Yusuf Mansur Berencana Membeli Perusahaan Unicorn

Bandung Raya

Selasa, 15 Oktober 2019 | 17:02 WIB

191015170321-yusuf.jpg

Irwina Istiqomah


KEHADIRAN financial technology (fintech) telah memberikan kemudahan bagi penggunanya dalam mengakses produk-produk keuangan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Juli 2019 mencatat terdapat lebih dari 11 juta pengguna fintech lending di Indonesia.

Jumlah akumulasi penyaluran pinjaman yang dikucurkan oleh fintech mencapai Rp 49,79 triliun atau meningkat 119,69 persen dibanding dengan bulan yang sama di tahun sebelumnya. Angka yang terus meningkat, baik dari sisi pengguna maupun pelaku industri fintech ini sejalan dengan target pemerintah dalam mewujudkan inklusi keuangan bagi masyarakat Indonesia dan mendorong roda perekonomian nasional.

Owner & Founder PayTren, Yusuf Mansur meniai bahwa perkembangan fintech Tanah Air tergolong mentah karena masih sebagai pemula. Hal ini pula membuat sektor fintech memiliki peluang yang sangat besar untuk terus dioptimalkan.

"Kuenya masih sangat banyak. Makanya, saya suka cerewet mengingatkan orang-orang Indonesia untuk belajar ilmu tentang fintech, pembayaran digital, dan e-Commerce. Karena ini memang sudah zamannya. Jangan sampai yang menikmati kuenya ini orang luar Indonesia," tuturnya di Kantor PT Mahligai Putri Berlian Bandung, Selasa (15/10/2019).

Disinggung mengenai perusahaan unicorn, Yusuf menyebut, PayTren tidak ditargetkan untuk menjadi unicorn. Namun, ia menginginkan agar pihaknya dapat membeli unicorn.

"Indonesia akan bergerak menjadi bangsa investor, bukan menjadi yang dibeli. Karena kan konotasinya menjadi unicorn itu ada yang beinvestasi. Era yang seperti ini sebetulnya saya kurang suka. Saya lebih suka beli," tuturnya.

Kendati demikian, lanjut Yusuf, bukan berarti menolak kehadiran investor. Menurutnya, poin penting yang harus ditekankan ialah kesetaraan dan keuntungan buat negara.

"Sekarang kita sedang fokus seputar sistem, sumber daya manusia, teknologi, dan perizinan. Semuanya kita lengkapi. Kita juga lagi menunggu izin dari Lembaga Keuangan Digital (LKD) dan izin co-branding untuk di daerah-daerah," jelasnya.

PayTren ditargetkan dapat hadir di 500 kabupaten/kota di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, pihaknya mengajak berbagai entitas untuk menjalin kerja sama.

"Saya bilang tidak perlu membuat yang baru kepada entitas yang ada, termasuk entitas besar seperti NU, Muhammadiyah, Persis, dan lembaga pendidikan pesantren. Jadi, tidak perlu lagi mengurus izin e-Money atau tranfer dana. Saya mau kerja sama dengan porsi sekecil-kecilnya yang penting kita bersatu," terangnya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR