Jalan Mendadak Biru, Suhu Capai 46 Derajat Celsius di Qatar Trotoar pun Ber-AC

Dunia

Minggu, 20 Oktober 2019 | 13:13 WIB

191020145128-jalan.jpg

dailymail


Salah satu negara terpanas di dunia Qatar saat ini mulai memasang pendingin udara. Tak hanya indoor tapi di luar ruangan. Ini dilakukan karena suhu yang sudah mencapai 115 Fahrenheit atau 46 Celsius. Tak itu saja, jalanan pun dicat biru. Alasan suhu udara juga yang membuat tuan rumah Piala Dunia 2022 ini memindahkan jadwal perhelatan bola sepak yang paling ditunggu itu ke musim dingin.

Tahun lalu Qatar juga memasang pendingin udara di stadion agar para penggemar sepak bola tak kepanasan. Kini suhu yang semakin tinggi membuat pemerintah menerapkan kebijakan serupa di jalanan. Pendingin berteknologi tinggi di pasang sepanjang trotoar dan pusat keramaian seperti bazar.

Jalanan membiru.

Teknologi pendingin yang sama diterapkan di stadion.

Dikutip dari DailyMail kemarin, pejabat publik di ibu kota Doha melalui Public Works Authority memerintahkan pengecatan salah satu jalur utama Abdullah bin Jassim Street. Berada tak jauh dari mal yang paling banyak dikunjungi, aspal di lajur ini kini berwarna biru. Pengecatan bertujuan untuk menurunkan temperatur aspal hingga 59-68 Fahrenheit. Warna gelap dipilih karena menyerap panas.

Cat yang digunakan di jalur sepanjang 250 meter ini pun tak sekadar menyapu aspal melainkan menggunakan jenis khusus dengan pigmen penahan panas dan tebal 1 mm. Direncanakan bakal digunakan selama 18 bulan, cat biru ini pun mengandung mikrosfer keramik yang didesain untuk mencegah radiasi infra merah.

Bukan cat biasa.

Saad Al Dosari dari tim rancang bangun menyebut, “Temperatur aspal hitam 20 Celsius lebih tinggi dari suhu sekitar karena warna hitam menarik dan memantulkan kembali panas.” Ia menambahkan Doha bukan yang pertama melakukan eksperimen ini. Los Angeles sebelumnya juga mengecat jalan dengan warna abu-abu yang diklaim menurunkan panas hingga 23 Fahrenheit.

Sementara itu pendingin udara yang digunakan memompa udara dingin ke sekitar trotoar melalui lubang pendingin dengan dibantu air yang dialirkan melalui paralon khusus. Udara di Qatar terbilang tinggi karena posisinya merupakan semenanjung di Persian Gulf dengan rata-rata suhu air mencapai 32,4 Celsius. Dan tanpa awan atau hujan di musim panas, suhu laut yang meningkat memicu kelembapan yang tinggi.

Doha bukan yang pertama mengecat jalan.

Pakar kimia-atmosfer dari Max Planck Institute Jerman, Josh Lelieveld mengatakan, “Area seperti semenanjung mengalami peningkatan suhu lebih cepat dari kawasan lain dan beberapa kota juga terdampak polusi serta efek pemanasan urban hingga semakin memperburuk cuaca.”

Selain memasang pendingin dan mengecat jalan, sejumlah kota juga berencana memasang penunjuk arah Utara yang akan membantu warga mencari datangnya angin dari utara yang secara alami bisa mengurangi efek panas.

Terbukti menurunkan panas.

Sedangkan menanggapi jalur jalan berwarna biru, Hossam Almeer, ilmuwan data dari Computing Research Institute mengaku mengapresiasi pemerintah Qatar yang menurutnya berpikiran terbuka dengan mencoba inovasi teknologi bagi negara-negara gurun. “Suhu dingin bisa menurunkan konsumsi listrik yang 70 persen datang dari penggunaan pendingin udara,” tambahnya.


Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR