Petilasan Sastrawan dan Wartawan Jawa Ki Padmosusastro Jadi Rumah Budaya

Ragam

Minggu, 24 November 2019 | 21:12 WIB

191124211401-petil.jpg

Tok Suwarto

PETILASAN atau bekas tempat tinggal berupa rumah peninggalan keluarga sastrawan Jawa dan wartawan Jawa pertama asal Solo, almarhum Ki Padmosusastro, yang mangkrak tak terurus selama puluhan tahun akhirnya mulai ada tanda-tanda kehidupan baru.

Rumah kuno berarsitektur limasan itu, pada Sabtu (24/11/2019) malam diluncurkan sebagai "Rumah Budaya Ki Padmosusastro" yang dipadukan dengan hadirnya "Warung Ndesa" dan "Wedangan Ndesa" di pelataran mulai Minggu (25/11/2019).

Upaya membangkitkan kembali kehidupan di rumah petilasan Ki Padmosusastro yang kini berstatus sebagai cagar budaya, sebenarnya telah bertahun-tahun dirintis. Bahkan, budayawan Sardono W Kusumo bersama para seniman Kota Solo, dengan penuh semangat ingin memanfaatkan rumah warisan tokoh murid pujangga Keraton Surakarta, RNg. Ronggowarsito itu, untuk aktivitas budaya namun akhirnya kandas.

"Ndalem Padmosusastran akan kembali menjadi ruang untuk menghidupkan kultur yang mardiko atau merdeka dan marsudi atau menekuni budaya Jawa. Itu selaras dengan karakter almarhum Ki Padmosusastro yang di masyarakat Jawa dikenal sebagai Tiyang Mardiko ingkang Marsudi Kasusastran Jawa," tutur Fawarti Gendra Natautami alias Fafa, inisiator Rumah Budaya Ndalem Padmosusastro dan Warung Ndesa, kepada wartawan, Minggu (25/11/2019).

Rumah Budaya Ki Padmosusastro, menurut Fafa, akan digelar secara rutin berbagai aktivitas kebudayaan, seperti pentas seni, sanggar tari, pentas teater, musik, pemutaran film, diskusi kebudayaan dan pusat kajian budaya. Sedangkan kehadiran Warung Ndesa dengan sajian menu khas serba ndesa, bertujuan untuk menghidupi program-program kegiatan Rumah Budaya Ki Padmosusastro.

"Untuk menghidupi kebudayaan itu mahal. Kami mencoba menghidupinya dari warung dengan kuliner yang sangat khas desa," jelasnya.

Heri Priyatmoko, sejarawan yang meneliti sosok Ki Padmosusastro, menyebut sastrawan Jawa yang lahir di Kampung Sraten, Kota Solo pada 20 April 1843 yang semasa kanak-kanak bernama Suwardi itu, sebagai "anak zaman". Ki Padmosusastro yang berjiwa wartawan, semasa muda pernah memperdalam ilmu ke Leiden, Negeri Belanda dan bergaul dengan banyak tokoh nasional, seperti dokter Tjipto Mangunkusumo dan lain-lain.

Menurutnya, Ki Padmosusastro berbeda dengan sastrawan dan wartawan Jawa pada zamannya yang mengritik menggunakan simbol-simbol, almarhum mengritik menggunakan kata-kata lugas dan langsung.

"Bahkan, karya Ki Padmosusastro berbeda dengan karya gurunya, RNg Ronggowarsito yang banyak menggunakan simbol-simbol. Pada usia sekitar 43 tahun, almarhum memperdalam ilmu kesusastraan dan menerbitkan koran Djawi Kandha pada 1886. Sebagai anak zaman, Ki Padmosusastro merupakan orang Jawa yang memanfaatkan teknologi cetak untuk menerbitkan koran, bekerja sama dengan seorang Tionghoa, Tan Koen Swie dari Kediri. Karya-karyanya yang lugas dapat dilihat di koran tersebut yang tersimpan di perpustakaan nasional," ungkapnya.

Berdasarkan catatan sejarawan Heri Priyatmoko, Ki Padmosusastro yang pernah memimpin museum tertua Radyapustaka dengan nama Ngabehi Wirapustaka, termasuk sosok yang produktif menerbitkan karyanya.

Di antaranya karya-karya besarnya yang telah diterbitkan adalah, Serat Woordenlijst, Urapsari, Piwulang Nulis, Carakan Basa, Layang Carakan, Serat Pathibasa, Serat Campurbawur, Layang Bausastra, Layang Bauwarna, Rangsang Tuban, Serat Prabangkara dan lain-lain.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR