Tahun 2030, Depresi Jadi Pembunuh Nomor Dua di Dunia

Bandung Raya

Kamis, 10 Oktober 2019 | 20:00 WIB

191010200225-tahun.jpg

Irwina Istiqomah


STAF Khusus Gubernur Bidang Kesehatan, Siska Gerfianti menambahkan, urusan kejiwaan atau kesehatan mental merupakan prioritas pembangunan. Hal ini berkaitan dengan sumber daya manusia unggul yang sehat fisik dan mental.

"Kita menganggap kesehatan jiwa penting sekali. Angka keinginan bunuh diri naik belakangan ini, apalagi dari kalangan mahasiswa. Ini mengkhawatirkan untuk sumber daya manusia kita karena begitu rentan," jelasnya dalam acara Jabar Punya Informasi (Japri) di Gedung Sate, Kamis (10/10/2019).

Menurutnya, ketika keinginan bunuh diri menyerang generasi muda merupakan sebuah bencana. "Kita memasuki satu tatanan dunia baru. Penyakit tidak menular ini berbahaya. Tahun 2030 nanti depresi menjadi pembunuh nomor dua di dunia setelah kardiovaskular. Sekarang anak-anak kecanduan gadget dengan medsos dan games. Mereka sudah stres sejak umur lima tahun," tururnya.

Direktur Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat, Eli Marliyani menyebut, masalah kejiwaan bisa mengancam anak usia 5-8 tahun. Persentase orang dengan masalah kejiwaan (ODMJ) lebih besar ketimbang orang dengan gangguan kejiwaan (ODGJ) yakni mencapai 90,6 persen.

"Kalau untuk ODGJ biasanya orang itu punya pemikiran tidak realistik atau autistik. Penderita memiliki dunianya sendiri yang tidak sama dengan yang kita pikirkan," ujarnya.

Penyebab gangguan jiwa tidak murni satu faktor karena terdiri dari biologis, psikologis, spiritual, dan sosial. Sedangkan ODMK, penderita memiliki pemikiran sama dengan orang pada umumnya.

"Pemikirannya realistik, tetapi mengalamo gangguan mood atau perasaan seperti cemas, sedih, dan ketakutan," katanya.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR