Penurunan Harga Bahan Makanan Mendorong Deflasi Kota Tasikmalaya

Daerah

Jumat, 11 Oktober 2019 | 16:47 WIB

191011162745-penur.jpg

Septian Danardi


KEPALA Perwakilan Bank Indonesia Tasikmalaya, Heru Saptaji menjelaskan, pada bulan September 2019, Indeks Harga Konsumen (IHK) Tasikmalaya tercatat mengalami deflasi 0,38% (mtm), membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi 0,04% (mtm).

Dengan perkembangan tersebut, inflasi tahun berjalan Kota Tasikmalaya September 2019 adalah 1,39% (ytd).

Adapun secara tahunan, Kota Tasikmalaya mengalami inflasi 1,96% (yoy), terendah ke-2 di Jawa-Bali. Sepanjang tahun 2019 ini, Kota Tasikmalaya tercatat mencapai inflasi terendah di Jawa pada bulan Januari, Maret, dan Mei sampai Juli.

Menurutnya, Deflasi di Kota Tasikmalaya terutama didukung penurunan harga kelompok bahan makanan sebesar -2,42% (mtm) yang memberikan andil -0,44% terhadap inflasi IHK, terendah dalam 3 tahun terakhir.

"Komoditas utama pendorong deflasi adalah normalisasi harga cabai rawit (andil -0,088%) dan cabai merah (andil -0,056%) setelah memasuki masa panen pada akhir Agustus dan masih berlangsung sampai September sehingga pasokan kembali tercukupi setelah 3 bulan sebelumnya mengalami keterbatasan supply," kata Heru kepada wartawan di Kantor BI Tasikmalaya, Jumat (11/10/2019).

Selain itu, kata Heru, harga bawang merah masih menurun sehubungan dengan panen yang masih berlangsung sejak bulan Agustus di daerah sentra produksi sehingga pasokan melimpah.

Selanjutnya, sejalan dengan kondisi nasional, harga daging dan telur ayam juga mengalami penurunan sehubungan dengan tercukupinya pasokan di saat permintaan cenderung menurun.

Di sisi lain, lanjut Heru, tekanan utama inflasi berasal dari kenaikan biaya kursus komputer sebesar 20,98% (mtm) dengan andil 0,018% dan bimbingan belajar yang meningkat 4,75% (mtm) dengan andil 0,016%.

Dikatakan Heru, Perkembangan harga pada 2 komoditas tersebut secara historis mengalami kenaikan 1 kali per tahun pada bulan Agustus atau September berkenaan dengan masuknya periode tahun ajaran baru.

Selanjutnya inflasi didorong oleh kenaikan harga emas perhiasan (andil 0,014%) yang turut didorong oleh tren kenaikan harga emas dunia.

"Pada bulan Oktober 2019 Kota Tasikmalaya diperkirakan kembali mengalami deflasi yang masih didukung oleh normalisasi harga cabai merah, cabai rawit, dan cabai hijau, serta daging ayam dan bawang merah," katanya.

Namun, di sisi lain, ungkap Heru, tekanan inflasi juga diperkirakan berasal dari bahan bangunan seperti batu dan pasir sehubungan dengan perkiraan peningkatan pembangunan investasi pada triwulan III karena mengejar penyelesaian pembangunan tahun 2019.

"Selain itu, potensi tekanan inflasi dari risiko kenaikan harga emas perhiasan juga masih dapat terjadi," katanya.

Editor: Dadang Setiawan

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR