Divonis 3,5 Tahun di Kasus Meikarta, Billy Sindoro Ajukan PK

Meja Hijau

Rabu, 23 Oktober 2019 | 20:50 WIB

191023205205-divon.jpg

dok

Terdakwa Billy Sindoro mendengarkan pembacaan putusan vonis dari Majelis Hakim pada sidang dugaan kasus suap perizinan proyek Meikarta, di ruang sidang I Pengadilan Tipikor Bandung, Jln. L.L.R.E Martadinata, Kota Bandung, Selasa (5/3/2019).


SETELAH divonis 3,5 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Bandung pada 5 Maret 2019, Billy Sindoro mengajukan Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung. Mantan bos Meikarta itu Billy mengajukan PK dengan alasan mempunyai bukti baru (novum) terkait kasus yang melilitnya.

Pengajuan PK Billy dibenarkan oleh Panitera Muda Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Tipikor Bandung, Yuniar Rahmatullah. Ia mengaku kedatangan Billy bersama tim pengacaranya.

"Billy datang untuk menyampaikan upaya PK ke Mahkamah Agung," kata Yuniar di ruang kerjanya, Rabu (23/10/2019).

Berdasarkan berkas yang diterima, Billy mengajukan PK karena menemukan novum. Namun saat ditanya novum apa yang disampaikan Billy, Yuniar tidak mengungkapkannya. "Kalau itu sudah masuk materi perkara. Jadi nanti saja di persidangan ya," tambahnya.

Dijelaskan Yuniar, upaya PK yang dilakukan Billy prosesnya sama seperti kasus tipikor lainnya. Proses tersebut membutuhkan waktu dua minggu hingga persidangan.

"Jadi berkas kami proses dulu, masuk register upaya PK di Pengadilan Tipikor Bandung, selanjutnya menentukan komposisi majelis hakim yang akan menyidangkan," katanya.

Proses persidangan PK, lanjut Yuniar, biasanya tidak akan berlangsung lama. Nantinya output dari persidangan PK bukan putusan, karena putusan ada di tangan hakim MA. "Jadi setelah persidangan selesai maka berkasnya langsung dikirim ke MA," ujarnya.

Seperti diketahui, Billy Sindoro divonis 3,5 tahun penjara dan denda Rp 100 juta subsider 2 bulan kurungan penjara. Ia dinyatakan bersalah melakukan suap terhadap Bupati Bekasi, Neneng Hassanah Yasin, berkaitan dengan perizinan proyek Meikarta. Hakim menyebut uang yang mengalir sebesar Rp 16.182.020.000 dan SGD 270.000.

Vonis tersebut lebih rendah dari tuntutan jaksa yaitu hukuman 5 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan. Vonis hakim ditingkat pengadilan negeri tersebut dikuatkan oleh hakim di tingkat pengadilan tinggi.

Editor: Lucky M. Lukman

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR