjadi di Kota Bandung sepanjang tahun 2019, sejak Januari hingga November. Angka ini mengalami peningkatan dua kali lipat dari tahun sebelumnya.

"Jumlah tersebut bukan berarti baru terjadi tahun ini, tapi ada juga beberapa kasus yang terjadi tahun-tahun sebelumnya hanya baru dilaporkan," ujar Kepala Bidang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak (P2HA) pada DP3APM Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DP3APM) Kota Bandung, Aniek Febriani, di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukancana, Selasa (26/11/2019).

Pihaknya, ungkap Aniek, terus melakukan sososialisasi sehingga kini masyarakat sadar dan tahu tempat untuk mengadu. Pemkot Bandung saat ini sudah memiliki Puspaga (Tim Pusat Pembelajaran Keluarga) dan TP2TP2A (Tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak).

"Karena seringnya sosoalisasi sehingga jumlah laporan kekerasan pada anak semakin meningkat, sehingga kekerasan yang terjadi tahun-tahun sebelumnya dilaporkan. Masyarakat sekarang sudah tahu harus kemana melaporkannya," ungkapnya.

Menurutnya, kekerasan terhadap anak bisa berbentuk fisik, psikis, verbal ternasuk juga kekerasan seksual. Ia pun mengingatkan potensi kekerasan bisa dilakukan oleh orang terdekat sehingga harus diwaspadai.

"Orang tua mempercayai anaknya ke orang terdekat, padahal ini bisa jadi potensi kekerasan," ungkapnya.

"Misalnya oleh guru mengaji atau guru les. Orang tua sangat percaya anaknya dibimbing dan diajar, ternyata disitu juga ada potensi," sambungnya.

Beberapa waktu lalu, imbuhnya, pernah terjadi kasus anak-anak dikumpulkan oleh orang terdekat mereka dan ternyata diminta untuk melihat video tak etis. Kasus itu pun sudah ditangani.

Selain orang terdekat, kekerasan terhadap anak pun bisa diakibatkan karena gawai. Meski sifat gawai netral, namun penggunaan yang salah arah akan berpengaruh pada anak.

"Anak jadi sangat mudah mengakses hal-hal negatif. Sehingga sering menggunakan kata-kata kasar. Meski anak-anak berkata kasar sudah ada sejak dulu, tapi gadget ini bisa mempengaruhi," ungkap Anie.

Untuk penanganannya, ungkap Anie, dilakukan dengan dua cara yakni pencegahan melalui Puspaga dan penyelesaian kasus oleh TP2TP2A.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR