PKN Hadirkan Desa Desa Peduli Budaya

Seni & Budaya

Jumat, 11 Oktober 2019 | 20:00 WIB

191011215834-pkn-h.jpg

PEKAN Kebudayaan Nasional (PKN) yang berlangsung 7 - 13 Oktober 2019 di Jakarta, menghadirkan desa-desa peduli budaya dalam pameran Desa Pemajuan Kebudayaan.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid mengingatkan desa-desa itu dihadirkan untuk menjadi contoh bagi desa lain melakukan yang sama dalam memajukan kebudayaannya.

"Ini adalah upaya untuk mendorong daerah lainnya melakukan upaya yang sama, terlebih khusus bagi 340 Kabupaten/Kota dan 34 Provinsi yang telah membuat Pokok-Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD)," kata dia di Jakarta, Jumat (11/10/2019).

Desa Perintis Pemajuan Kebudayaan merupakan kawasan pedesaan yang ingin mempertahankan kebudayaannya dan sedang berusaha memberikan makna baru atas keberlangsungan hubungan-hubungan warga dengan alam hari ini.

Dalam pameran tersebut pengunjung dapat melihat Desa Kutuh, Kabupaten Badung, Bali yang kerap memikirkan budidaya pohon kelapa, karena janur adalah bagian yang tak terpisahkan dari upacara adat Bali.

Desa Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat menunjukkan bagaimana masyarakatnya mengandalkan tanaman bambu sebagai cadangan potensial bahan baku utama untuk berbagai produk seni kriya, musik hingga rumah adat.

Kemudian Desa Bumiayu, Jawa Tengah menunjukkan bagaimana masyarakatnya menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Candi Bumiay. Mereka menghidupkan dari Tari Dundang dan Tenun Kain Tabak sebagai kesenian yang berselaras dengan alam.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Desa Alue le Mirah, Kabupaten Aceh Utara. Mereka berupaya memperkuat seni Rapa’i Pasee, Dalail Khairat dan Peusijuek yang menandakan budaya Islam agraris yang nerupakan bagian dari peninggalan masa Samudera Pasai.

Hilmar nenjelaskan ini barulah langkah awal dari pencarian yang harus berlangsung terus menerus untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan kerangka acuan pembangunan dari berbagai proyeksi.

Pemajuan Kebudayaan dari ragam budaya yang tersebar dan masih hidup, bertahan dan terus berjuang di pedesaan-pedesaan di seluruh negeri.  

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR