Pemajuan Kebudayaan di Jabar Masih Sebatas Sektoral

Seni & Budaya

Rabu, 2 Oktober 2019 | 11:51 WIB

191002115158-pemaj.jpg

SUDAH satu tahun berjalan undang undang pemajuan kebudayaan, namun di Jabar khususnya di Kota Bandung belum terlihat riak-riaknya. Sebenarnya hampir di setiap daerah sudah ada embrio even Kebudayaan namun baru sebatas sektoral, seperti di Garut dengan festival musiknya, Karawang dengan festival goyang Karawang, Bandung Barat dengan Festival Cihideung dan perang tomat.

"Namun sayang di Kota Bandung sebagai ibu kota Jabar nya, hampir tidak ada even Kebudayaan yang fenomenal yang bisa menarik para wisatawan," ungkap Rektor Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Hj. Een Herdiani, Rabu (2/10/2019).

Oleh karena itu kata Een, pihaknya akan menggelar even Festival Kesenian Indonesia di Kota Bandung tahun 2020. Event tersebut kata Een, akan dikerjasama dengan pemerintah Disbudpar Kota Bandung dan Disparbud Jabar). Een berharap event tersebut bisa menjadi kalender even tetap Pemerintah Kota Bandung

"Kita akan kerjasama dengan semua pihak sehingga festival Kesenian Indonesia ini menjadi salah satu ikon Kota Bandung," katanya.

Een juga menyebutkan, kurang bergeliatnya pemajuan kebudayaan di Kota Bandung salah satunya jargon atau tab line Rebo Nyunda sepertinya terus melempem. Bahkan kata Een, implementasi Rebo nyunda masih sebatas wacana dan belum dicoba dihidupkan kembali.

"Di ISBI sendiri, setidaknya program berbahasa dan berpakaian daerah masih terus terlaksana," Katanya.

Menurut Rektor ISBI ini, pihak kampus masih maksanakan satu hari berbasa sunda untuk semua civitas akademika dan karyawan ISBI dalam satu minggu sehari. Dalam kegiatan tersebut, Een berharap karyawan dan mahasiswa UPI Bandung mengenakan kain kebaya untuk perempuan, pangsi, kampret maupun komprang untuk laki-laki.

"Khusus untuk dosen laki laki dan jajaran manajemen kampus bisa mengenakan kain beskap agar terlihat lebih elegan dan berwiBwa," ujarnya. Menurut Een, penggunaan beskap ini bukan untuk pamer atau membeda-bedakan.

"Intinya hal ini sebagai upaya pelestarian tidak ada upaya ke arah lai," tadasnya.

Dikatakan Een, dari 10 poin kemajuan Kebudayaan tidak bisa diimplementasikan secara sekaligus, tapi harus bertahap. Menurutnya, pemerintah kabupaten kota dan perguruan tinggi di Jabar turut andil dalam implementasian Undang -undang pemajuan kebudayaan tersebut.

"Semua stake holders harus terlibat, baik kalangan perguruan tinggi, swasta, komunitas dan sebagainya. Tidak mungkin pemerintah mengerjakan semuanya, perlu ada sinargitas semua pihak," katanya.

Menjelang dies natalis ke-51 ISBI Bandung, Een pun akan lebih memberdayakan sarjana lulusan ISBI di masyarakat maupun pemerintahan. Menurutnya, keberadaan sarjana ISBI Bandung masih kurang dimanfaatkan terutama dikalangan pemerintahan.

"Sumber Daya manusia (SDM) lulusan ISBI Bandung sudah siap memajukan Kebudayaan di Jabar. Makanya kami pun melakukan pendekatan ke BKd agar ada forsi untuk sarjana seni (ISBI) di pemerintahan. Selama ini tidak ada formasi untuk sarjana seni, karena pemerintahnya tidak tahu soal ISBI atau sarjana seni, " paparnya.

Sebagai bentuk kepedulian dan sinergitas ISBI Bandung kepada masyarakat, dalam peringatan Dies Natalis tahun ini diselenggarakan kegiatan sosial berupa sunatan massal yang kemudian diarak dengan Helaran Sisingaan.

Dimeriahkan juga dengan lomba menggambar bagi tingkat TK & SD se-Bandung Raya, pertunjukan Pencak Silat dengan aksi 500 Pendekar Pencak Silat upaya Pencak Silat Indonesia diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Bangsa.

Sebagai penutup pada hari pertama, kolaborasi musik dari 5 (lima) Negara, bioskop keliling dan pertunjukan Wayang Golek dengan Lakon “Kumbakarna Gugur” dari Ki Dalang Adhi Konthe Kosasih Sunarya Putu Giri Harja 2.  

Pada tanggal 7 dan 8 Oktober 2019, akan digelar acara Bandung Dance Festival (BDF) dengan rangkaian acara Talkshow “Geliat Tari di Bumi Tradisi”, Workshop Ketubuhan dengan Dr. Tony Supartono, M.Sn. dan Moch. Wail Irsyad, S.Sn. Dilanjutkan dengan Pertunjukan Karya Tari dari 27 Komunitas dan  acara Prosesi Simbolik Purna Bakti ISBI Bandung.

Sebagai rangkaian Dies Natalis Ke-51 tahun, Festival Film Budaya Nusantara (FFBN) 2019 yang merupakan kerjasama antara Prodi TV dan Film Fakultas Budaya dan Media dengan Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang Film) Kemdikbud akan menggelar hasil restorasi film “Bintang Ketjil” dan “Tiga Dara” pada tanggal 8 dan 9 Oktober 2019 di CGV Metro Indah Mall.

Workshop sinema, pemutaran karya-karya film peserta FFBN 2019 dilaksanakan pada tanggal 17 dan 18 Oktober 2019 dan yang telah lolos seleksi akan diberi penganugerahan pada malam puncak tanggal 19 Oktober 2019.

Editor: Kiki Kurnia

Bagikan melalui:

BERITA LAINNYA

KOMENTAR