Ilmuwan pun Kaget, Es Kutub Mencair Laut Siberia Timur Mendidih

Ragam

Jumat, 11 Oktober 2019 | 14:22 WIB

191011142149-ilmuw.jpg

dailymail


Sekelompok ilmuwan yang berjumlah 80 orang melakukan perjalanan ke Siberia untuk menyelidiki efek mencairnya lapisan es di kawasan Kutub Timur, belum lama ini. Hasilnya mereka mendapati temuan yang mengejutkan: lautan tampak mendidih.

Dikutip dari DailyMail kemarin, pemandangan  mengejutkan itu dipicu  gelembung metana yang naik dari dasar laut. Para peneliti mengatakan konsentrasi metana di Laut Siberia Timur antara enam dan tujuh kali lebih tinggi dari rata-rata global.

Lautan pun mendidih.

Danau dengan metana yang membeku di Alberta, Kanada, beberapa waktu lalu.

Menurut laporan Newsweek, para ilmuwan terkejut dengan penemuan tersebut. "Ini sumber air gas paling kuat yang pernah aku lihat," kata Igor Semiletor, ketua peneliti dari Universitas Politeknik Tomsk. "Tidak ada yang pernah mencatatkan hal seperti ini sebelumnya."

Proyek dimulai setelah para peneliti mengamati tingkat metana yang  mengalami peingkatan di seluruh wilayah. Tim sains mengemukakan peningkatan metana berasal dari lapisan es yang mencair dan menyebar ke bagian-bagian Siberia ketika suhu di kawasan itu naik.

Saat udara menghangat metana pun "terbebaskan".

Tahun 2017, para ilmuwan Rusia menyelidiki kawah besar di wilayah Arktik Siberia yang kemunculannya disebabkan oleh pembentukan gelembung metana yang sangat besar di bawah tanah. Gelembung akan terbakar atau meledak hingga  menciptakan kawah yang sangat besar.

Sebelumnya  danau di Alberta, Kanada terdokumentasi sangat kaya metana sehingga udara di atas permukaannya dapat terbakar saat dinyalakan dengan api. Namun lapisan bawahnya  gas membeku dalam gelembung padat yang tersuspensi di dalam air. Para peneliti mengaitkan kelebihan metana ini dengan perubahan iklim dan mengatakan peningkatan suhu global sebesar 1 derajat Celsius akan terjadi.

Frozen methane.

Apa itu gas metana?

Emisi metana manusia adalah penyumbang terbesar kedua pemanasan global setelah karbon dioksida. Studi baru-baru ini menunjukkan emisi metana geologis manusia kemungkinan 25 persen lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Meskipun tidak seterkenal karbon dioksida, metana merupakan gas rumah kaca yang jauh lebih kuat sehingga tingkat kenaikannya menjadi  kontributor penting bagi pemanasan global.

Ada ketidakpastian mengenai sumber emisi metana manusia dan apakah telah berubah dari waktu ke waktu. Tetapi penelitian tersebut juga menemukan pengeboran minyak dan ekstraksi gas yang juga menjadi pemicu kenaikan tingkat metana atmosfer Bumi baru-baru ini.

Noted.


Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR