Bahaya Rokok bagi Jamaah Haji

Haji

Jumat, 11 Oktober 2019 | 15:11 WIB

191011151332-bahay.jpg

ISTIMEWA

ADA sebanyak 3.451 jamaah haji asal Indonesia yang dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) pada musim haji tahun 1140/2019 ini. Dari jumlah tersebut sebanyak 2.140 jamaah dirawat di Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) daerah kerja Mekah, dan 1.401 jamaah haji dirawat di RS Arab Saudi yang berlokasi di kota Mekah.

“Ada tiga diagnosa penyakit yang paling banyak diderita oleh jemaah Indonesia, yakni gagal jantung, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan infeksi paru (pneumonia) yang mencapai 1.318 jamaah atau 37%-nya” papar petugas haji non-kloter di Klinik Kesehatan Haji Daker Mekah, Dr. Dini Ristiati, SP.Jp., belum lama ini di Bandung.

PPOK adalah penyakit paru obstruktif kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran nafas yang bersifat progresif non reversible atau reversible parsial. Faktor yang paling berperan dalam menimbulkan PPOK adalah kebiasaan merokok aktif maupun pasif yang dilakukan jemaah, bahkan kebiasaan buruk merokok tersebut dilakukan jamaah beberapa saat sebelum dirawat di RSAS.

Dini yang juga dokter spesialis Jantung di Rumah Sakit Ujung Berung mengatakan, aktivitas fisik yang relatif berat selama berhaji lalu udara di Arab Saudi yang relatif panas dan kering, serta kurang minum membuat kondisi jemaah haji yang memiliki riwayat kelainan paru atau jantung, lebih mudah mengalami kekambuhan dan dirawat di KKHI bahkan dirujuk ke RSAS untuk penanganan lebih lanjut.

Kebiasaan merokok aktif maupun pasif saat ini masih menjadi masalah utama dalam gaya hidup tidak sehat yang dilakukan masyarat Indonesia termasuk jemaah haji. Upaya pemerintah dalam menurunkan angka kebiasaan merokok baik melalui iklan layanan masyarakat elektronik maupun cetak, tampaknya belum memberikan hasil yang signifikan dalam menurukan angka kebiasaan merokok.

“Karena itu perlu upaya yang lebih aktif dan berkesinambungan guna menghentikan kebiasaan merokok jamaah haji. Salah satu upayanya adalah penyuluhan aktif terhadap calon jemaah haji mengenai bahaya merokok sehingga diharapkan bisa segera menghentikan kebiasaan merokok tersebut,” ujar Dini.

Menurut Dini, penyuluhan berisikan tentang pentingnya menghentikan kebiasaan merokok perlu disampaikan kepada para jemaah sebagai upaya menjaga dan meningkatkan kesehatan paru dan jantung, agar ibadah haji para jemahaan bisa berjalan lancar dan sempurna. Perlu disampaikan juga kepada jemaah haji yang mengalami sakit paru dan jantung agar tetap mengkonsumsi obat, latihan fisik yang teratur sesuai dengan kemampuannya serta menghentikan kebiasaan merokok untuk mencapai kesehatan jantung dan paru yang prima selama menjalankan ibadah haji.

Ibadah haji adalah ibadah fisik, karenanya kesehatan jamaah haji khususnya kesehatan jantung dan paru harus sangat diperhatikan oleh jamaah haji maupun petugas kesehatan haji sehingga para calon jemaah haji dapat melakukan ibadah haji dengan lancar, tanpa kejadian sakit yang berat dan dapat kembali ke tanah air dengan kondisi sehat walafiat. Haji sehat haji mabrur.

Kloter terakhir jemaah haji tahun 1140 H/2019 yang telah pergi meninggalkan tanah suci melalui Madinah pada tanggal 14 September lalu. Namun ketika itu masih ada beberapa orang jemaah haji yang dirawat di RSAS maupun di KKHI daerah kerja Mekah karena penyakit paru, stroke, kelainan jantung dan penyakit lain.

Pasien yang tidak memungkinkan untuk diterbangkan ke Indonesia salah satunya karena menggunakan alat bantu nafas/ventilator, trakeostomi dan beberapa jamaah lainnya yang masih tidak sadar dan belum stabil untuk dipulangkan. Meskipun begitu jamaah haji yang tertinggal di Arab Saudi tetap dipantau kondisinya dan diurus kepulangannya secara bertahap oleh tim petugas haji yang masih berada di Arab Saudi.

Editor: Endan Suhendra

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR