Pengungsi Asal Garut Sempat Menyelamatkan Diri ke Makodim Wamena

Daerah

Selasa, 8 Oktober 2019 | 09:20 WIB

191008092205-pengu.jpg

dok

ilustrasi


SAAT ini sejumlah warga Kabupaten Garut masih jadi pengungsi di Papua. Rata-rata warga Garut tersebut telah tinggal di Wamena Papua selama lebih dari setahun. Beberapa di antaranya merupakan penjual gorden dan pemasang "wallpaper".

Sarif (30), salah seorang warga Garut yang menjadi pengungsi di Papua menyebutkan ia dan warga Garut lainnya sudah sekitar dua minggu mengungsi di Jayapura. Saat ini ada 16 warga Garut lainnya yang juga ditampung di Dinas Sosial Jayapura.

Sarif merupakan warga Kampung Cimanggah, Desa Banjarsari, Kecamatan Bayongbong. Ia berhasil mengungsi ke Jayapura setelah sempat terjegal selama satu minggu di Wamena.

Kerusuhan yang terjadi di Wamena saat itu benar-benar sangat mencekam dan membuat mereka ketakutan.

"Untung kami masih berhasil menyelamatkan diri. Saat kerusuhan kami langsung mengungsi ke Makodim Wamena saat itu," tutur Sarif.

Setelah sempat mengungsi di Makodim Wamena, ia dan warga lainnya berusaha untuk bisa keluar dari daerah tersebut mengingat kondisi keamanan yang masih sangat rawan. Setelah sempat tertahan selama dua hari di bandara, Sarif akhirnya mendapatkan pesawat yang menuju Jayapura.

"Saat ini saya sudah berada di Jayapura dan alhamdulillah situasi keamanan di sini jauh lebih baik dan saya merasa aman di sini. Namun saya tetap ingin segera pulang ke Garut," katanya seperti dikutip wartawan Kabar Priangan, Aep Hendy S.

Sarif mengungkapkan, saat di bandara Wamena terdapat ribuan orang yang juga ingin berangkat ke Jayapura. Sebagian besar pengungsi ketakutan berada di Wamena.

Sarif bekerja sebagai pemasang interior rumah. Seperti memasang wallpaper dan mengecat dinding. Saat kerusuhan terjadi, dirinya bersama sejumlah teman-temannya baru saja bersiap-siap mau bekerja yakni berkeliling menawarkan jasa pemasangan interior rumah.

Beruntung saat itu Sarif dan teman-temannya sesama orang Garut masih bisa menyelamatkan diri dari aksi penyerangan dan penganiayaan. Namun demikian ada rekan kerjanya yang berasal dari Sukabumi yang sempat jadi korban penganiayaan.

"Teman saya yang dari Sukabumi itu sempat dibacok di bagian kepalanya hingga terluka. Untung dia masih kuat berlari dan kabur sehingga nyawanya masih bisa terselamatkan," ujar Sarif.
 
Menurut Sarif, hingga Senin (7/10/2019) ada sebanyak 17 warga Garur yang masih berada di Jayapura dan menunggu kepastian pemulangan ke kampung halaman.

"Keinginan kami saat ini hanyalah secepatnya dibawa pulang ke kampung halaman. Saya dan juga teman-teman dari Garut sangat trauma sehingga tak ingin lagi kembali ke Wamena karena kondisinya sudah benar-benar kacau," katanya.

Editor: Brilliant Awal

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR