Picu Gelombang Protes di Bangladesh, Emosi Gara-gara Sehelai Rambut pada Nasi Suami Gunduli Istri

Crime Story

Rabu, 9 Oktober 2019 | 16:34 WIB

191009163420-langs.jpg

dailymail


Seorang pria berusia 35 tahun asal Bangladesh terpaksa dicokok aparat. Warga Joypurhat itu berurusan dengan polisi gara-gara tak bisa menahan emosi. Tak terima mendapati sehelai rambut dalam sarapan yang disajikan, ia pun menyasar sang istri. Suami bernama Bablu Mondal itu menggunduli istrinya yang hanya bisa pasrah.

Pejabat kepolisian Shahriar Khan membenarkan kasus ini. Dikutip dari DailyMail kemarin, Bablu marah besar saat melihat rambut di antara nasi yang hendak dimakannya dengan susu. “Dia marah saat melihatnya dan menyalahkan istrinya. Dia kemudian membawa pisau dan mencukuri rambut istrinya dengan paksa,” katanya.

Picu gelombang protes.

Bukan kasus pertama.

Kini akibat perbuatannya Bablu  didakwa atas tuduhan “secara sukarela menyebabkan luka yang memedihkan”, sebuah pelanggaran yang dijatuhi hukuman maksimal 14 tahun penjara. Dia juga juga didakwa dengan pasal “menghinakan pasangan”.

Insiden yang menimpa korban yang baru berusia 23 tahun ini memicu kemarahan kelompok hak asasi manusia. Mereka menuntut keadilan bagi pelaku kekerasan terhadap perempuan, termasuk korban yang tidak disebutkan namanya. Mereka menyebut insiden ini menandai peningkatan aksi penindasan kaum Hawa di Bangladesh, meskipun  undang-undang untuk melindungi mereka dari pelecehan dan kekerasan seksual sudah diberlakukan.

Aksi teatrikal memperingati kematian korban kekerasan yang dibakar hidup-hidup.

Menurut kelompok HAM setempat Ain atau Salish Kendra, tahun ini tingkat rata-rata pemerkosaan dalam enam bulan pertama tahun ini tiga kasus per hari. Organisasi ini mengatakan 630 wanita digagahi antara Januari dan Juni, 37 tewas dan  tujuh lainnya berakhir bunuh diri.

Sebelumnya pada bulan April, protes besar-besaran pecah setelah siswa  berusia 19 tahun dibakar hingga mati atas perintah kepala sekolah akibat melaporkan pelecehan seksual yang dilakukannya. Nusrat Jahan Rafi meninggal pada 10 April, empat hari setelah disiram minyak tanah dan dibakar di atap sekolahnya di kota Femi, sebelah selatan ibu kota Dhaka.

Nusrat Jahan Rafi.

Polisi menangkap 15 orang terkait kasus yang mengguncang Bangladesh ini. Tujuh di antaranya dipercaya terlibat langsung. Laporan BBC, tragedi berawal pada 27 Maret ketika Rafi mengatakan kepala madrasah memanggilnya ke kantornya, menurut BBC.

Dia mengklaim sang kepala sekolah menggerayanginya. Tak terima ia berhasil  kabur dan mendatangi kantor polisi di hari yang sama. Dalam interogasi yang direkam melalui video, Rafi memberi rincian mengenai dugaan serangan yang kemudian bocor ke media lokal tersebut. Tuduhan tersebut memicu reaksi. Salah satunya rapat siswa laki-laki di sekolah yang mendukung pihak kepala sekolah dan berakhir dengan eksekusi atas dirinya.

Editor: Mia Fahrani

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR